Gambaran Hari Kiamat pada Surat An-Naba dan Fadhilah Membacanya

Minggu, 02 Oktober 2022 - 07:00 WIB
Gambaran Kiamat dalam Surat An-Naba, gunung-gunung yang tadinya kokoh dijalankan oleh Allah dengan terlebih dahulu dihancur-luluhkan lalu diempaskan menjadi abu. Foto ilustrasi/Ist
Banyak surat Al-Qur'an menceritakan peristiwa Hari Kiamat, salah satunya Surat An-Naba yang artinya berita besar. Pada surat tersebut, Allah mengingatkan kaum musyrik tentang kebenaran hari kebangkitan (Kiamat).

Selain hari Kebangkitan, Surat An-Naba juga menceritakan karunia dan kebesaran Allah, kabar gembira bagi orang-orang yang beriman dan ancaman bagi orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Allah.

Surat An-Naba terdiri 40 ayat (golongan surat Makkiyah) diturunkan setelah Surat Al-Ma'aarij. Dinamai An-Naba artinya berita besar diambil dari perkataan An-Naba pada ayat 2 surat ini. Surat ke-78 Al-Qur'an ini juga dinamai "Surat 'Amma Yatasaa Aluun" yang diambil dari ayat pertama surat ini.

Ketika Nabi Muhammad SAW diutus, kaum kafir Mekkah sering bertanya-tanya tentang diri Nabi dan Kitab Al-Qur'an yang dibawanya. Surat An-Naba diturunkan karena sikap kaum kafir Mekkah yang sering bertanya-tanya tentang hari Kebangkitan.

Di antara mereka ada yang mengingkarinya dan beranggapan bahwa setelah mati habislah urusan mereka. Tidak ada lagi kebangkitan setelah mati. Mereka berpendapat manusia itu lahir ke dunia lalu mati dan ditelan bumi.

Tidak ada yang membinasakan mereka kecuali masa atau waktu saja. Di sisi lain, ada yang berpendapat bahwa yang dibangkitkan itu hanya arwah saja dan bukan jasad yang telah habis dimakan bumi.

Sehubungan dengan sikap orang-orang kafir itu, Allah menurunkan surat ini untuk menolak keingkaran mereka. Allah menegaskan kekuasaan-Nya membangkitkan mereka setelah mati, walaupun mereka telah menjadi tanah.

Berikut gambaran Kiamat pada Surat An-Naba :

إِنَّ يَوْمَ الْفَصْلِ كَانَ مِيقَاتًا (17) يَوْمَ يُنْفَخُ فِي الصُّورِ فَتَأْتُونَ أَفْوَاجًا (18) وَفُتِحَتِ السَّمَاءُ فَكَانَتْ أَبْوَابًا (19) وَسُيِّرَتِ الْجِبَالُ فَكَانَتْ سَرَابًا (20) إِنَّ جَهَنَّمَ كَانَتْ مِرْصَادًا (21) لِلطَّاغِينَ مَآبًا (22) لَابِثِينَ فِيهَا أَحْقَابًا (23) لَا يَذُوقُونَ فِيهَا بَرْدًا وَلَا شَرَابًا (24) إِلَّا حَمِيمًا وَغَسَّاقًا (25) جَزَاءً وِفَاقًا (26) إِنَّهُمْ كَانُوا لَا يَرْجُونَ حِسَابًا (27) وَكَذَّبُوا بِآيَاتِنَا كِذَّابًا (28) وَكُلَّ شَيْءٍ أَحْصَيْنَاهُ كِتَابًا (29) فَذُوقُوا فَلَنْ نَزِيدَكُمْ إِلَّا عَذَابًا (30)

Artinya: "Sesungguhnya Hari Keputusan (kebangkitan) adalah suatu waktu yang ditetapkan. Yaitu hari (ketika) sangkakala ditiup, lalu kamu datang berbondong-bondong (berkelompok-kelompok). Dan dibukalah langit, maka terdapatlah beberapa pintu. Dan gunung-gunung pun dijalankan sehingga menjadi fatamorgana. Sungguh neraka Jahanam itu (sebagai) tempat mengintai (bagi penjaga yang mengawasi isi neraka). Menjadi tempat kembali bagi orang-orang yang melampaui batas. Mereka tinggal di sana dalam masa yang lama. Mereka tidak merasakan kesejukan di dalamnya dan tidak (pula mendapat) minuman. Selain air yang mendidih dan nanah. Sebagai pembalasan yang setimpal. Sesungguhnya dahulu mereka tidak pernah mengharapkan perhitungan. Dan mereka mendustakan ayat-ayat Kami. Dan segala sesuatu telah Kami catat dalam suatu kitab. Karena itu, rasakanlah! Maka tidak ada yang akan Kami tambahkan kepadamu selain azab." (QS An-Naba ayat 17-30)
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!