Kisah Sedih dan Takjub Nenek Nabi Isa Alaihis Salam

Minggu, 23 Oktober 2022 - 11:23 WIB
Hari-hari berlalu, bahkan tahun demi tahun dia menunggu terealisasinya harapan ini. Bahkan ia sampai kelelahan menunggu, merasakan pahitnya putus asa dan terkadang iri hati dengan pohon yang berbuah banyak dan wanita yang memiliki anak.

Hanna menyerahkan urusan pada Rabb langit dan bumi. Bertawassul kepada-Nya dalam ketundukan dan kekhusyu'an, dan bernadzar kepada Allah bahwa jika dia memiliki anak maka anaknya akan disedekahkan kepada Baitul Maqdis untuk mengabdi menjadi pembantu di sana.

Hanna menginginkan cukuplah dia melahirkan. Demi untuk menenangkan dan memenuhi kegembiraan hatinya. Atas harapannya itu, kemudian Allah mengabulkan doanya dan memberikan permintaannya.

Ada janin yang bergerak di perutnya. Hanna pun hamil. Dan, setelah pasti kehamilannya, wanita ini bernadzar akan menjadikan anaknya kelak untuk berkhidmat di Masjidil Aqsha atau Baitul Maqdis.

Ketika berbinar dengan angannya, mempersiapkan kelahiran anaknya, dan mengharapkan kehidupan untuknya, tiba-tiba waktu mengubah kenyataan. Mengubah kegembiraan menjadi kesedihan, kebahagiaan menjadi kesusahan. 'Imran sang suami meninggal dunia.

Kesedihan Hanna sangat mendalam ketika ditinggal 'Imran. Air matanya mengalir deras. Hanna yang mendambakan suami bercanda dengan anak-anaknya dalam keceriaan, akhirnya pupus. Qadha' (kehendak) Allah itu pasti. Dan tidak ada yang mampu menolak qadha'nya Allah Subhanahu wa Ta'ala.

Waktu terus berjalan. Hanna pun melahirkan. Tapi Qadarullah, yang terlahir adalah seorang wanita. Bukan laki-laki yang akan menunaikan nadzar untuk mengabdi pada Baitul Maqdis. Padahal wanita tidak layak untuk pengabdian tersebut

Hanna pun tertimpa mendung kesedihan yang teramat sangat. Ia menampakkan kesedihannya karena rasa putus asa. Akhirnya Hanna menamakan anaknya dengan Maryam. Dia meminta kepada Allah untuk menjaga, melindungi, dan memberikan pengasuhan kepada Maryam dengan selalu memberikan inayahNya.

Hati Hanna hancur. Wanita yang dikuasai kesedihan. Tidak bisa menunaikan nadzar. Musibah kerap melanda, hingga merasa sempit hati. Setelah bertahun-tahun menunggu momongan, ketika ada kabar dia hamil, suaminya pun meninggal. Kemudian anak yang dilahirkan pun tidak sesuai dengan yang dinadzarkan. Anaknya seorang wanita. Kesedihan memuncak di jiwa Hanna.

Hingga akhirnya Allah Ta'ala mengasihi kelemahannya. Allah terima keluhan Hanna. Menerima hibahnya yang berupa anak perempuan. Allah memberikan keridhaan bahwa Maryam digunakan sebagai pemenuhan nadzar-nya. Allah menyempurnakan nikmatNya.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!