Buya Hamka : Agama Adalah Cinta
Senin, 14 November 2022 - 16:37 WIB
Haji Abdul Malik Karim Amrullah (Buya Hamka). Foto istimewa
Haji Abdul Malik Karim Amrullah yang populer dengan nama penanya Hamka atau Buya Hamka adalah seorang ulama, filsuf, dan sastrawan Indonesia.Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) pertama, dikenal pula sebagai tokoh Masyumi dan ulama Muhammadiyah ini pernah mengatakan bahwa puncak tertinggi dari pandangan hidup seorang muslim adalah cinta . Puncak cinta seorang muslim terkumpul pada satu titik, yaitu Allah Subhanahu wa Ta'ala.
Dalam bukunya yang berjudul Renungan Tasawuf, Buya Hamka mengatakan, umat Islam itu selain mengikuti apa yang diperintahkan dan menghentikan apa yang dilarang Allah Ta'ala, maka waakan memenuhi hatinya dengan cinta kepada Allah karena ingin dimasukkan ke surga dan takut dibenamkan ke dalam neraka. Pembuktian bahwa seorang hamba cinta pada Allah adalah mengikuti syariat yang dibawa oleh Rasulullah Shallalahu 'Alaihi wa Sallam.
Baca juga: Cinta Kepada Allah (2): Menampak Allah Puncak Kebahagiaan Manusia
Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:
"Katakanlah (Muhammad), "Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu." Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang." (QS. Ali 'Imran : 31)
Supaya hubungan mesra di antara insan sebagai hamba dengan Allah sebagai Rabbul 'alamin (Tuhan penguasa alam), maka Allah mengutus rasul-Nya Muhammad Shallalahu 'Alaihi wa Sallam menjadi petunjuk jalan agar manusia mendapat cinta-Nya.
Rasulullah Shallalahu 'Alaihi wa Sallam bersabda : "Tidak beriman seorang di antara kamu sebelum aku lebih dicintai daripada anak, ayah, dan sekalian manusia sekali pun,". (HR. Bukhari dan Muslim)
Di dalam pertumbuhan rasa cinta itu, kian hilanglah kepentingan diri sendiri. Terkubur dan terkurbanlah kepentingan diri sendiri ke dalam kepentingan yang lebih besar, yaitu melaksanakan kehendak Allah dengan penuh kasih dan sayang. Lurusnya rasa cinta kepada Allah ini, karena kita dipandu di depan ada yang kita ikuti jejaknya, yaitu Nabi Shallalahu 'Alaihi wa Sallam. Dan kita tidak akan mengikuti beliau Shallalahu 'Alaihi wa Sallam, kalau kita tidak sayang dan tidak cinta.
Iman dan cinta kepada Allah Ta'ala akan tidak ada artinya kalau tidak tertumpah dan tidak tercurah kepada kepada Nabi Shallalahu 'Alaihi wa Sallam. Selain itu, wujud cinta kita kepada Allah dan Rasul-Nya adalah kita mencintai seluruh alam sebagai ciptaan-Nya. Cinta kepada bumi tempat para nabi menyampaikan risalah-Nya.
Kita juga mencintai langit, matahari, bulan, bintang-bintang, laut, samudera, pepohonan, karena semua ciptaan-Nya itu adalah nikmat dari Allah kepada manusia sebagai hamba yang lemah dan hina. Dan kita juga mencintai semua manusia yang sama haluan dan tujuan hidupnya dengan kita di dalam cintanya kepada Allah dan Rasul-Nya.
Orang-orang yang jatuh cinta kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala dan Rasul Muhammad Shallalahu 'Alaihi wa Sallam maka ia akan patuh dan empati kepada pemimpin atau pemegang kekuasaan yang menjalankan peraturan yang sesuai dengan kehendak Allah Subhanahu wa Ta'ala. Dia akan selalu menasehati agar berbuat baik dan mencegah kemungkaran. Sebab amar ma'ruf dan nahyi munkar adalah akibat dari beriman kepada Allah Ta'ala.
Dalam bukunya yang berjudul Renungan Tasawuf, Buya Hamka mengatakan, umat Islam itu selain mengikuti apa yang diperintahkan dan menghentikan apa yang dilarang Allah Ta'ala, maka waakan memenuhi hatinya dengan cinta kepada Allah karena ingin dimasukkan ke surga dan takut dibenamkan ke dalam neraka. Pembuktian bahwa seorang hamba cinta pada Allah adalah mengikuti syariat yang dibawa oleh Rasulullah Shallalahu 'Alaihi wa Sallam.
Baca juga: Cinta Kepada Allah (2): Menampak Allah Puncak Kebahagiaan Manusia
Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:
قُلْ اِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّوْنَ اللّٰهَ فَا تَّبِعُوْنِيْ يُحْبِبْكُمُ اللّٰهُ وَيَغْفِرْ لَـكُمْ ذُنُوْبَكُمْ ۗ وَا للّٰهُ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ
"Katakanlah (Muhammad), "Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu." Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang." (QS. Ali 'Imran : 31)
Supaya hubungan mesra di antara insan sebagai hamba dengan Allah sebagai Rabbul 'alamin (Tuhan penguasa alam), maka Allah mengutus rasul-Nya Muhammad Shallalahu 'Alaihi wa Sallam menjadi petunjuk jalan agar manusia mendapat cinta-Nya.
Rasulullah Shallalahu 'Alaihi wa Sallam bersabda : "Tidak beriman seorang di antara kamu sebelum aku lebih dicintai daripada anak, ayah, dan sekalian manusia sekali pun,". (HR. Bukhari dan Muslim)
Di dalam pertumbuhan rasa cinta itu, kian hilanglah kepentingan diri sendiri. Terkubur dan terkurbanlah kepentingan diri sendiri ke dalam kepentingan yang lebih besar, yaitu melaksanakan kehendak Allah dengan penuh kasih dan sayang. Lurusnya rasa cinta kepada Allah ini, karena kita dipandu di depan ada yang kita ikuti jejaknya, yaitu Nabi Shallalahu 'Alaihi wa Sallam. Dan kita tidak akan mengikuti beliau Shallalahu 'Alaihi wa Sallam, kalau kita tidak sayang dan tidak cinta.
Iman dan cinta kepada Allah Ta'ala akan tidak ada artinya kalau tidak tertumpah dan tidak tercurah kepada kepada Nabi Shallalahu 'Alaihi wa Sallam. Selain itu, wujud cinta kita kepada Allah dan Rasul-Nya adalah kita mencintai seluruh alam sebagai ciptaan-Nya. Cinta kepada bumi tempat para nabi menyampaikan risalah-Nya.
Kita juga mencintai langit, matahari, bulan, bintang-bintang, laut, samudera, pepohonan, karena semua ciptaan-Nya itu adalah nikmat dari Allah kepada manusia sebagai hamba yang lemah dan hina. Dan kita juga mencintai semua manusia yang sama haluan dan tujuan hidupnya dengan kita di dalam cintanya kepada Allah dan Rasul-Nya.
Orang-orang yang jatuh cinta kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala dan Rasul Muhammad Shallalahu 'Alaihi wa Sallam maka ia akan patuh dan empati kepada pemimpin atau pemegang kekuasaan yang menjalankan peraturan yang sesuai dengan kehendak Allah Subhanahu wa Ta'ala. Dia akan selalu menasehati agar berbuat baik dan mencegah kemungkaran. Sebab amar ma'ruf dan nahyi munkar adalah akibat dari beriman kepada Allah Ta'ala.
Lihat Juga :