Hubungan Muslim-Kristen dan Perang Salib Menurut John L Esposito
Selasa, 29 November 2022 - 11:03 WIB
Di bawah pemerintahan orang-orang Muslim, gereja dan penduduk yang beragama Kristen tidak pernah diganggu. Foto/Ilustrasi: ist
Profesor Agama, Urusan Internasional, dan Studi Islam di Universitas Georgetown di Washington DC, John L Esposito, mengatakan beberapa peristiwa mempunyai pengaruh yang lebih menggetarkan dan tahan lama pada hubungan Muslim-Kristen daripada Perang Salib .
"Dua mitos meliputi persepsi Barat mengenai Perang Salib: pertama, kemenangan Kristen ; kedua bahwa Perang Salib itu dilakukan hanya untuk pembebasan Yerusalem. Bagi banyak orang Barat, fakta-fakta khusus yang menyangkut Perang Salib hanya diketahui secara samar-samar," ujar John L. Esposito dalam bukunya yang berjudul "The Islamic Threat: Myth or reality?" atau "Ancaman Islam, Mitos atau Realitas?" (Mizan, 1994)
Menurutnya, sebenarnya banyak orang tidak mengetahui siapa yang memulai peperangan itu, mengapa berperang, atau bagaimana peperangan itu dimenangkan. Bagi kaum Muslim, kenangan mengenai Perang Salib itu tetap hidup, yang merupakan contoh Kristen militan paling jelas, pertanda awal agresi dan imperialisme Barat Kristen, kenangan yang hidup akan permusuhan awal Kristen terhadap Islam.
Jika banyak orang menganggap Islam sebagai agama pedang, maka kaum Muslim selama berabad-abad telah membicarakan ambisi dan mentalitas Tentara Salib Barat. "Karena itu, untuk hubungan Muslim-Kristen, hal itu bukan merupakan masalah mengenai apa yang sebenarnya terjadi dalam Perang Salib melainkan bagaimana hal-hal tersebut diingat," katanya.
Baca juga: Sepercik Kisah Imam Hambal, Raja India, Perang Salib, dan Nabi Yusuf
Delapan Ekspedisi Militer
Perang Salib (Crusades), yang namanya diambil dari "Cross" (Crux dalam bahasa latin), merupakan delapan ekspedisi militer yang terjadi sejak abad ke-11 hingga 13 yang membuat orang-orang Kristen (tentara Kristen Franks) melawan Islam (tentara Muslim Saracens). Abad ke-11 ditandai sebagai saat yang menentukan dalam hubungan Barat dengan dunia Islam.
Hingga tahun 1000, Barat merupakan daerah miskin, terbelakang, dan buta huruf. Mereka mempertahankan diri dari serangan bangsa barbar yang terjadi di darat dan di laut...
Selama empat abad, Islam mengalami kedamaian dan keamanan intern, sehingga mampu membangun kebudayaan urban yang, cemerlang dan mengesankan. "Kini situasinya benar-benar berubah... Perdagangan hidup kembali (di Barat), kota dan pasar bermunculan; penduduk bertambah... seni serta ilmu pengetahuan mengalami kemajuan sedemikian rupa sejak masa Kerajaan Roma," jelasnya.
Bangsa Barat yang bangkit dari zaman kegelapan, mengadakan penyerangan untuk mengusir kaum Muslim dan Spanyol, Italia, Sisilia, dan Mediterrania pada saat dunia Islam telah mengalami kemajuan dalam perjuangan politik dan agama.
Ketika kekuatannya dikalahkan oleh tentara Abbasiyah di akhir abad ke-15, Raja Byzantium, Alexius I, yang merasa khawatir bahwa tentara Muslim akan memenangkan seluruh Asia dan menduduki ibukota kerajaan, Konstantinopel, memohon bantuan Barat.
Ia mengimbau kepada sesama penguasa Kristen dan Paus untuk mengusir kaum Muslim dengan "berziarah" untuk membebaskan Yerusalem dan sekitarnya dari tangan pemerintah Muslim.
Yerusalem adalah kota suci bagi ketiga agama berdasarkan ajaran Nabi Ibrahim. Kota tersebut telah direbut oleh tentara Islam tahun 638 pada masa bangsa Arab melakukan ekspansi dan penaklukan.
"Dua mitos meliputi persepsi Barat mengenai Perang Salib: pertama, kemenangan Kristen ; kedua bahwa Perang Salib itu dilakukan hanya untuk pembebasan Yerusalem. Bagi banyak orang Barat, fakta-fakta khusus yang menyangkut Perang Salib hanya diketahui secara samar-samar," ujar John L. Esposito dalam bukunya yang berjudul "The Islamic Threat: Myth or reality?" atau "Ancaman Islam, Mitos atau Realitas?" (Mizan, 1994)
Menurutnya, sebenarnya banyak orang tidak mengetahui siapa yang memulai peperangan itu, mengapa berperang, atau bagaimana peperangan itu dimenangkan. Bagi kaum Muslim, kenangan mengenai Perang Salib itu tetap hidup, yang merupakan contoh Kristen militan paling jelas, pertanda awal agresi dan imperialisme Barat Kristen, kenangan yang hidup akan permusuhan awal Kristen terhadap Islam.
Jika banyak orang menganggap Islam sebagai agama pedang, maka kaum Muslim selama berabad-abad telah membicarakan ambisi dan mentalitas Tentara Salib Barat. "Karena itu, untuk hubungan Muslim-Kristen, hal itu bukan merupakan masalah mengenai apa yang sebenarnya terjadi dalam Perang Salib melainkan bagaimana hal-hal tersebut diingat," katanya.
Baca juga: Sepercik Kisah Imam Hambal, Raja India, Perang Salib, dan Nabi Yusuf
Delapan Ekspedisi Militer
Perang Salib (Crusades), yang namanya diambil dari "Cross" (Crux dalam bahasa latin), merupakan delapan ekspedisi militer yang terjadi sejak abad ke-11 hingga 13 yang membuat orang-orang Kristen (tentara Kristen Franks) melawan Islam (tentara Muslim Saracens). Abad ke-11 ditandai sebagai saat yang menentukan dalam hubungan Barat dengan dunia Islam.
Hingga tahun 1000, Barat merupakan daerah miskin, terbelakang, dan buta huruf. Mereka mempertahankan diri dari serangan bangsa barbar yang terjadi di darat dan di laut...
Selama empat abad, Islam mengalami kedamaian dan keamanan intern, sehingga mampu membangun kebudayaan urban yang, cemerlang dan mengesankan. "Kini situasinya benar-benar berubah... Perdagangan hidup kembali (di Barat), kota dan pasar bermunculan; penduduk bertambah... seni serta ilmu pengetahuan mengalami kemajuan sedemikian rupa sejak masa Kerajaan Roma," jelasnya.
Bangsa Barat yang bangkit dari zaman kegelapan, mengadakan penyerangan untuk mengusir kaum Muslim dan Spanyol, Italia, Sisilia, dan Mediterrania pada saat dunia Islam telah mengalami kemajuan dalam perjuangan politik dan agama.
Ketika kekuatannya dikalahkan oleh tentara Abbasiyah di akhir abad ke-15, Raja Byzantium, Alexius I, yang merasa khawatir bahwa tentara Muslim akan memenangkan seluruh Asia dan menduduki ibukota kerajaan, Konstantinopel, memohon bantuan Barat.
Ia mengimbau kepada sesama penguasa Kristen dan Paus untuk mengusir kaum Muslim dengan "berziarah" untuk membebaskan Yerusalem dan sekitarnya dari tangan pemerintah Muslim.
Yerusalem adalah kota suci bagi ketiga agama berdasarkan ajaran Nabi Ibrahim. Kota tersebut telah direbut oleh tentara Islam tahun 638 pada masa bangsa Arab melakukan ekspansi dan penaklukan.
Lihat Juga :