Hubungan Muslim-Kristen dan Perang Salib Menurut John L Esposito

Selasa, 29 November 2022 - 11:03 WIB
Baca juga: Kuburan Massal Tentara Salib Selama Perang Abad ke-13 Ditemukan di Lebanon

Di bawah pemerintahan orang-orang Muslim, gereja dan penduduk yang beragama Kristen tidak pernah diganggu. Tempat-tempat suci dan peninggalan-peninggalan Kristen menjadi tempat yang selalu dikunjungi oleh orang-orang Kristen.

Orang-orang Yahudi yang sejak lama dilarang tinggal di tempat itu oleh pemerintah Kristen, kini diperbolehkan kembali tinggal dan beribadah di kota Nabi Sulaiman dan Nabi Daud. Orang-orang Muslim membangun sebuah tempat ibadah, Dome of the Rock (Kubah Batu) dan Al-Aqsha di dekat The Wailing Wall (Tembok Ratapan), sisa-sisa terakhir Istana Sulaiman, dan menjadi tempat yang sangat khusus bagi Yudaisme.

Lima abad hidup berdampingan dengan damai kini porak-poranda karena perang-perang suci yang membuat Kristen berperang melawan Islam dan berakibat terciptanya perasaan tidak percaya serta salah paham yang tak berkesudahan.'

Pembebasan Tanah Suci

Peperangan Salib itu dimulai dengan tanggapan Paus Urban II terhadap permohonan Raja Alexius. Pada tahun 1095, Urban menyerukan pembebasan Tanah Suci dari tangan orang-orang kafir, dan mengadakan perang suci yang sudah menjadi tradisi.

Bagi Paus, panggilan untuk membela agama dan Yerusalem memberikan suatu kesempatan untuk memperoleh pengakuan atas otoritas kepausannya dan peranannya untuk mengabsahkan pemerintah sementara, dan untuk mempersatukan kembali gereja-gereja Timur (Yunani) dan Barat (Latin).

Seruan peperangan Paus -"Itulah kehendak Tuhan!"- terbukti berhasil. Pendekatan agama berhasil memikat pikiran orang dan memanfaatkan kepentingan diri banyak orang, yang menghasilkan persatuan dan kembalinya kekuatan Kristen.

Para pemerintah, pedagang, dan ksatria Kristen terdorong oleh keuntungan-keuntungan ekonomi dan politik yang akan dipetik dengan tegaknya kerajaan Latin di Timur Tengah. Para ksatria dari Perancis dan bagian-bagian lain Eropa Barat, yang terdorong oleh fanatisme agama dan harapan akan pampasan perang, bersatu melawan orang-orang "kafir" dalam suatu peperangan yang tujuannya adalah membebaskan kota suci: "Mungkin Tuhan memang menghendakinya, tetapi yang pasti

tidak ada bukti bahwa orang-orang Kristen Yerusalem mempunyai harapan itu, atau ada sesuatu yang luar biasa dalam sejarah yang tertadi pada jamaat di sana sehingga pada saat itu mereka memberikan tanggapan yang demikian.

Baca juga: Mengungkap Rahasia Kehebatan Pedang Damaskus Milik Salahuddin Al-Ayyubi

Perang Salib diilhami oleh dua institusi Kristen, yaitu ziarah ke tempat suci dan perang suci: pembebasan tempat-tempat suci dari tangan kaum Muslim berkarakterkan keduanya. Ziarah memainkan peran penting bagi kesalehan Kristen. Mendatangi tempat-tempat suci, menghormati peninggalan keramat dan melakukan penebusan dosa memberikan (orang-orang yang mengecam akan mengatakan "membeli") janji pengampunan dosa.

Yerusalem, pusat lahirnya Kristen, merupakan lambang kota Tuhan, yang karenanya merupakan tempat suci. Pada waktu yang sama, gagasan perang suci mengubah dan menyucikan peperangan di abad-abad pertengahan beserta gagasan kehormatan dan keksatriaannya.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!