Sepercik Kisah Imam Hambal, Raja India, Perang Salib, dan Nabi Yusuf
Minggu, 06 September 2020 - 06:23 WIB
loading...
Ilustrasi lumbung Nabi Yusuf/Ist
A
A
A
Musyawarah Burung (1184-1187) karya Faridu'd-Din Abu Hamid Muhammad bin Ibrahim atau Attar dalam gaya sajak alegoris ini, melambangkan kehidupan dan ajaran kaum sufi . Judul asli: Mantiqu't-Thair dan diterjemahan Hartojo Andangdjaja dari The Conference of the Birds (C. S. Nott). (Baca juga: Faridu'd-Din Attar Pencipta Musyawarah Burung )
===
SEEKOR burung lain berkata pada Hudhud , "Bila raja yang kita bicarakan itu adil dan setia, Tuhan pun telah memberi kita pula kejujuran dan ketulusan; dan aku tak pernah kurang dalam hal keadilan terhadap siapa saja. Bila sifat-sifat ini terdapat pada suatu makhluk, bagaimana martabatnya dalam pengetahuan kerohanian?" (Baca juga: Ibrahim Adham: Kubeli Kemiskinan Itu Seharga Kerajaan Dunia )
Hudhud menjawab, "Keadilan ialah raja keselamatan. Ia yang adil selamat dari segala macam kesalahan dan kesia-siaan. Lebih baik adil daripada melewatkan seluruh hidupmu dengan berlutut dan bersembah sujud dalam peribadatan lahiriah. Juga kemurahan hati tidak sebanding dalam kedua dunia itu dengan keadilan yang dilakukan secara diam-diam. Tetapi dia yang berpura-pura adil di muka umum sulitlah untuk tak menjadi si munafik. Adapun pengikut Jalan ruhani tiadalah menuntut keadilan dari siapa pun juga, karena mereka menerimanya berlimpah-limpah dari Tuhan." (Baca juga: Gara-Gara Mentimun, Anak Syaikh Khirkani Dipenggal Orang )
Imam Hambal
Ahmad Hambal ialah Imam di zamannya, dan jasanya melebihi segala pujian. Suatu kali ketika ia ingin istirahat dari telaah dan pekerjaannya, ia pergi ke luar untuk bicara dengan seorang laki-laki yang amat miskin.
Seseorang yang melihat hal itu mencelanya dengan mengatakan, "Tak seorang pun yang lebih pandai dari Tuan, dan Tuan pun tak membutuhkan pendapat orang lain , namun Tuan menghabiskan waktu Tuan dengan si malang yang miskin, yang berjalan bertelanjang kaki dan bertelanjang kepala." (Baca juga: Dunia Sufi: Guru Palsu Bisa Jadi Tampak Seperti Asli )
"Memang benar," kata Imam itu, "bahwa aku telah melaksanakan apa yang ada dalam hadis dan sunnah, dan bahwa aku mempunyai lebih banyak pengetahuan dari orang ini; tetapi dalam hal keinsafan, ia lebih dekat pada Tuhan ketimbang aku."
Kau yang tak jujur karena tak tahu, setidak-tidaknya memberikan peringatan sejenak pada ketulusan mereka yang sedang menempuh jalan ruhani.
Raja India
Suatu kali Sultan Mahmud memenjarakan seorang raja tua, yang --setelah menghayati kasih Tuhan-- menjadi seorang Muslim dan meninggalkan kedua dunia.
Baca juga: PKS Ingatkan Pemerintah Tak Asal Gunakan Vaksin Corona
Duduk sendiri dalam kemahnya ia menjadi begitu tenggelam dalam keadaan ini melelehkan airmata kesedihan dan mendesahkan keluh kerinduan --siang berganti malam dan malam berganti siang, semakin hebat juga tangis dan keluhnya.
===
SEEKOR burung lain berkata pada Hudhud , "Bila raja yang kita bicarakan itu adil dan setia, Tuhan pun telah memberi kita pula kejujuran dan ketulusan; dan aku tak pernah kurang dalam hal keadilan terhadap siapa saja. Bila sifat-sifat ini terdapat pada suatu makhluk, bagaimana martabatnya dalam pengetahuan kerohanian?" (Baca juga: Ibrahim Adham: Kubeli Kemiskinan Itu Seharga Kerajaan Dunia )
Hudhud menjawab, "Keadilan ialah raja keselamatan. Ia yang adil selamat dari segala macam kesalahan dan kesia-siaan. Lebih baik adil daripada melewatkan seluruh hidupmu dengan berlutut dan bersembah sujud dalam peribadatan lahiriah. Juga kemurahan hati tidak sebanding dalam kedua dunia itu dengan keadilan yang dilakukan secara diam-diam. Tetapi dia yang berpura-pura adil di muka umum sulitlah untuk tak menjadi si munafik. Adapun pengikut Jalan ruhani tiadalah menuntut keadilan dari siapa pun juga, karena mereka menerimanya berlimpah-limpah dari Tuhan." (Baca juga: Gara-Gara Mentimun, Anak Syaikh Khirkani Dipenggal Orang )
Imam Hambal
Ahmad Hambal ialah Imam di zamannya, dan jasanya melebihi segala pujian. Suatu kali ketika ia ingin istirahat dari telaah dan pekerjaannya, ia pergi ke luar untuk bicara dengan seorang laki-laki yang amat miskin.
Seseorang yang melihat hal itu mencelanya dengan mengatakan, "Tak seorang pun yang lebih pandai dari Tuan, dan Tuan pun tak membutuhkan pendapat orang lain , namun Tuan menghabiskan waktu Tuan dengan si malang yang miskin, yang berjalan bertelanjang kaki dan bertelanjang kepala." (Baca juga: Dunia Sufi: Guru Palsu Bisa Jadi Tampak Seperti Asli )
"Memang benar," kata Imam itu, "bahwa aku telah melaksanakan apa yang ada dalam hadis dan sunnah, dan bahwa aku mempunyai lebih banyak pengetahuan dari orang ini; tetapi dalam hal keinsafan, ia lebih dekat pada Tuhan ketimbang aku."
Kau yang tak jujur karena tak tahu, setidak-tidaknya memberikan peringatan sejenak pada ketulusan mereka yang sedang menempuh jalan ruhani.
Raja India
Suatu kali Sultan Mahmud memenjarakan seorang raja tua, yang --setelah menghayati kasih Tuhan-- menjadi seorang Muslim dan meninggalkan kedua dunia.
Baca juga: PKS Ingatkan Pemerintah Tak Asal Gunakan Vaksin Corona
Duduk sendiri dalam kemahnya ia menjadi begitu tenggelam dalam keadaan ini melelehkan airmata kesedihan dan mendesahkan keluh kerinduan --siang berganti malam dan malam berganti siang, semakin hebat juga tangis dan keluhnya.
Lihat Juga :