Dinasti Ayyubiyah: Sejarah, Peradaban dan Keruntuhannya
Minggu, 01 Januari 2023 - 14:30 WIB
Dinasti Ayyubiyah hadir di tengah-tengah konsolidasi negeri Islam yang terpecah. Akan tetapi, dalam keadaan tersebut justru Ayyubiyah mencapai era keemasan dan terus membangun peradaban Islam.
Kota-kota yang menjadi kekuasaan Dinasti Ayyubiyah menjadi pusat pengembangan peradaban dunia. Hal ini dikarenakan para penguasa dinasti menaruh perhatian lebih terhadap bidang pendidikan dan ilmu pengetahuan.
Pada bidang keagamaan, Salahuddin menetapkan Sunni sebagai mazhab resmi negara. Selain itu, mereka menempatkan diri sebagai pelindung umat Yahudi dan Nasrani di Yerusalem. Kebijakan itu membuat Yerusalem bisa berada di bawah kekuasaan muslim dalam waktu lama.
Pada bidang pendidikan, penguasa Dinasti Ayyubiyah adalah orang terdidik yang menganggap pendidikan penting. Tercatat, saat pemerintahan Salahuddin Al-Ayyubi, Kota Damaskus memiliki 20 madrasah dan lembaga pendidikan lainnya.
Beralih ke bidang kebudayaan dan arsitektur, Dinasti Ayyubiyah terasimilasi ke budaya Arab. Salah satu sumbangsih terbesarnya adalah menjadikan bahasa Arab sebagai bahasa tutur Mesir.
Sementara itu, beberapa bangunan arsitektur yang bisa dijadikan sumber sejarah kejayaan Ayyubiyah di antaranya adalah Menara Masjid Agung Aleppo yang dibangun Sultan Az-Zahir Ghazi, Tembok Kota Aleppo, hingga Madrasah Al-Firdaus.
Runtuhnya Dinasti Ayyubiyah
Terdapat sejumlah faktor yang menyebabkan keruntuhan Dinasti Ayyubiyah. Selain adanya perselisihan di kalangan keluarga yang saling berebut kekuasaan, terdapat alasan eksternal juga.
Di antaranya kebangkitan Dinasti Mamluk yang membuat Sultan Al-Ma'azzam Turansyah meninggal serta serangan dari bangsa Mongol yang dikenal barbar dan kejam. Berakhirnya masa pemerintahan Ayyubiyah ditandai dengan wafatnya Al-Asyraf, sultan terakhir dan berkuasanya Dinasti Mamluk. Peninggalan Dinasti Ayyubiyah adalah Benteng Qal'ah al-Jabal di Kairo, Mesir.
Baca Juga: Shalahuddin Al Ayyubi Mengubah Mesir dari Negeri Syiah Menjadi Sunni
Kota-kota yang menjadi kekuasaan Dinasti Ayyubiyah menjadi pusat pengembangan peradaban dunia. Hal ini dikarenakan para penguasa dinasti menaruh perhatian lebih terhadap bidang pendidikan dan ilmu pengetahuan.
Pada bidang keagamaan, Salahuddin menetapkan Sunni sebagai mazhab resmi negara. Selain itu, mereka menempatkan diri sebagai pelindung umat Yahudi dan Nasrani di Yerusalem. Kebijakan itu membuat Yerusalem bisa berada di bawah kekuasaan muslim dalam waktu lama.
Pada bidang pendidikan, penguasa Dinasti Ayyubiyah adalah orang terdidik yang menganggap pendidikan penting. Tercatat, saat pemerintahan Salahuddin Al-Ayyubi, Kota Damaskus memiliki 20 madrasah dan lembaga pendidikan lainnya.
Beralih ke bidang kebudayaan dan arsitektur, Dinasti Ayyubiyah terasimilasi ke budaya Arab. Salah satu sumbangsih terbesarnya adalah menjadikan bahasa Arab sebagai bahasa tutur Mesir.
Sementara itu, beberapa bangunan arsitektur yang bisa dijadikan sumber sejarah kejayaan Ayyubiyah di antaranya adalah Menara Masjid Agung Aleppo yang dibangun Sultan Az-Zahir Ghazi, Tembok Kota Aleppo, hingga Madrasah Al-Firdaus.
Runtuhnya Dinasti Ayyubiyah
Terdapat sejumlah faktor yang menyebabkan keruntuhan Dinasti Ayyubiyah. Selain adanya perselisihan di kalangan keluarga yang saling berebut kekuasaan, terdapat alasan eksternal juga.
Di antaranya kebangkitan Dinasti Mamluk yang membuat Sultan Al-Ma'azzam Turansyah meninggal serta serangan dari bangsa Mongol yang dikenal barbar dan kejam. Berakhirnya masa pemerintahan Ayyubiyah ditandai dengan wafatnya Al-Asyraf, sultan terakhir dan berkuasanya Dinasti Mamluk. Peninggalan Dinasti Ayyubiyah adalah Benteng Qal'ah al-Jabal di Kairo, Mesir.
Baca Juga: Shalahuddin Al Ayyubi Mengubah Mesir dari Negeri Syiah Menjadi Sunni
(rhs)
Lihat Juga :