Kisah Sufi yang Mirip Cerita dalam Surat Al-Kahfi
Minggu, 29 Januari 2023 - 08:57 WIB
loading...
A
A
A
"Saya telah melupakan syarat itu," kata Si Pencari. Dan ia pun meminta maaf atas kekhilafannya. Namun, hal itu sangat membingungkan bagi pemuda tersebut.
Perjalanan mereka pun berlanjut hingga keduanya sampai di sebuah negeri di mana mereka diterima dengan ramah, dijamu oleh raja negeri itu, yang menawarkan pergi berburu binatang bersamanya.
Baca juga: Kisah Sufi, Putri yang Tidak Patuh
Putra raja yang masih kecil menunggang kuda bersama Sang Bijak. Ketika Orang Bijak dan Si Pencari tersebut terpisah dari rombongan lain oleh serumpun semak belukar pada akhir perburuan itu, Sang Guru pun berkata, "Lekas, ikuti aku secepat mungkin."
Dipatahkannya pergelangan kaki Pangeran Muda, dan ditinggalkannya ia di semak-semak, lalu bersicepat memacu kudanya melintasi perbatasan kerajaan itu.
Si Pencari sangat terkejut dan merasa bersalah telah menjadi bagian dari kejahatan tersebut. Sambil mengepalkan tinju, ia berseru, "Raja itu menerima dan memperbolehkan kita berkuda bersama anak dan pewaris kerajaannya, tetapi betapa buruk balasan yang diterimanya! Perbuatan macam apa itu? Sungguh tak layak dilakukan bahkan oleh orang yang paling jahat sekalipun!"
Orang Bijak itu hanya berpaling kepadanya dan berkata, "Teman, saya melakukan apa yang harus saya lakukan. Kau ini seorang pengamat; hanya sedikit orang seperti kau. Tetapi setelah mencapai kedudukan pengamat itu, tampaknya kau tidak bisa mempergunakannya, sebab kau selalu menilai dari prasangkamu. Sekali lagi, saya mengingatkan kau tentang janjimu."
"Saya tahu bahwa janji itulah yang membuatku bisa mengikutimu, dan bahwa janji itu mengikat," kata Si Pencari. "Oleh karena itu, saya mohon, maafkan saya sekali ini, tak mudah bagi saya menghentikan kebiasaan menyimpulkan lewat praduga-praduga. Kalau saya nanti bertanya lagi, kau boleh menyuruhku pergi."
Mereka pun melanjutkan perjalanan.
Baca juga: Kisah Sufi: Berharga dan Tak Berharga
Ketika sampai di sebuah kota besar yang makmur, kedua pengembara itu meminta sedikit makanan, tetapi tak ada orang yang mau memberi, bahkan sisa santapan orang. Kemurahan hati tidak dikenal di kota itu, dan kewajiban suci untuk melayani tamu telah terlupakan. Sebaliknya, anjing-anjing liar mengkuti keduanya.
Perjalanan mereka pun berlanjut hingga keduanya sampai di sebuah negeri di mana mereka diterima dengan ramah, dijamu oleh raja negeri itu, yang menawarkan pergi berburu binatang bersamanya.
Baca juga: Kisah Sufi, Putri yang Tidak Patuh
Putra raja yang masih kecil menunggang kuda bersama Sang Bijak. Ketika Orang Bijak dan Si Pencari tersebut terpisah dari rombongan lain oleh serumpun semak belukar pada akhir perburuan itu, Sang Guru pun berkata, "Lekas, ikuti aku secepat mungkin."
Dipatahkannya pergelangan kaki Pangeran Muda, dan ditinggalkannya ia di semak-semak, lalu bersicepat memacu kudanya melintasi perbatasan kerajaan itu.
Si Pencari sangat terkejut dan merasa bersalah telah menjadi bagian dari kejahatan tersebut. Sambil mengepalkan tinju, ia berseru, "Raja itu menerima dan memperbolehkan kita berkuda bersama anak dan pewaris kerajaannya, tetapi betapa buruk balasan yang diterimanya! Perbuatan macam apa itu? Sungguh tak layak dilakukan bahkan oleh orang yang paling jahat sekalipun!"
Orang Bijak itu hanya berpaling kepadanya dan berkata, "Teman, saya melakukan apa yang harus saya lakukan. Kau ini seorang pengamat; hanya sedikit orang seperti kau. Tetapi setelah mencapai kedudukan pengamat itu, tampaknya kau tidak bisa mempergunakannya, sebab kau selalu menilai dari prasangkamu. Sekali lagi, saya mengingatkan kau tentang janjimu."
"Saya tahu bahwa janji itulah yang membuatku bisa mengikutimu, dan bahwa janji itu mengikat," kata Si Pencari. "Oleh karena itu, saya mohon, maafkan saya sekali ini, tak mudah bagi saya menghentikan kebiasaan menyimpulkan lewat praduga-praduga. Kalau saya nanti bertanya lagi, kau boleh menyuruhku pergi."
Mereka pun melanjutkan perjalanan.
Baca juga: Kisah Sufi: Berharga dan Tak Berharga
Ketika sampai di sebuah kota besar yang makmur, kedua pengembara itu meminta sedikit makanan, tetapi tak ada orang yang mau memberi, bahkan sisa santapan orang. Kemurahan hati tidak dikenal di kota itu, dan kewajiban suci untuk melayani tamu telah terlupakan. Sebaliknya, anjing-anjing liar mengkuti keduanya.
Lihat Juga :