Misi Hadis Penaklukan Konstantinopel, Bukan Sekadar Hagia Shopia
Rabu, 15 Juli 2020 - 15:38 WIB
loading...
A
A
A
Simbol Kedigdayaan
Konstantinopel merupakan sebuah negeri indah, makmur yang menjadi salah satu simbol kedigdayaan berabad-abad lamanya.
Kekaisaran Byzantium tegak kokoh menduduki singgasana kekuasaan yang menggoda semua penguasa kerajaan. Bahkan Napoleon Bonaparte, kaisar dan jenderal kebanggaan Perancis di abad 19 tidak sanggup menahan ungkapan hasratnya tentang negeri itu, “…kalaulah dunia ini sebuah negara, maka konstantinopel inilah yang paling layak menjadi ibu negaranya!” ujarnya. (Abu Fatah Grania : 325).
Konstantinopel dibangun oleh Konstantin I pada tahun 330 M, atau 200 tahun sebelum kelahiran Rasulullah SAW. Negeri ini memecah kekuasaan Romawi menjadi Romawi Timur dan menjadi pusat penyebaran agama Kristen Yunani Ortodoks. Sementara Romawi Barat menjadi pusat Kristen Katolik.
Romawi (Eropa) terbelah dua disebabkan perbedaan penganut Kristen saat itu. Ketika Heraklius menjadi kaisar pada abad ke-6, Rasulullah sempat menyuratinya untuk masuk ke dalam agama Islam, namun seruan dakwah Rasulullah belum bisa diikuti oleh kaisar Kristen tersebut.
Baca juga: Sejarah Hagia Sophia, antara Katedral Kristen Ortodoks dan Masjid
Heraklius lalu membalas ajakan baginda Rasulullah SAW dengan penghormatan terhadap beliau. Secara pribadi ia meyakini kebenaran Rasulullah namun ia belum siap menjadi muslim.
Upaya pembebasan Konstantinopel setidaknya dilakukan sebanyak 8 kali oleh umat Islam. Muhammad Farid Bik dalam buku “Taarikh ad-Daulah al-‘Aliyyah al-Utsmaaniyah” bahkan menyebut sebanyak 12 kali. Dan yang ke-12 itu dilakukan Muhammad Al-Fatih.
Setidaknya ada lima kali pada dianasti Umayyah, satu kali pada Dinasti Abbasiyah, dan dua kali pada masa Utsmaniyah.
Sahabat Nabi, Abu Ayyub al-Anshari, ikut serta dalam upaya penaklukan yang pertama kali dalam menyerbu Konstantinopel pada tahun 44 H. Beliau gugur dalam pertempuran ini pada usia 80 tahun.
Baca juga: Erdogan: Jadi Masjid, Salat Pertama di Hagia Sophia 24 Juli
Abu Ayyub al-Anshari berwasiat agar jasadnya dikuburkan pada titik terjauh dekat dengan Konstantinopel yang dapat dicapai kaum muslimin.
Jika mengacu pada hadis Nabi maka Muhammad Al Fatih adalah sebaik-baik pemimpin, dan pasukan yang menaklukkan Konstantinopel adalah sebaik-baik pasukan.
Muhammad Al Fatih memang bisa dibilang pemimpin yang cerdas selain saleh. Sebelum melakukan penaklukan, setidaknya beliau melakukan tiga langkah strategis.
Baca juga: Hagia Sophia, Lebih dari Sekadar Tempat Ibadah
Konstantinopel merupakan sebuah negeri indah, makmur yang menjadi salah satu simbol kedigdayaan berabad-abad lamanya.
Kekaisaran Byzantium tegak kokoh menduduki singgasana kekuasaan yang menggoda semua penguasa kerajaan. Bahkan Napoleon Bonaparte, kaisar dan jenderal kebanggaan Perancis di abad 19 tidak sanggup menahan ungkapan hasratnya tentang negeri itu, “…kalaulah dunia ini sebuah negara, maka konstantinopel inilah yang paling layak menjadi ibu negaranya!” ujarnya. (Abu Fatah Grania : 325).
Konstantinopel dibangun oleh Konstantin I pada tahun 330 M, atau 200 tahun sebelum kelahiran Rasulullah SAW. Negeri ini memecah kekuasaan Romawi menjadi Romawi Timur dan menjadi pusat penyebaran agama Kristen Yunani Ortodoks. Sementara Romawi Barat menjadi pusat Kristen Katolik.
Romawi (Eropa) terbelah dua disebabkan perbedaan penganut Kristen saat itu. Ketika Heraklius menjadi kaisar pada abad ke-6, Rasulullah sempat menyuratinya untuk masuk ke dalam agama Islam, namun seruan dakwah Rasulullah belum bisa diikuti oleh kaisar Kristen tersebut.
Baca juga: Sejarah Hagia Sophia, antara Katedral Kristen Ortodoks dan Masjid
Heraklius lalu membalas ajakan baginda Rasulullah SAW dengan penghormatan terhadap beliau. Secara pribadi ia meyakini kebenaran Rasulullah namun ia belum siap menjadi muslim.
Upaya pembebasan Konstantinopel setidaknya dilakukan sebanyak 8 kali oleh umat Islam. Muhammad Farid Bik dalam buku “Taarikh ad-Daulah al-‘Aliyyah al-Utsmaaniyah” bahkan menyebut sebanyak 12 kali. Dan yang ke-12 itu dilakukan Muhammad Al-Fatih.
Setidaknya ada lima kali pada dianasti Umayyah, satu kali pada Dinasti Abbasiyah, dan dua kali pada masa Utsmaniyah.
Sahabat Nabi, Abu Ayyub al-Anshari, ikut serta dalam upaya penaklukan yang pertama kali dalam menyerbu Konstantinopel pada tahun 44 H. Beliau gugur dalam pertempuran ini pada usia 80 tahun.
Baca juga: Erdogan: Jadi Masjid, Salat Pertama di Hagia Sophia 24 Juli
Abu Ayyub al-Anshari berwasiat agar jasadnya dikuburkan pada titik terjauh dekat dengan Konstantinopel yang dapat dicapai kaum muslimin.
Jika mengacu pada hadis Nabi maka Muhammad Al Fatih adalah sebaik-baik pemimpin, dan pasukan yang menaklukkan Konstantinopel adalah sebaik-baik pasukan.
Muhammad Al Fatih memang bisa dibilang pemimpin yang cerdas selain saleh. Sebelum melakukan penaklukan, setidaknya beliau melakukan tiga langkah strategis.
Baca juga: Hagia Sophia, Lebih dari Sekadar Tempat Ibadah
Lihat Juga :