Kisah Zughanusy Pasya, Mualaf yang Gelorakan Semangat Jihad Taklukkan Konstantinopel
Senin, 06 Februari 2023 - 09:42 WIB
loading...
A
A
A
Buku-buku sejarah menyebutkan tentang sikap Zughanusy Pasya ini. Tatkala Sultan menanyakan sikap dan pandangannya, dia melompat dari duduknya dan bersuara lantang dengan menggunakan bahasa Turki yang sedikit gagap.
“Tidak! Sekali lagi tidak, wahai Sultan! Saya tidak akan menerima apa yang dikatakan oleh Khalil Pasya. Kami datang ke sini tidak ada tujuan lain, kecuali untuk mati dan bukan untuk pulang kembali,” ujar Zughanusy Pasya berapi-api.
Ucapan lantang ini menimbulkan pengaruh besar di dada hadirin. Dan untuk sementara tempat itu menjadi senyap.
Kemudian Zughanusy Pasya melanjutkan perkataannya, “Sesungguhnya di balik ucapan Khalil Pasya, terdapat keinginan untuk memadamkan semangat yang ada di dalam dada kalian, membunuh keberanian dan tekad kalian. Namun dia tidak akan pernah mendapatkan apa-apa, kecuali putus-asa dan kerugian."
"Sesungguhnya tentara Alexander Agung yang berangkat dari Yunani ke India, lalu dia menguasai separuh Benua Asia yang luas, jumlah mereka tidak lebih besar dari jumlah tentara kita. Jika pasukan mereka mampu menguasai negeri-negeri yang luas itu, apakah tentara kita tidak akan mampu untuk melintasi tumpukan batu-batu yang bersusun-susun itu?”
Zughanusy Pasya menarik napas panjang lalu matanya menyapu ke semua yang hadir. “Khalil Pasya telah mengatakan pada kita, bahwa negara-negara Barat akan datang pada kita untuk membalas dendam,” kata Zughanusy Pasya.
“Lalu siapa yang dia maksud dengan negara-negara Barat itu? Apakah yang dia maksud, negara-negara Latin yang kini sedang dilanda permusuhan internal, atau negara-negara di Laut Tengah yang tidak mampu berbuat apa-apa selain hanya merampok dan mencuri?” lanjutnya dengan suara meninggi.
Baca juga: Hagia Sophia dan Kehebatan Sultan Muhammad Al-Fatih
Andai kata negara-negara itu mau memberikan bantuan kepada Byzantium, ujarnya lagi, pastilah mereka akan mengirimkan pasukan dan kapal-kapai perangnya. Andaikata orang-orang Eropa setelah kita taklukkan Kota Konstantinopei, mereka mengajak berperang menantang kita, apakah kita hanya akan berpangku tangan dan tidak melakukan apa pun. Jelas kita akan menyambut mereka dengan serangan paling menyakitkan, demi mempertahankan kehormatan kita!
“Wahai penguasa Kesultanan!” ujar Zughanusy Pasya kemudian. “Kau telah tanyakan pendapat saya, maka kini aku katakan pendapat ini secara terus terang. Hati kita hendaknya kokoh laksana batu karang, dan kita wajib meneruskan peperangan ini, tanpa dilanda sifat lemah dan kerdil,” tegasnya lagi.
“Tidak! Sekali lagi tidak, wahai Sultan! Saya tidak akan menerima apa yang dikatakan oleh Khalil Pasya. Kami datang ke sini tidak ada tujuan lain, kecuali untuk mati dan bukan untuk pulang kembali,” ujar Zughanusy Pasya berapi-api.
Ucapan lantang ini menimbulkan pengaruh besar di dada hadirin. Dan untuk sementara tempat itu menjadi senyap.
Kemudian Zughanusy Pasya melanjutkan perkataannya, “Sesungguhnya di balik ucapan Khalil Pasya, terdapat keinginan untuk memadamkan semangat yang ada di dalam dada kalian, membunuh keberanian dan tekad kalian. Namun dia tidak akan pernah mendapatkan apa-apa, kecuali putus-asa dan kerugian."
"Sesungguhnya tentara Alexander Agung yang berangkat dari Yunani ke India, lalu dia menguasai separuh Benua Asia yang luas, jumlah mereka tidak lebih besar dari jumlah tentara kita. Jika pasukan mereka mampu menguasai negeri-negeri yang luas itu, apakah tentara kita tidak akan mampu untuk melintasi tumpukan batu-batu yang bersusun-susun itu?”
Zughanusy Pasya menarik napas panjang lalu matanya menyapu ke semua yang hadir. “Khalil Pasya telah mengatakan pada kita, bahwa negara-negara Barat akan datang pada kita untuk membalas dendam,” kata Zughanusy Pasya.
“Lalu siapa yang dia maksud dengan negara-negara Barat itu? Apakah yang dia maksud, negara-negara Latin yang kini sedang dilanda permusuhan internal, atau negara-negara di Laut Tengah yang tidak mampu berbuat apa-apa selain hanya merampok dan mencuri?” lanjutnya dengan suara meninggi.
Baca juga: Hagia Sophia dan Kehebatan Sultan Muhammad Al-Fatih
Andai kata negara-negara itu mau memberikan bantuan kepada Byzantium, ujarnya lagi, pastilah mereka akan mengirimkan pasukan dan kapal-kapai perangnya. Andaikata orang-orang Eropa setelah kita taklukkan Kota Konstantinopei, mereka mengajak berperang menantang kita, apakah kita hanya akan berpangku tangan dan tidak melakukan apa pun. Jelas kita akan menyambut mereka dengan serangan paling menyakitkan, demi mempertahankan kehormatan kita!
“Wahai penguasa Kesultanan!” ujar Zughanusy Pasya kemudian. “Kau telah tanyakan pendapat saya, maka kini aku katakan pendapat ini secara terus terang. Hati kita hendaknya kokoh laksana batu karang, dan kita wajib meneruskan peperangan ini, tanpa dilanda sifat lemah dan kerdil,” tegasnya lagi.
Lihat Juga :