Menyikapi Hagia Sofia dengan Bijak (2)
Rabu, 15 Juli 2020 - 19:30 WIB
loading...
Keindahan interior Hagia Sophia, tempat ibadah paling bersejarah di Istanbul, Turki, Jumat (10/7/2020). Foto/dok Reuters. Foto/Istimewa
A
A
A
Imam Shamsi Ali
Direktur/Imam Jamaica Muslim Center
Presiden Nusantara Foundation USA
Selain isu syariah tentunya kita juga diingatkan kembali bahwa saat ini umat sedang dalam peperangan sengit (state of war). Peperangan itu bukan perang nuklir atau atom. Tapi peperangan persepsi atau imej yang telah lama dilancarkan kepada agama dan Umat ini.
Terlepas dari status legal dari Hagia Sophia , masyarakat internasional pastinya akan menangkap ini sebagai peluang besar untuk membidik sasaran (targeting) Islam. Bahwa selama ini Islam dipersepsikan sebagai agama yang memaksakan kehendak, memaksa orang lain untuk memeluknya, bahkan merampas hak-hak orang lain. (Baca Juga: Hagia Sophia, Lebih dari Sekadar Tempat Ibadah )
Mereka yang memiliki itikad buruk itu tak akan pernah peduli dengan status hukum, bahkan akan menutup mata terhadak status kepemilikan dari gedung Hagia Sophia itu. Target mereka hanya satu. Yaitu Islam adalah agama yang tidak menghormati agama lain dan selalu ingin menang sendiri.
Konsekuensi selanjutnya, berhati-hati dengan komunitas Muslim di negara-negara mayoritas non Muslim. Karena ketika mereka berada pada status mayoritas mereka akan mengambil alih kepemilikan non Muslim, termasuk rumah-rumah ibadah minoritas.
Saya teringat perjuangan teman-teman komunitas Muslim Indonesia di Belgia membeli gedung untuk dijadikan sebuah masjid. Semua telah siap, termasuk dana dan gedungnya. Tiba-tiba saja transaksi itu dibatalkan oleh otoritas. Semua ini menjadi bagian dari ketakutan (phobia) akan kebangkitan Islam dengan persepsi tadi.
Konversi gedung Hagia Sophia ini juga pastinya akan dijadikan justifikasi bahkan bukti bagi mereka yang memiliki mata negatif kepada agama ini bahwa benar Umat Islam itu tidak akan pernah menghargai hak orang lain. Sekali lagi apakah mereka sadar atau tidak tentang status legal kepemilikan gedung tersebut.
Dan karenanya saya sempat terpikir, dan boleh jadi saya salah dalam hal ini, bahwa merubah gedung Hagia Sophia ini menjadi masjid nampaknya dari sudut perang persepsi kurang menguntungkan. Bahkan mudharatnya jauh lebih besar ketimbang manfaatnya.
Saat ini manfaatnya hanya untuk dipakai ibadah oleh umat Islam . Tapi benarkah itu dapat menjadi alasan Yang mendasar? Karena kita kenal hanya beberapa meter dari gedung itu berdiri masjid Hijau (Blue Mosque) yang megah.
Manfaat lain sesungguhnya hanya terkait dengan emosi umat. Bahwa Hagia Sophia adalah simbol kemenangan Islam atas Kristen Bizantium ketika itu. Dan karenanya konversi gereja menjadi masjid saat itu merupakan simbolisasi kemenangan. Simbol kemenangan Islam atas sekularisme Turki.
Direktur/Imam Jamaica Muslim Center
Presiden Nusantara Foundation USA
Selain isu syariah tentunya kita juga diingatkan kembali bahwa saat ini umat sedang dalam peperangan sengit (state of war). Peperangan itu bukan perang nuklir atau atom. Tapi peperangan persepsi atau imej yang telah lama dilancarkan kepada agama dan Umat ini.
Terlepas dari status legal dari Hagia Sophia , masyarakat internasional pastinya akan menangkap ini sebagai peluang besar untuk membidik sasaran (targeting) Islam. Bahwa selama ini Islam dipersepsikan sebagai agama yang memaksakan kehendak, memaksa orang lain untuk memeluknya, bahkan merampas hak-hak orang lain. (Baca Juga: Hagia Sophia, Lebih dari Sekadar Tempat Ibadah )
Mereka yang memiliki itikad buruk itu tak akan pernah peduli dengan status hukum, bahkan akan menutup mata terhadak status kepemilikan dari gedung Hagia Sophia itu. Target mereka hanya satu. Yaitu Islam adalah agama yang tidak menghormati agama lain dan selalu ingin menang sendiri.
Konsekuensi selanjutnya, berhati-hati dengan komunitas Muslim di negara-negara mayoritas non Muslim. Karena ketika mereka berada pada status mayoritas mereka akan mengambil alih kepemilikan non Muslim, termasuk rumah-rumah ibadah minoritas.
Saya teringat perjuangan teman-teman komunitas Muslim Indonesia di Belgia membeli gedung untuk dijadikan sebuah masjid. Semua telah siap, termasuk dana dan gedungnya. Tiba-tiba saja transaksi itu dibatalkan oleh otoritas. Semua ini menjadi bagian dari ketakutan (phobia) akan kebangkitan Islam dengan persepsi tadi.
Konversi gedung Hagia Sophia ini juga pastinya akan dijadikan justifikasi bahkan bukti bagi mereka yang memiliki mata negatif kepada agama ini bahwa benar Umat Islam itu tidak akan pernah menghargai hak orang lain. Sekali lagi apakah mereka sadar atau tidak tentang status legal kepemilikan gedung tersebut.
Dan karenanya saya sempat terpikir, dan boleh jadi saya salah dalam hal ini, bahwa merubah gedung Hagia Sophia ini menjadi masjid nampaknya dari sudut perang persepsi kurang menguntungkan. Bahkan mudharatnya jauh lebih besar ketimbang manfaatnya.
Saat ini manfaatnya hanya untuk dipakai ibadah oleh umat Islam . Tapi benarkah itu dapat menjadi alasan Yang mendasar? Karena kita kenal hanya beberapa meter dari gedung itu berdiri masjid Hijau (Blue Mosque) yang megah.
Manfaat lain sesungguhnya hanya terkait dengan emosi umat. Bahwa Hagia Sophia adalah simbol kemenangan Islam atas Kristen Bizantium ketika itu. Dan karenanya konversi gereja menjadi masjid saat itu merupakan simbolisasi kemenangan. Simbol kemenangan Islam atas sekularisme Turki.
Lihat Juga :