Begini Cara Syaikh Ahmad Al-Kurani Mendidik Sultan Muhammad Al-Fatih
Selasa, 14 Februari 2023 - 05:15 WIB
loading...
Salah satu guru Sultan Muhammad al-Fatih yang mendampinginya saat penaklukan Konstantinpel adalah Syaikh Ahmad al-Kurani. Foto/Ilustrasi: Ist
A
A
A
Salah seorang ulama yang menjadi guru Sultan Muhammad al-Fatih adalah Syaikh Ahmad al-Kurani . Beliau mendidik sang penakluk Konstantinopel ini tatkala masih anak-anak. Ayah Muhammad Al Fatih, Sultan Murad II membekali Syaikh Ahmad al Kurani dengan sebilah kayu untuk digunakan jika diperlukan.
Prof Dr Ali Muhammad Ash-Shalabi dalam bukunya berjudul "Bangkit dan Runtuhnya Khilafah Utsmaniyah", menceritakan pada pertemuan pertama, Al-Kurani mengajar Muhammad al-Fatih dengan membawa sebilah kayu tersebut. “Ini pemberian Sultan untuk memukulmu jika kamu tidak disiplin saat belajar,” ujar Syaikh al-Kurani.
Mendengar itu, Muhammad al Fatih malah tertawa. Seketika itu juga Syaikh Kurani memukul Muhammad dengan keras. Muhammad al-Fatih pun terkejut bukan kepalang. Dia tidak menyangka guru barunya benar-benar memukulnya.
Sejak saat itu Muhammad Al Fatih mengalami perubahan yang sangat signifikan. Dia menjadi anak yang patuh dan hormat terhadap gurunya dan mulai belajar dengan serius.
Baca juga: Meriam Raksasa Andalan Sultan Muhammad Al-Fatih
Di tangan Syaikh Kurani inilah awal perubahan sikap Muhammad Al Fatih terjadi. Muhammad tumbuh menjadi pemuda yang keras kemauannya dan serius dalam mewujudkan keinginannya.
Saat penaklukan Konstantinopel dua guru yang mendampingi Sultan al-Fatih. Mereka adalah Syaikh Kurani bersama Syaikh Aaq Syamsuddin. Beliau pula yang menulis surat pemberitahuan penaklukan Konstantinopel kepada penguasa-pengusaha negeri Islam.
Penyesalan Sultan
Terkait Syaikh al-Kurani pernah terjadi satu peristiwa yang membuat Sultam marah. Buku-buku sejarah mengungkapkan bahwa suatu ketika Sultan Muhammad Al-Fatih mengutus salah seorang pelayannya dengan membawa sesuatu yang bergambar kepada Syaikh Ahmad Al-Kurani. Saat itu Syaikh menjadi hakim militer. Syaikh mendapatkan apa yang dibawa oleh pelayan itu bertentangan dengan syariat, maka gambar itu pun dia sobek.
Peristiwa penyobekan kertas bergambar itu sangat memukul perasaan Sultan Muhammad Al-Fatih. Dia marah besar atas perbuatan Syaikh tersebut. Saking marahnya, Sultan memecat Syaikh Kurani dari kedudukannya. Maka terjadilah konflik antara Sultan dengan gurunya itu.
Prof Dr Ali Muhammad Ash-Shalabi dalam bukunya berjudul "Bangkit dan Runtuhnya Khilafah Utsmaniyah", menceritakan pada pertemuan pertama, Al-Kurani mengajar Muhammad al-Fatih dengan membawa sebilah kayu tersebut. “Ini pemberian Sultan untuk memukulmu jika kamu tidak disiplin saat belajar,” ujar Syaikh al-Kurani.
Mendengar itu, Muhammad al Fatih malah tertawa. Seketika itu juga Syaikh Kurani memukul Muhammad dengan keras. Muhammad al-Fatih pun terkejut bukan kepalang. Dia tidak menyangka guru barunya benar-benar memukulnya.
Sejak saat itu Muhammad Al Fatih mengalami perubahan yang sangat signifikan. Dia menjadi anak yang patuh dan hormat terhadap gurunya dan mulai belajar dengan serius.
Baca juga: Meriam Raksasa Andalan Sultan Muhammad Al-Fatih
Di tangan Syaikh Kurani inilah awal perubahan sikap Muhammad Al Fatih terjadi. Muhammad tumbuh menjadi pemuda yang keras kemauannya dan serius dalam mewujudkan keinginannya.
Saat penaklukan Konstantinopel dua guru yang mendampingi Sultan al-Fatih. Mereka adalah Syaikh Kurani bersama Syaikh Aaq Syamsuddin. Beliau pula yang menulis surat pemberitahuan penaklukan Konstantinopel kepada penguasa-pengusaha negeri Islam.
Penyesalan Sultan
Terkait Syaikh al-Kurani pernah terjadi satu peristiwa yang membuat Sultam marah. Buku-buku sejarah mengungkapkan bahwa suatu ketika Sultan Muhammad Al-Fatih mengutus salah seorang pelayannya dengan membawa sesuatu yang bergambar kepada Syaikh Ahmad Al-Kurani. Saat itu Syaikh menjadi hakim militer. Syaikh mendapatkan apa yang dibawa oleh pelayan itu bertentangan dengan syariat, maka gambar itu pun dia sobek.
Peristiwa penyobekan kertas bergambar itu sangat memukul perasaan Sultan Muhammad Al-Fatih. Dia marah besar atas perbuatan Syaikh tersebut. Saking marahnya, Sultan memecat Syaikh Kurani dari kedudukannya. Maka terjadilah konflik antara Sultan dengan gurunya itu.
Lihat Juga :