Begini Cara Syaikh Ahmad Al-Kurani Mendidik Sultan Muhammad Al-Fatih
Selasa, 14 Februari 2023 - 05:15 WIB
loading...
A
A
A
Baca juga: Kisah Vlad Dracula Melawan Sultan Muhammad Al Fatih
Al-Kurani segera berangkat ke Mesir. Di Mesir dia diterima dengan penghormatan tinggi oleh Sultan Mesir Qaytabay. Syaikh tinggal bersamanya beberapa waktu lamanya.
Tak lama kemudian, Sultan Muhammad Al-Fatih menyesali apa yang dia lakukan. Dia pun menulis surat kepada Sultan Qaytabay dan memintanya untuk memulangkan Syaikh Al-Kurani kepadanya. Sultan Qaytabay menceritakan isi surat Sultan Muhammad Al-Fatih kepada Syaikh Al-Kurani. Kemudian Qaytabay berkata. “Janganlah kau kembali padanya, sebab aku menghormatimu lebih dari penghormatannya."
Syaikh Al Kurani menjawab, “Apa yang kau katakan adalah benar. Hanya saja antara aku dan dia, tumbuh rasa saling mencintai yang demikian mulia, layaknya cinta seorang anak kepada orangtuanya. Sedangkan apa yang terjadi antara kita adalah sesuatu yang lain. Dia tahu ini. Dia juga tahu bahwa saya suka padanya secara alami. Maka jika saya tidak datang padanya, dia akan tahu bahwa saya dilarang olehmu dan ini akan menimbulkan permusuhan antara engkau dan dia."
Sultan Qaytabay membenarkan apa yang dikatakan Syaikh. Maka dia pun memberikan uang dalam jumlah besar kepada Al Kurani dan mempersiapkan seluruh keperluan perjalanan. Dia juga mengirimkan hadiah kepada Sultan Muhammad Al-Fatih. Sesampainya di Konstantinopel, Sultan mengangkatnya sebagai hakim kemudian sebagai mufti. Sultan menyediakan semua keperluan Syaikh dan menghormatinya dengan penghormatan tinggi.
Baca juga: Hagia Sophia dan Kehebatan Sultan Muhammad Al-Fatih
Imam Asy-Syaukani berkata, “Syaikh Al-Kurani berubah posisi dari seorang hakim menjadi seorang ahli fatwa. Banyak orang-orang besar datang menemuinya. Dia mensyarah buku Jam’ul Jawami’ dan memberi catatan penting terhadap Jalaluddin Al-Mahalli, seorang mufassir.
Dia menulis tafsir dan mensyarah buku Shahih Bukhari. Dia juga menulis kasidah dalam ilmu 'Arudh dalam 600 bait syair. Dia membangun sebuah masjid dan sekolah di Istambul yang diberi nama Daarul Hadits.
Dunia berada di bawah kekuasaannya dan dia membangun banyak tempat singgah. Ilmunya menyebar ke mana-mana dan diambil oleh banyak orang besar. Dia menunaikan ibadah Haji pada tahun 761 H. Dia tetap terhormat sampai wafatnya pada akhir tahun 792 H. Sultan dan bawahan-bawahannya menyalatkan jenazahnya.
Di antara pembukaan syairnya:
Al-Kurani segera berangkat ke Mesir. Di Mesir dia diterima dengan penghormatan tinggi oleh Sultan Mesir Qaytabay. Syaikh tinggal bersamanya beberapa waktu lamanya.
Tak lama kemudian, Sultan Muhammad Al-Fatih menyesali apa yang dia lakukan. Dia pun menulis surat kepada Sultan Qaytabay dan memintanya untuk memulangkan Syaikh Al-Kurani kepadanya. Sultan Qaytabay menceritakan isi surat Sultan Muhammad Al-Fatih kepada Syaikh Al-Kurani. Kemudian Qaytabay berkata. “Janganlah kau kembali padanya, sebab aku menghormatimu lebih dari penghormatannya."
Syaikh Al Kurani menjawab, “Apa yang kau katakan adalah benar. Hanya saja antara aku dan dia, tumbuh rasa saling mencintai yang demikian mulia, layaknya cinta seorang anak kepada orangtuanya. Sedangkan apa yang terjadi antara kita adalah sesuatu yang lain. Dia tahu ini. Dia juga tahu bahwa saya suka padanya secara alami. Maka jika saya tidak datang padanya, dia akan tahu bahwa saya dilarang olehmu dan ini akan menimbulkan permusuhan antara engkau dan dia."
Sultan Qaytabay membenarkan apa yang dikatakan Syaikh. Maka dia pun memberikan uang dalam jumlah besar kepada Al Kurani dan mempersiapkan seluruh keperluan perjalanan. Dia juga mengirimkan hadiah kepada Sultan Muhammad Al-Fatih. Sesampainya di Konstantinopel, Sultan mengangkatnya sebagai hakim kemudian sebagai mufti. Sultan menyediakan semua keperluan Syaikh dan menghormatinya dengan penghormatan tinggi.
Baca juga: Hagia Sophia dan Kehebatan Sultan Muhammad Al-Fatih
Imam Asy-Syaukani berkata, “Syaikh Al-Kurani berubah posisi dari seorang hakim menjadi seorang ahli fatwa. Banyak orang-orang besar datang menemuinya. Dia mensyarah buku Jam’ul Jawami’ dan memberi catatan penting terhadap Jalaluddin Al-Mahalli, seorang mufassir.
Dia menulis tafsir dan mensyarah buku Shahih Bukhari. Dia juga menulis kasidah dalam ilmu 'Arudh dalam 600 bait syair. Dia membangun sebuah masjid dan sekolah di Istambul yang diberi nama Daarul Hadits.
Dunia berada di bawah kekuasaannya dan dia membangun banyak tempat singgah. Ilmunya menyebar ke mana-mana dan diambil oleh banyak orang besar. Dia menunaikan ibadah Haji pada tahun 761 H. Dia tetap terhormat sampai wafatnya pada akhir tahun 792 H. Sultan dan bawahan-bawahannya menyalatkan jenazahnya.
Di antara pembukaan syairnya:
Lihat Juga :