Allah Taala Mengamanatkan Kerajaan Kecil buat Kita, Begini Penjelasan Imam Al-Ghazali
Rabu, 22 Februari 2023 - 05:15 WIB
loading...
A
A
A
Jadi, sang ahli fisika dan astronomi mengacaukan hukum-hukum yang mereka tangkap dengan Sang Penetap hukum-hukum. Kesalahan yang sama dilemparkan kepada Ibrahim di dalam al-Qur'an yang meriwayatkan bahwa ia berturut-turut berpaling kepada bintang-bintahg, bulan dan matahari sebagai obyek-obyek penyembahan, sampai kemudian menjadi sadar tentang Dia yang membuat segala sesuatu, Ibrahim pun berseru: "Saya tidak menyukai segala sesuatu yang terbenam." (QS 6:76).
Menurut Imam al-Ghazali, kita memiliki sebuah contoh yang sudah umum tentang pengacuan kepada sebab-sebab kedua apa-apa yang seharusnya diacu kepada Sebab Pertama, yaitu dalam persoalan apa yang disebut sebagai penyakit.
Misalnya jika seseorang kehilangan rasa tertariknya pada urusan duniawi, memiliki rasa benci terhadap kesenangan-kesenangan umum, dan tampak tenggelam dalam depresi, dokter akan berkata: "Ini adalah kasus melankoli yang membutuhkan resep ini dan itu."
Seorang ahli fisika akan berkata: "Ini adalah persoalan kekeringan otak yang disebabkan oleh cuaca panas dan tidak bisa disembuhkan sampai udara menjadi lembab kembali."
Baca juga: Watak Tak Berdosa dari Musik dan Tarian Menurut Imam Ghazali
Sang ahli astrologi akan mengaitkan hal ini dengan konjungsi atau oposisi tertentu planet-planet. "Sejauh jangkauan kebijakan mereka," kata al-Qur'an.
Tidak terbayangkan oleh mereka bahwa yang sesungguhnya terjadi adalah seperti demikian: bahwa Yang Maha Kuasa berkehendak mengurus kesejahteraan orang itu, dan oleh karenanya telah memerintahkan hamba-hamba-Nya, yakni planet-planet atau unsur-unsur, agar menciptakan keadaan seperti itu di dalam diri orang tersebut, sehingga ia bisa berpaling dari dunia ke arah Penciptanya.
Pengetahuan tentang kenyataan ini merupakan suatu mutiara yang berkilauan dari lautan pengetahuan keilhaman, yang dibandingkan dengannya, semua bentuk pengetahuan lain menjadi bagaikan pulau-pulau di tengah laut.
Dokter, ahli fisika dan ahli astrologi tersebut, tak syak lagi memang benar dalam cabang pengetahuan-khususnya masing-masing, tetapi mereka tidak bisa melihat bahwa penyakit itu adalah, katakanlah, suatu tali cinta yang digunakanoleh Allah untuk menarik para wali mendekat kepada diri-Nya.
Tentang para wali ini Allah berfirman: "Aku sakit dan kamu tidak menjenguk-Ku." (ini hanya kiasan-pen). Penyakit itu sendiri adalah salah satu di antara bentuk-bentuk pengalaman yang menjadi sarana bagi manusia untuk sampai pada pengetahuan tentang Allah, sebagaimana Ia lewat mulut nabi-Nya (SAW): "Penyakit-penyakit itu sendiri adalah hamba-hamba-Ku, dan dikenakan atas pilihan-Ku."
Catatan-catatan di atas memungkinkan kita memasuki lebih dalam makna seruan-seruan yang melekat di bibir orang-orang mukmin: "Subhanallah, alhamdulillah, la ilaha illallah, allahu akbar."
Baca juga: 7 Ujian Tanda-Tanda Kecintaan kepada Allah Menurut Imam Ghazali
Menurut Imam al-Ghazali, kita memiliki sebuah contoh yang sudah umum tentang pengacuan kepada sebab-sebab kedua apa-apa yang seharusnya diacu kepada Sebab Pertama, yaitu dalam persoalan apa yang disebut sebagai penyakit.
Misalnya jika seseorang kehilangan rasa tertariknya pada urusan duniawi, memiliki rasa benci terhadap kesenangan-kesenangan umum, dan tampak tenggelam dalam depresi, dokter akan berkata: "Ini adalah kasus melankoli yang membutuhkan resep ini dan itu."
Seorang ahli fisika akan berkata: "Ini adalah persoalan kekeringan otak yang disebabkan oleh cuaca panas dan tidak bisa disembuhkan sampai udara menjadi lembab kembali."
Baca juga: Watak Tak Berdosa dari Musik dan Tarian Menurut Imam Ghazali
Sang ahli astrologi akan mengaitkan hal ini dengan konjungsi atau oposisi tertentu planet-planet. "Sejauh jangkauan kebijakan mereka," kata al-Qur'an.
Tidak terbayangkan oleh mereka bahwa yang sesungguhnya terjadi adalah seperti demikian: bahwa Yang Maha Kuasa berkehendak mengurus kesejahteraan orang itu, dan oleh karenanya telah memerintahkan hamba-hamba-Nya, yakni planet-planet atau unsur-unsur, agar menciptakan keadaan seperti itu di dalam diri orang tersebut, sehingga ia bisa berpaling dari dunia ke arah Penciptanya.
Pengetahuan tentang kenyataan ini merupakan suatu mutiara yang berkilauan dari lautan pengetahuan keilhaman, yang dibandingkan dengannya, semua bentuk pengetahuan lain menjadi bagaikan pulau-pulau di tengah laut.
Dokter, ahli fisika dan ahli astrologi tersebut, tak syak lagi memang benar dalam cabang pengetahuan-khususnya masing-masing, tetapi mereka tidak bisa melihat bahwa penyakit itu adalah, katakanlah, suatu tali cinta yang digunakanoleh Allah untuk menarik para wali mendekat kepada diri-Nya.
Tentang para wali ini Allah berfirman: "Aku sakit dan kamu tidak menjenguk-Ku." (ini hanya kiasan-pen). Penyakit itu sendiri adalah salah satu di antara bentuk-bentuk pengalaman yang menjadi sarana bagi manusia untuk sampai pada pengetahuan tentang Allah, sebagaimana Ia lewat mulut nabi-Nya (SAW): "Penyakit-penyakit itu sendiri adalah hamba-hamba-Ku, dan dikenakan atas pilihan-Ku."
Catatan-catatan di atas memungkinkan kita memasuki lebih dalam makna seruan-seruan yang melekat di bibir orang-orang mukmin: "Subhanallah, alhamdulillah, la ilaha illallah, allahu akbar."
Baca juga: 7 Ujian Tanda-Tanda Kecintaan kepada Allah Menurut Imam Ghazali
Lihat Juga :