KH Hasyim Asy'ari: Perbedaan dalam Furu' Sudah Terjadi Sejak Era Sahabat Nabi SAW

Jum'at, 24 Februari 2023 - 14:46 WIB
loading...
KH Hasyim Asyari: Perbedaan...
Kiai Haji Hasyim Asyari mengatakan perbedaan dalam furu sudah terjadi sejak zaman sahabat Nabi. Foto/Ilustrasi: Ist
A A A
Kiai Haji Muhammad Hasyim Asy'ari mengatakan perbedaan dalam furu' (masalah rincian) sudah terjadi sejak zaman para sahabat Nabi SAW , juga pada para pendiri mazhab. Perbedaan ini, menurut Kiai Hasyim, tidak lantas saling menyakiti yang lain.

"Tidak seorang pun dari mereka mencerca yang lain, tidak seorang pun dari mereka mendengki yang lain, dan tidak seorang pun dari mereka menisbatkan yang lain kepada kesalahan dan cacat," ujarnya dalam kitab "al-Tibyan fi al-Nahy 'an Muqata'at al-Arham wa al-Aqarib wa al-Ikhwan".

Menurut beliau, perbedaan dalam furu' antara Imam Abu Hanifah dan Imam Malik terjadi dalam banyak masalah yang jumlahnya mencapai sekitar 14.000. Jumlah tersebut dalam bab-bab ibadat dan mu'amalah.

Juga terjadi perbedaan dalam furu' antara Imam al-Syafi'i dan gurunya, Imam Malik dalam banyak masalah. Jumlahnya mencapai sekitar 6.000. Demikian pula antara Imam Ahmad ibn Hanbal dan gurunya, Imam al-Syafi'i, dalam banyak masalah.

Baca juga: Kisah KH Hasyim Asy'ari dan KH Ahmad Dahlan, Dua Tokoh Satu Guru

Kiai Hasyim menegaskan tidak seorang pun dari mereka yang menyakiti yang lain, tidak seorang pun dari mereka mencerca yang lain, tidak seorang pun dari mereka mendengki yang lain, dan tidak seorang pun dari mereka menisbatkan yang lain kepada kesalahan dan cacat.

"Sebaliknya mereka tetap saling mencintai, saling mendukung sesama saudara mereka, dan masing-masing berdoa untuk segala kebaikan mereka itu," ujar KH Hasyim Asy'ari.

KH Hasyim Asy'ari juga menyebut, terjadi banyak perbedaan pendapat antara para tokoh intern mazhab sendiri pada saat-saat permulaan perkembangannya, seperti antara Imam al-Rafi'i dan Imam al-Nawawi, juga antara Imam Ahmad ibn Hajar dan Imam al-Ramli dan para pengikut mereka.

Sekali lagi, namun "tidak seorang pun dari mereka memusuhi yang lain, tidak seorang pun dari mereka menyakiti yang lain, dan tidak seorang pun dari mereka menisbatkan yang lain kepada kesalahan dan cacat, bahkan sebaliknya mereka selalu saling mencintai, berpersaudaraan, dan saling menolong."

Baca juga: Ada yang Menabukan Ijtihad, Begini Pendapat Cak Nur

Perkembangan Mazhab

Cendekiawan Muslim, Prof. Dr. Nurcholish Madjid, M.A . (1939 – 2005) atau populer dipanggil Cak Nur , mengatakan setelah masa-masa para imam mazhab lewat, yaitu mulai sekitar abad keempat Hijri, maka yang terjadi ialah pertumbuhan dan perkembangan mazhab itu sendiri.

"Jalan pikiran para imam itu menjadi titik tolak, tapi kemudian dikembangkan begitu rupa sehingga yang terwujud ialah sebuah aliran yang meluas dan mendalam dan cukup pada dirinya sendiri (self-sufficient)," ujarnya dalam buku berjudul "Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah" saat membahas tentang tradisi syarah dan hasyiyah dalam fiqih dan masalah stagnasi pemikiran hukum Islam.

Maka dari titik tolak pemikiran Imam al-Syafi'i, misalnya, tumbuh dan berkembang pemikiran yang lebih meluas dan mendalam, yang serba berkecukupan. Karena itu yang ada bukanlah pemikiran Imam al-Syafi'i itu an sich, melainkan pemikiran yang meskipun tetap berwatak "kesyafi'ian" namun dalam banyak hal Imam al-Syafi'i sendiri mungkin tidak lagi tersangkut paut.

"Inilah yang dimaksudkan dengan istilah 'mazhab', yaitu suatu kesatuan pemikiran yang tumbuh dan berkembang, bertitik tolak dari produk intelektual satu orang, namun belum tentu orang tersebut sepenuhnya dapat dipandang sebagai ikut bertanggungjawab," ujarnya.

Baca juga: Cak Nur: Nabi Ibrahim, Musa dan Isa Adalah Tokoh Muslim

Menurut Cak Nur, penilaian ini lebih-lebih beralasan, karena para tokoh pemikir yang menjadi pangkal pengembangan mazhab tersebut semasa hidupnya sendiri sering mengisyaratkan keengganan menjadi pusat pengikutan.

"Jadi sesungguhnya seorang pemikir seperti al-Syafi'i menjadi imam mazhab adalah secara post factum, yaitu setelah fakta perkembangan pemikiran yang bertitik tolak dari dia itu, menjadi kenyataan, setelah dia sendiri lama tiada," lanjutnya.

Pertumbuhan mazhab itu dengan sendirinya terjadi melalui para pengikut tokoh yang kelak disebut "imam mazhab" tersebut. Mula-mula masih terdapat sisa-sisa kreativitas dan keberanian intelektual yang menghasilkan karya-karya tersendiri dengan tingkat orisinalitas yang memadai, seperti yang banyak dilakukan oleh misalnya, al-Za'farani, al-Karabisi, al-Rabi', al-Buwaythi, al-Muzni, dan lain-lain dari kalangan para penganut mazhab Syafi'i. Demikian pula tokoh-tokoh dari mazhab-mazhab yang lain.

Akan tetapi masa itu segera diikuti oleh masa dengan tingkat kreativitas dan orisinalitas intelektual yang lebih rendah. Inilah masa syarah (penjabaran) dan hasyiyah (penjabaran atas syarah).

Menurut Cak Nur, ciri umum masyarakat Muslim saat itu ialah suasana traumatis terhadap perpecahan dan perselisihan, sehingga yang muncul sebagai dambaan atau obsesi utama masyarakat, ialah ketenangan dan ketenteraman.

Baca juga: Bila Ihsan Diwujudkan Secara Nyata dalam Tasawuf Menurut Cak Nur

Cak Nur mengatakan agaknya dambaan mereka tercapai, tapi dengan ongkos yang amat mahal, yaitu stagnasi atau kemandekan. Sebab ketenangan dan ketenteraman itu mereka 'beli' dengan menutup dan mengekang kreativitas intelektual dan penjelasan, atas nama doktrin taqlid dan tertutupnya ijtihad.

Ketidakberanian mengambil risiko salah dalam penelitian dan penjelajahan itu kemudian dirasionalisasikan dengan argumen: Apa yang telah dihasilkan para imam mazhab dan pendukung-pendukung mereka itu seolah-olah sudah 'final', dan apapun produk pemikiran mereka harus diterima sebagai berlaku 'sekali dan untuk selamanya'.

Ditambah lagi dengan keadaan politik negeri-negeri Muslim yang telah mulai kehilangan 'elan vital'-nya antara lain karena banyaknya serbuan-serbuan militer dari Asia Tengah seperti dari kalangan bangsa-bangsa Turki dan Mongol, maka dambaan kepada ketenangan dan ketenteraman menjadi semakin beralasan, yang kemudian lambat laun berkembang menjadi semacam etos di kalangan kaum Muslim di seluruh dunia.

Menurut Cak Nur, karena orisinalitas pemikiran tidak berkembang lagi, maka yang terjadi ialah pengulangan dan penghafalan yang sudah ada. Dan karena pemikiran kritis juga terkekang, maka tercipta suasana bagi tumbuhnya mitos-mitos.

"Jadi tidak berlebihan jika masa itu sering ditunjuk sebagai permulaan kemunduran peradaban Islam, yang kemudian kelak, berakhir dengan kekalahan mereka oleh ummat-ummat lain, khususnya bangsa-bangsa Eropa," demikian Cak Nur.

Baca juga: Umat yang Tunggal Ini Kenyataannya Terpecah, Begini Penjelasan Cak Nur
(mhy)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Artikel Terkait
Kisah Sahabat Nabi :...
Kisah Sahabat Nabi : Uwais Al-Qarni, Pemuda Miskin yang Terkenal di Langit
Kisah Sahabat Nabi :...
Kisah Sahabat Nabi : Karamah Salman Al Farisi
Salman Al Farisi : Sahabat...
Salman Al Farisi : Sahabat Nabi SAW, Ahli Perang dari Iran
Kisah Alqamah, Sahabat...
Kisah Alqamah, Sahabat Nabi yang Mendahulukan istri daripada Ibunya
Siapa yang Menulis Al...
Siapa yang Menulis Al Quran Pertama Kali? Ini Nama-Namanya
Konferensi Internasional...
Konferensi Internasional di Makkah Perkuat Persatuan Umat Islam
Rekomendasi
Tepian Danau Titan Menunjukkan...
Tepian Danau Titan Menunjukkan Bukti Adanya Gelombang Besar
Temuan Ini Buktikan...
Temuan Ini Buktikan Kedekatan Manusia Purba dengan Dinosaurus
Indonesia Akan Kehilangan...
Indonesia Akan Kehilangan Warisan Alam Bagian Terpenting Bumi
Artikel Terkini
Nafkah Setelah Cerai...
Nafkah Setelah Cerai dalam Islam: Hak Mantan Istri dan Anak yang Wajib Dipenuhi
Masyarakat Indonesia...
Masyarakat Indonesia Bangun Islamic Centre Pertama dan Terbesar di Melbourne dari Eks Kantor Polisi
Pernikahan Membuka Pintu...
Pernikahan Membuka Pintu Rezeki, Benarkah?
Penasaran dengan Isi...
Penasaran dengan Isi Kakbah yang dijadikan Kiblat Salat? Simak Penjelasannya di Sini!
Salat Mengarah Kiblat...
Salat Mengarah Kiblat Perintah Langsung dalam Al-Qur'an, Ini Ayat-ayatnya!
Ketika Salah Kiblat,...
Ketika Salah Kiblat, Salatnya Sah atau Tidak? Ini Penjelasan Lengkap Beserta Dalilnya
Infografis
Berjasa dalam Penemuan...
Berjasa dalam Penemuan Obat Kanker, 3 Ilmuwan Meraih Nobel Kimia
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved