Beberapa Inti Pokok Paham Asy'ari Menurut Cak Nur
Selasa, 07 Maret 2023 - 20:04 WIB
loading...
Letak keunggulan sistem Asyari atas lainnya ialah segi metodologinya. Foto/Ilustrasi: Dok. SINDOnews
A
A
A
Cendekiawan Muslim, Prof Dr Nurcholish Madjid (wafat: 29 Agustus 2005) atau Cak Nur mengatakan letak keunggulan sistem Asy'ari atas lainnya ialah segi metodologinya, yang dapat diringkaskan sebagai jalan tengah antara berbagai ekstremitas.
Menurutnya, ketika menggunakan metodologi manthiq atau logika Aristoteles, ia tidaklah menggunakannya sebagai kerangka kebenaran itu an sich, melainkan sekadar alat untuk membuat kejelasan-kejelasan, dan itu pun hanya dalam urutan sekunder.
"Sebab bagi al-Asy'ari, sebagai seorang pendukung Ahl al-Hadits, yang primer ialah teks-teks suci sendiri, baik yang dari Kitab maupun yang dari Sunnah , menurut makna harfiah atau literernya," ujar Cak Nur dalam buku berjudul "Islam, Doktrin dan Peradaban".
Oleh karena itu, menurut Cak Nur, kalaupun ia melakukan takwil, ia lakukan hanya secara sekunder pula, yaitu dalam keadaan tidak bisa lagi dilakukan penafsiran harfiah. Hasilnya ialah suatu jalan tengah antara metode harfi kaum Hanbali dan metode takwili kaum Mu'tazili .
"Di tengah-tengah berkecamuknya dengan hebat polemik dan kontroversi dalam dunia intelektual Islam saat itu, metode yang ditempuh al-Asy'ari ini merupakan jalan keluar yang memuaskan banyak pihak. Itulah alasan utama penerimaan paham Asy'ari hampir secara universal, dan itu pula yang membuatnya begitu kukuh dan awet sampai sekarang," jelas Cak Nur.
Baca juga: Hikmah, Kebajikan yang Berlimpah Menurut Cak Nur
Menurut Cak Nur, meskipun begitu, inti pokok paham Asy'ari ialah Sunnisme . Hal ini ia kemukakan sendiri dalam bukunya yang sangat bagus dan sistematis, yaitu Maqalat al-Islamiyyin wa Ikhtilaf al-Mushallin atau "Pendapat-pendapat Kaum Islam dan Perselisihan Kaum Bersembahyang".
Cak Nur menganggap ini adalah sebuah buku heresiografi (catatan tentang berbagai penyimpangan atau bid'ah) dalam Islam yang sangat dihargai karena kejujuran dan obyektifitas dan kelengkapannya.
Dalam meneguhkan pahamnya sendiri, terlebih dahulu al-Asy'ari menuturkan paham Ahl al-Hadits seperti yang ada pada kaum Hanbali, kemudian mengakhirinya dengan penegasan bahwa ia mendukung paham itu dan menganutnya.
Sebelum kita mengutip pendapat atau paham Asy'ari, maka kita perlu tahu apa yang dimaksud paham tersebut. Disebut paham Asy'ari, kita maksudkan keseluruhan penjabaran simpul ('aqidah) atau simpul-simpul ('aqa'id) kepercayaan Islam dalam Ilmu Kalam yang bertitik tolak dari rintisan seorang tokoh besar pemikir Islam, Abu al-Hasan 'Ali al-Asy'ari.
Beliau dari Basrah, Iraq, yang lahir pada 260 H/873 M dan wafat pada 324 H./935 M. Jadi dia tampil sekitar satu abad setelah Imam al-Syafi'i (wafat pada 204 H/819 M), atau setengah abad setelah al-Bukhari (wafat pada 256 H/870 M) dan hidup beberapa belas tahun sezaman dengan pembukuan hadis yang terakhir dari tokoh yang enam, yaitu al-Tirmidzi (wafat pada 279 H/892 M).
Dengan kata lain, al-Asy'ari tampil pada saat-saat konsolidasi paham Sunnah di bidang hukum atau fiqih, dengan pembukuan hadis yang menjadi bagian mutlaknya, telah mendekati penyelesaian. Dan penampilan al-Asy'ari membuat lengkap sudah konsolidasi paham Sunnah itu, yaitu dengan penalaran ortodoksnya di bidang keimanan atau akidah.
Baca juga: Ada yang Menabukan Ijtihad, Begini Pendapat Cak Nur
Keterangan al-Asy'ari
Menurutnya, ketika menggunakan metodologi manthiq atau logika Aristoteles, ia tidaklah menggunakannya sebagai kerangka kebenaran itu an sich, melainkan sekadar alat untuk membuat kejelasan-kejelasan, dan itu pun hanya dalam urutan sekunder.
"Sebab bagi al-Asy'ari, sebagai seorang pendukung Ahl al-Hadits, yang primer ialah teks-teks suci sendiri, baik yang dari Kitab maupun yang dari Sunnah , menurut makna harfiah atau literernya," ujar Cak Nur dalam buku berjudul "Islam, Doktrin dan Peradaban".
Oleh karena itu, menurut Cak Nur, kalaupun ia melakukan takwil, ia lakukan hanya secara sekunder pula, yaitu dalam keadaan tidak bisa lagi dilakukan penafsiran harfiah. Hasilnya ialah suatu jalan tengah antara metode harfi kaum Hanbali dan metode takwili kaum Mu'tazili .
"Di tengah-tengah berkecamuknya dengan hebat polemik dan kontroversi dalam dunia intelektual Islam saat itu, metode yang ditempuh al-Asy'ari ini merupakan jalan keluar yang memuaskan banyak pihak. Itulah alasan utama penerimaan paham Asy'ari hampir secara universal, dan itu pula yang membuatnya begitu kukuh dan awet sampai sekarang," jelas Cak Nur.
Baca juga: Hikmah, Kebajikan yang Berlimpah Menurut Cak Nur
Menurut Cak Nur, meskipun begitu, inti pokok paham Asy'ari ialah Sunnisme . Hal ini ia kemukakan sendiri dalam bukunya yang sangat bagus dan sistematis, yaitu Maqalat al-Islamiyyin wa Ikhtilaf al-Mushallin atau "Pendapat-pendapat Kaum Islam dan Perselisihan Kaum Bersembahyang".
Cak Nur menganggap ini adalah sebuah buku heresiografi (catatan tentang berbagai penyimpangan atau bid'ah) dalam Islam yang sangat dihargai karena kejujuran dan obyektifitas dan kelengkapannya.
Dalam meneguhkan pahamnya sendiri, terlebih dahulu al-Asy'ari menuturkan paham Ahl al-Hadits seperti yang ada pada kaum Hanbali, kemudian mengakhirinya dengan penegasan bahwa ia mendukung paham itu dan menganutnya.
Sebelum kita mengutip pendapat atau paham Asy'ari, maka kita perlu tahu apa yang dimaksud paham tersebut. Disebut paham Asy'ari, kita maksudkan keseluruhan penjabaran simpul ('aqidah) atau simpul-simpul ('aqa'id) kepercayaan Islam dalam Ilmu Kalam yang bertitik tolak dari rintisan seorang tokoh besar pemikir Islam, Abu al-Hasan 'Ali al-Asy'ari.
Beliau dari Basrah, Iraq, yang lahir pada 260 H/873 M dan wafat pada 324 H./935 M. Jadi dia tampil sekitar satu abad setelah Imam al-Syafi'i (wafat pada 204 H/819 M), atau setengah abad setelah al-Bukhari (wafat pada 256 H/870 M) dan hidup beberapa belas tahun sezaman dengan pembukuan hadis yang terakhir dari tokoh yang enam, yaitu al-Tirmidzi (wafat pada 279 H/892 M).
Dengan kata lain, al-Asy'ari tampil pada saat-saat konsolidasi paham Sunnah di bidang hukum atau fiqih, dengan pembukuan hadis yang menjadi bagian mutlaknya, telah mendekati penyelesaian. Dan penampilan al-Asy'ari membuat lengkap sudah konsolidasi paham Sunnah itu, yaitu dengan penalaran ortodoksnya di bidang keimanan atau akidah.
Baca juga: Ada yang Menabukan Ijtihad, Begini Pendapat Cak Nur
Keterangan al-Asy'ari
Lihat Juga :