Ini Beda Tobat Orang Awam dengan Ulama Menurut Gus Baha
Kamis, 09 Maret 2023 - 19:06 WIB
loading...
A
A
A
"Sesungguhnya telah disebutkan bahwa umat-umat terdahulu yang melakukan perbuatan seperti itu, tobat mereka tidak diterima, karena sesungguhnya hal ini merupakan kekhususan bagi syariat Nabi pembawa tobat, yaitu Nabi pembawa rahmat; semoga salawat dan salam Allah terlimpahkan kepadanya," ujarnya.
Baca juga: Jangan Menunda Tobat, Rasulullah Tobat Setiap Hari Meski Beliau Maksum
Kebanyakan mufassir dalam manafsirkan ayat ini berkenaan dengan kecaman Allah kepada orang-orang yang menyembunyikan kebenaran Nabi Muhammad yang terdapat dalam Taurat. Yang dimaksud adalah Abdullah bin Aslam berserta keluarganya. Namun Allah mengecualikan laknat-Nya, dengan syarat mereka mau melakukan poin-poin yang ditawarkan, yaitu; bertobat, memperbaiki diri, dan menjelaskan kebenaran. Ini merujuk pada tiga kata dalam ayat tersebut, taabuu, ashlahuu, dan bayyaanuu.
Dalam Tafsir al-Thabari dinyatakan bahwa ayat ini bersinggungan dengan kecaman Allah kepada orang-orang yang menyembunyikan kebenaran, kecuali orang-orang yang ingin bertaubat.
Sedangkan jalan yang harus ditempuhnya adalah mengikuti nilai al-Quran yang dibawa oleh Rasulullah SAW, memperbaiki perilaku, dan mendekatkan diri kepada-Nya dengan melakukan amal-amal saleh.
Senada dengan itu, al-Qurthubi menilai bahwa hendaklah bagi orang-orang yang bertobat dan memperbaiki diri, melaksanakannya secara serius sambil aktif melakukan amal-amal kebajikan. Sebab, al-Qur'an berulang kali menerangkan bahwa Allah membuka pintu tobat yang seluas-luasnya bagi mereka yang hendak kembali ke tempat yang damai, dengan tekad serta niat yang kuat, dan diiringi pula dengan amal perbuatannya.
Baca juga: Cara Mengetahui Tobat Kita Diterima Allah
Al-Thabari sedikit menyayangkan sebagian Mufassir yang menjelaskan kata bayyanuu dalam ayat ini dengan tobat secara ikhlas dalam melaksanakan amal perbuatannya. Agaknya, penafsiran yang demikian, menurut al-Thabari, sedikit menyimpang dari zahir ayat. Karena ayat ini berangkat dari kecaman Allah kepada mereka yang menyembunyikan kebenaran Muhammad sebagai nabi terakhir dalam al-Kitab.
Inilah yang kemudian ditegaskan oleh Ibnu Katsir, bahwa kata bayyanuu dalam ayat ini, menunjukkan adanya tuntutan bagi seseorang (yang berilmu) agar tidak menyembunyikan kebenaran al-Quran. Sebagaimana dalam beberapa hadis dinyatakan bahwa Rasulullah SAW bersabda
مَنْ سُئِلَ عَنْ عِلْمٍ فَكَتَمَهُ الْجِمَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنْ نَار
Baca juga: Jangan Menunda Tobat, Rasulullah Tobat Setiap Hari Meski Beliau Maksum
Kebanyakan mufassir dalam manafsirkan ayat ini berkenaan dengan kecaman Allah kepada orang-orang yang menyembunyikan kebenaran Nabi Muhammad yang terdapat dalam Taurat. Yang dimaksud adalah Abdullah bin Aslam berserta keluarganya. Namun Allah mengecualikan laknat-Nya, dengan syarat mereka mau melakukan poin-poin yang ditawarkan, yaitu; bertobat, memperbaiki diri, dan menjelaskan kebenaran. Ini merujuk pada tiga kata dalam ayat tersebut, taabuu, ashlahuu, dan bayyaanuu.
Dalam Tafsir al-Thabari dinyatakan bahwa ayat ini bersinggungan dengan kecaman Allah kepada orang-orang yang menyembunyikan kebenaran, kecuali orang-orang yang ingin bertaubat.
Sedangkan jalan yang harus ditempuhnya adalah mengikuti nilai al-Quran yang dibawa oleh Rasulullah SAW, memperbaiki perilaku, dan mendekatkan diri kepada-Nya dengan melakukan amal-amal saleh.
Senada dengan itu, al-Qurthubi menilai bahwa hendaklah bagi orang-orang yang bertobat dan memperbaiki diri, melaksanakannya secara serius sambil aktif melakukan amal-amal kebajikan. Sebab, al-Qur'an berulang kali menerangkan bahwa Allah membuka pintu tobat yang seluas-luasnya bagi mereka yang hendak kembali ke tempat yang damai, dengan tekad serta niat yang kuat, dan diiringi pula dengan amal perbuatannya.
Baca juga: Cara Mengetahui Tobat Kita Diterima Allah
Al-Thabari sedikit menyayangkan sebagian Mufassir yang menjelaskan kata bayyanuu dalam ayat ini dengan tobat secara ikhlas dalam melaksanakan amal perbuatannya. Agaknya, penafsiran yang demikian, menurut al-Thabari, sedikit menyimpang dari zahir ayat. Karena ayat ini berangkat dari kecaman Allah kepada mereka yang menyembunyikan kebenaran Muhammad sebagai nabi terakhir dalam al-Kitab.
Inilah yang kemudian ditegaskan oleh Ibnu Katsir, bahwa kata bayyanuu dalam ayat ini, menunjukkan adanya tuntutan bagi seseorang (yang berilmu) agar tidak menyembunyikan kebenaran al-Quran. Sebagaimana dalam beberapa hadis dinyatakan bahwa Rasulullah SAW bersabda
مَنْ سُئِلَ عَنْ عِلْمٍ فَكَتَمَهُ الْجِمَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنْ نَار
Lihat Juga :