Ketum Muhammadiyah Ungkap 4 Nilai Spiritualitas dalam Puasa, Salah Satunya Hidup Toleran
Selasa, 21 Maret 2023 - 21:35 WIB
loading...
Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir berharap Ramadan dalam menghadirkan pribadi yang luhur dan utama. FOTO/DOK.SINDOnews
A
A
A
JAKARTA - Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah Haedar Nashir mengungkapkan empat nilai penting dalam ibadah puasa Ramadan. Jika nilai-nilai spiritual itu dapat diraih, maka akan muncul pribadi yang luhur dan utama.
Hal ini disampaikan Haedar Nashir menyambut bulan suci Ramadan 1444 H. Muhammadiyah sendiri telah menetapkan awal Ramadan tahun ini jatuh pada Kamis, 23 Maret 2023.
"Puasa merupakan proses pembentukan ketakwaan yang secara ideal melahirkan spiritualitas utama dan luhur. Puasa tidak boleh hanya menjadi ibadah rutinas tahunan, tetapi mesti ada signifikansi peningkatan kualitas diri setiap umat Islam," kata Haedar Nashir dalam keterangan tertulisnya, Selasa (21/3/2023).
Baca juga: Ini Penetapan 1 Ramadhan, Syawal, dan Dzulhijjah 1444 H /2023 M Menurut Muhammadiyah
Setidaknya terpda empat poin penting terkait nilai-nilai spiritualitas ibadah puasa. Pertama, puasa adalah momentum untuk semakin dekat dengan Allah. Sebagai bagian dari ibadah mahdlah, puasa merupakan aktivitas yang hanya boleh dilakukan karena Allah. Tunduk dan patuh kepada Allah dengan menjalankan ibadah puasa merupakan satu langkah untuk menjadi insan yang baik. Insan yang tidak mungkin tergoda melakukan perkara-perkara yang dilarang agama seperti risywah, namimah, dan madzmumah.
"Orang yang dekat dengan Allah, ia tidak akan menyimpang, tidak akan korupsi, ia tidak akan menyeleweng dan melakukan hal-hal buruk lainnya, meski ia memiliki peluang (berbuat buruk). Dengan puasa akan terjadi gerakan spiritualitas tertinggi, di mana setiap muslim akan terjaga hidupnya," kata Profesor Ilmu Sosiologi ini.
Kedua, puasa merupakan momentum membiasakan akhlak mulia. Allah mengutus Nabi Muhammad SAW untuk menyempurnakan akhlak manusia. Puasa merupakan salah satu cara untuk membentuk akhlak yang mulia. Orang yang berpuasa secara sungguh-sungguh, seluruh jiwanya akan tunduk dengan penuh kepasrahan kepada Allah.
Baca juga: Sidang Isbat Awal Ramadan Digelar 22 Maret 2023, Ini Daftar Lengkap 123 Lokasi Rukyatul Hilal
Mereka akan senantiasa menyebarkan pesan-pesan kebaikan disertai dengan perilaku yang menjunjung tinggi nilai-nilai etika dan moral.
"Puasa dijadikan sarana untuk menundukkan diri agar kita tidak menjadi orang-orang yang berlebihan, karena puasa mengajarkan kita untuk belajar untuk tidak berlebihan. Sikap hidup mewah bertentangan dengan kebiasaan dan kebaikan puasa maupun ajaran agama secara keseluruhan," ucap Haedar.
Hal ini disampaikan Haedar Nashir menyambut bulan suci Ramadan 1444 H. Muhammadiyah sendiri telah menetapkan awal Ramadan tahun ini jatuh pada Kamis, 23 Maret 2023.
"Puasa merupakan proses pembentukan ketakwaan yang secara ideal melahirkan spiritualitas utama dan luhur. Puasa tidak boleh hanya menjadi ibadah rutinas tahunan, tetapi mesti ada signifikansi peningkatan kualitas diri setiap umat Islam," kata Haedar Nashir dalam keterangan tertulisnya, Selasa (21/3/2023).
Baca juga: Ini Penetapan 1 Ramadhan, Syawal, dan Dzulhijjah 1444 H /2023 M Menurut Muhammadiyah
Setidaknya terpda empat poin penting terkait nilai-nilai spiritualitas ibadah puasa. Pertama, puasa adalah momentum untuk semakin dekat dengan Allah. Sebagai bagian dari ibadah mahdlah, puasa merupakan aktivitas yang hanya boleh dilakukan karena Allah. Tunduk dan patuh kepada Allah dengan menjalankan ibadah puasa merupakan satu langkah untuk menjadi insan yang baik. Insan yang tidak mungkin tergoda melakukan perkara-perkara yang dilarang agama seperti risywah, namimah, dan madzmumah.
"Orang yang dekat dengan Allah, ia tidak akan menyimpang, tidak akan korupsi, ia tidak akan menyeleweng dan melakukan hal-hal buruk lainnya, meski ia memiliki peluang (berbuat buruk). Dengan puasa akan terjadi gerakan spiritualitas tertinggi, di mana setiap muslim akan terjaga hidupnya," kata Profesor Ilmu Sosiologi ini.
Kedua, puasa merupakan momentum membiasakan akhlak mulia. Allah mengutus Nabi Muhammad SAW untuk menyempurnakan akhlak manusia. Puasa merupakan salah satu cara untuk membentuk akhlak yang mulia. Orang yang berpuasa secara sungguh-sungguh, seluruh jiwanya akan tunduk dengan penuh kepasrahan kepada Allah.
Baca juga: Sidang Isbat Awal Ramadan Digelar 22 Maret 2023, Ini Daftar Lengkap 123 Lokasi Rukyatul Hilal
Mereka akan senantiasa menyebarkan pesan-pesan kebaikan disertai dengan perilaku yang menjunjung tinggi nilai-nilai etika dan moral.
"Puasa dijadikan sarana untuk menundukkan diri agar kita tidak menjadi orang-orang yang berlebihan, karena puasa mengajarkan kita untuk belajar untuk tidak berlebihan. Sikap hidup mewah bertentangan dengan kebiasaan dan kebaikan puasa maupun ajaran agama secara keseluruhan," ucap Haedar.
Lihat Juga :