Ide-Ide Brilian Muhammad Al-Fatih Tundukkan Konstantinopel
Minggu, 19 Juli 2020 - 05:00 WIB
loading...
A
A
A
Pada setiap tingkatan benteng kayu, ditempatkan sejumlah pasukan terlatih. Pasukan yang berada di bagian paling atas ialah para pemanah yang bertugas melontarkan panah ke arah pasukan musuh yang berada di atas pagar.
Cara demikian lagi-lagi membuat pasukan dan rakyat Konstantinopel dicekam ketakutan lebih dahsyat lagi. Mereka mengira, benteng-benteng kayu itu laksana raksasa besar yang akan mengoyak pagar-pagar pelindung kota. Terlebih ketika gelombang serangan pasukan Utsmani semakin dekat ke pagar pembatas pintu Rumanos yang tinggi. (Baca juga: Hagia Sophia, Lebih dari Sekadar Tempat Ibadah )
Melihat kondisi demikian, Kaisar disertai para komandan segera bergerak menahan gerak laju benteng kayu dan mencoba mengusirnya. Tetapi pasukan Utsmani justru semakin mendekati pagar kota. Di sana berkecamuk perang dahsyat antara pasukan mujahidin Utsmani dengan pasukan Nasrani. Ada sebagian pasukan Islam yang berhasil memanjat pagar dengan selamat.
Constantine mengira, bahwa kekalahan telah tiba, namun para pengawal kota berusaha keras menghujani benteng kayu bergerak itu dengan api, sehingga sedikit-sedikit benteng kayu terbakar. (Baca juga: Hagia Sophia Saksi Tingginya Akhlak Sultan Muhammad Al-Fatih )
Kebakaran itu tenyata juga menimpa benteng Byzantium yang posisinya dekat dengan benteng kayu pasukan Utsmani. Akibatnya orang-orang yang ada di dalamnya ikut terbakar juga, dan parit-parit dipenuhi dengan batu dan debu.
Peristiwa ini tidak mengendurkah tekad tentara Utsmani untuk menaklukkan kota. Bahkan Muhammad Al-Fatih yang mengawasi langsung peristiwa tersebut berkata, “Kita akan membuat empat buah benteng kayu semisal itu besok!" (Baca juga: Hagia Sophia dan Masjid-Masjid yang Menjadi Gereja )
Pengepungan terus dilakukan dan semakin kuat, sehingga menambah ketakutan orang-orang Byantium yang berada di dalam kota. Para pemimpin kota mengadakan pertemuan kembali pada tanggal 24 Mei di istana kekaisaran yang langsung dihadiri Kaisar sendiri.
Pada pertemuan itu, puncak putus asa sudah memenuhi wajah orang-orang yang berkumpul. Hingga di antara mereka ada yang mengusulkan kepada Kaisar agar segera melarikan diri, sebelum kota jatuh ke tangan pasukan Utsmani, sehingga dia bisa berusaha membangkitkan lagi kekuatan Byzantium andaikan nanti Konstantinopel jatuh. Namun Kaisar lagi-lagi menolak usulan tersebut. Dia tetap tak bergeming dengan pendiriannya. Dia segera keluar untuk memeriksa pagar pembatas dan benteng pertahanan. (Baca juga: Meriam Raksasa Andalan Sultan Muhammad Al-Fatih )
Menurut Ash-Shalabi, rumor jatuhnya Kota Konstantinopel menyebar luas di dalam kota dan sekaligus melemahkan semangat pasukan Romawi itu. Salah satu berita yang santer beredar adalah, tanggal 16 Jumadil Ula yang bertepatan dengan tanggal 24 Mei. Ketika itu penduduk Kota Konstantinopel membawa patung Maryam Sang Perawan, lalu diarak keliling kota, sebagai upaya meminta pertolongan Bunda Maryam. Tetapi tiba-tiba patung itu jatuh dari tangan mereka, lalu hancur.
Kejadian ini mereka anggap sebagai pertanda buruk dan isyarat bahaya. Para penduduk kota sangat terpengaruh dengan peristiwa itu, termasuk para pasukan yang bertugas mempertahankan kota. (Baca juga: Sejarah Hagia Sophia, antara Katedral Kristen Ortodoks dan Masjid )
Cara demikian lagi-lagi membuat pasukan dan rakyat Konstantinopel dicekam ketakutan lebih dahsyat lagi. Mereka mengira, benteng-benteng kayu itu laksana raksasa besar yang akan mengoyak pagar-pagar pelindung kota. Terlebih ketika gelombang serangan pasukan Utsmani semakin dekat ke pagar pembatas pintu Rumanos yang tinggi. (Baca juga: Hagia Sophia, Lebih dari Sekadar Tempat Ibadah )
Melihat kondisi demikian, Kaisar disertai para komandan segera bergerak menahan gerak laju benteng kayu dan mencoba mengusirnya. Tetapi pasukan Utsmani justru semakin mendekati pagar kota. Di sana berkecamuk perang dahsyat antara pasukan mujahidin Utsmani dengan pasukan Nasrani. Ada sebagian pasukan Islam yang berhasil memanjat pagar dengan selamat.
Constantine mengira, bahwa kekalahan telah tiba, namun para pengawal kota berusaha keras menghujani benteng kayu bergerak itu dengan api, sehingga sedikit-sedikit benteng kayu terbakar. (Baca juga: Hagia Sophia Saksi Tingginya Akhlak Sultan Muhammad Al-Fatih )
Kebakaran itu tenyata juga menimpa benteng Byzantium yang posisinya dekat dengan benteng kayu pasukan Utsmani. Akibatnya orang-orang yang ada di dalamnya ikut terbakar juga, dan parit-parit dipenuhi dengan batu dan debu.
Peristiwa ini tidak mengendurkah tekad tentara Utsmani untuk menaklukkan kota. Bahkan Muhammad Al-Fatih yang mengawasi langsung peristiwa tersebut berkata, “Kita akan membuat empat buah benteng kayu semisal itu besok!" (Baca juga: Hagia Sophia dan Masjid-Masjid yang Menjadi Gereja )
Pengepungan terus dilakukan dan semakin kuat, sehingga menambah ketakutan orang-orang Byantium yang berada di dalam kota. Para pemimpin kota mengadakan pertemuan kembali pada tanggal 24 Mei di istana kekaisaran yang langsung dihadiri Kaisar sendiri.
Pada pertemuan itu, puncak putus asa sudah memenuhi wajah orang-orang yang berkumpul. Hingga di antara mereka ada yang mengusulkan kepada Kaisar agar segera melarikan diri, sebelum kota jatuh ke tangan pasukan Utsmani, sehingga dia bisa berusaha membangkitkan lagi kekuatan Byzantium andaikan nanti Konstantinopel jatuh. Namun Kaisar lagi-lagi menolak usulan tersebut. Dia tetap tak bergeming dengan pendiriannya. Dia segera keluar untuk memeriksa pagar pembatas dan benteng pertahanan. (Baca juga: Meriam Raksasa Andalan Sultan Muhammad Al-Fatih )
Menurut Ash-Shalabi, rumor jatuhnya Kota Konstantinopel menyebar luas di dalam kota dan sekaligus melemahkan semangat pasukan Romawi itu. Salah satu berita yang santer beredar adalah, tanggal 16 Jumadil Ula yang bertepatan dengan tanggal 24 Mei. Ketika itu penduduk Kota Konstantinopel membawa patung Maryam Sang Perawan, lalu diarak keliling kota, sebagai upaya meminta pertolongan Bunda Maryam. Tetapi tiba-tiba patung itu jatuh dari tangan mereka, lalu hancur.
Kejadian ini mereka anggap sebagai pertanda buruk dan isyarat bahaya. Para penduduk kota sangat terpengaruh dengan peristiwa itu, termasuk para pasukan yang bertugas mempertahankan kota. (Baca juga: Sejarah Hagia Sophia, antara Katedral Kristen Ortodoks dan Masjid )
(mhy)
Lihat Juga :