Kaum Kebatinan dalam Islam Menurut Cak Nur
Rabu, 29 Maret 2023 - 04:00 WIB
loading...
Kaum sufi juga dimasukkan ke dalam kelompok kebatinan. Foto/Ilustrasi: Ist
A
A
A
Cendekiawan Muslim, Prof Dr Nurcholish Madjid, MA (17 Maret 1939 – 29 Agustus 2005) atau populer dipanggil Cak Nur menjelaskan istilah al-Bathiniyyun, kadang-kadang juga Ahl al-Bawathin (Kaum Kebatinan) digunakan secara longgar untuk mengidentifikasi kelompok-kelompok Islam yang orientasinya berat ke arah paham keagamaan yang lebih mengutamakan usaha menangkap makna dalam (batin) dari suatu teks atau ajaran agama.
Menurut Cak Nur, istilah tersebut berlaku untuk hampir semua kelompok esoteris Islam, termasuk kaum Sufi. "Oleh kaum Sunni istilah itu juga secara khusus digunakan untuk kelompok Islam tertentu, terutama kaum Isma'ili, penganut aliran Isma'iliyyah, yaitu suatu pecahan aliran Syi'ah yang muncul sesudah wafat Isma'il ibn Ja'far al-Shadiq sekitar 148 H (765 M)," tulisnya saat membahas masalah Takwil sebagai metodologi penafsiran al-Quran".
Mereka juga dinamakan kaum Syi'ah Sab'iyyah (Syi'ah Tujuh), karena kepercayaan mereka pada imam-imam yang tujuh (yaitu sejak Hasan ibn 'Ali sampai Muhammad ibn Isma'il (ibn Ja'far al-Shadiq ibn Muhammad al-Baqir).
Baca juga: Pandangan Islam Terhadap Syiah dan Ahmadiyah
Dalam hal paham keimanan itu mereka berbeda dengan umumnya golongan Syi'ah Itsna 'Asy'ariyyah (Syi'ah Duabelas). Kepercayaan Syi'ah Itsna 'Asy'ariyyah pada imam-imam yang duabelas jumlahnya, sejak dari Hasan ibn 'Ali sebagai imam pertama, melalui Ja'far al-Shadiq seperti kaum Isma'ili, tapi menyimpang ke Musa al-Kadhim ibn Jafar--dan bukannya ke Muhammad ibn Isma'il-- kemudian berakhir dengan Muhammad al-Muntadhar, yang dipercayai sekarang sedang bersembunyi dan akan kembali sebagai Imam Mahdi.
Adalah al-Bathiniyyun ini yang menjadi salah satu sasaran karya-karya polemis pemikir Sunni al-Ghazali dalam rangka usahanya menghancurkan filsafat. Sebab dalam melakukan ta'wil terhadap fakta-fakta tekstual agama, para pengikut Syi'ah Isma'iliyyah ini memang banyak sekali menggunakan sumber-sumber filsafat, khususnya Neo-Platonisme.
Mereka memang masih memiliki persamaan dengan orang-orang Muslim lain, seperti pandangan tentang kewajiban melakukan ibadat-ibadat tertentu. Tapi mereka juga berpegang pada paham tentang adanya ajaran-ajaran esoteris (batin) yang membentuk sistem filsafat kaum Isma'ili.
Dalam gabungannya dengan semangat keagamaan mereka, sistem filsafat itu menyediakan penyimpangan kandungan batin ajaran-ajaran agama yang antara lain, bagi mereka, memberi dukungan pada usaha pembuktian bahwa lembaga imamat (keimaman) adalah langsung dari Tuhan.
Baca juga: Ketika Imam Syafi'i Dituduh Syiah Rafidhah, Ini yang Sebenarnya
Menurut Cak Nur, pembuktian itu diperoleh antara lain karena doktrin, semua ajaran agama (Islam) selalu mengandung makna lahir dan makna batin. Tapi karena orang awam, seperti juga menjadi pandangan kaum filsuf, tak mampu menangkap makna batin yang sulit itu, malah berbahaya bagi mereka, maka makna batin itu ditujukan hanya pada orang-orang istimewa tertentu saja.
Makna dan kebenaran agama, khususnya kandungan al-Qur'an, yang tersembunyi dan dirahasiakan itu hanya diberikan Nabi kepada Ali, kemenakan, menantu dan sahabat yang menjadi kepercayaan beliau. Maka hanya mereka yang memiliki kemampuan spiritual yang tinggi sajalah yang mampu mengakui peranan khusus 'Ali, dan hanya mereka inilah yang dapat menangkap makna-makna batiniah agama.
Unsur Neo-Platonis Kaum Kebatinan ini kemudian muncul dalam karya kefilsafatan besar --yang ditulis sekelompok sarjana yang menamakan diri mereka Ikhwan al-Shafa' (Persaudaraan Suci)-- Risalat Ikhwan al-Shafa.
Selain unsur Neo-Platonis, kata Cak Nur, paham kebatinan ini juga menunjukkan tanda-tanda adanya pengarah Manicheanisme, yaitu suatu pecahan agama Majusi (Zoroastrianisme).
Menurut Cak Nur, istilah tersebut berlaku untuk hampir semua kelompok esoteris Islam, termasuk kaum Sufi. "Oleh kaum Sunni istilah itu juga secara khusus digunakan untuk kelompok Islam tertentu, terutama kaum Isma'ili, penganut aliran Isma'iliyyah, yaitu suatu pecahan aliran Syi'ah yang muncul sesudah wafat Isma'il ibn Ja'far al-Shadiq sekitar 148 H (765 M)," tulisnya saat membahas masalah Takwil sebagai metodologi penafsiran al-Quran".
Mereka juga dinamakan kaum Syi'ah Sab'iyyah (Syi'ah Tujuh), karena kepercayaan mereka pada imam-imam yang tujuh (yaitu sejak Hasan ibn 'Ali sampai Muhammad ibn Isma'il (ibn Ja'far al-Shadiq ibn Muhammad al-Baqir).
Baca juga: Pandangan Islam Terhadap Syiah dan Ahmadiyah
Dalam hal paham keimanan itu mereka berbeda dengan umumnya golongan Syi'ah Itsna 'Asy'ariyyah (Syi'ah Duabelas). Kepercayaan Syi'ah Itsna 'Asy'ariyyah pada imam-imam yang duabelas jumlahnya, sejak dari Hasan ibn 'Ali sebagai imam pertama, melalui Ja'far al-Shadiq seperti kaum Isma'ili, tapi menyimpang ke Musa al-Kadhim ibn Jafar--dan bukannya ke Muhammad ibn Isma'il-- kemudian berakhir dengan Muhammad al-Muntadhar, yang dipercayai sekarang sedang bersembunyi dan akan kembali sebagai Imam Mahdi.
Adalah al-Bathiniyyun ini yang menjadi salah satu sasaran karya-karya polemis pemikir Sunni al-Ghazali dalam rangka usahanya menghancurkan filsafat. Sebab dalam melakukan ta'wil terhadap fakta-fakta tekstual agama, para pengikut Syi'ah Isma'iliyyah ini memang banyak sekali menggunakan sumber-sumber filsafat, khususnya Neo-Platonisme.
Mereka memang masih memiliki persamaan dengan orang-orang Muslim lain, seperti pandangan tentang kewajiban melakukan ibadat-ibadat tertentu. Tapi mereka juga berpegang pada paham tentang adanya ajaran-ajaran esoteris (batin) yang membentuk sistem filsafat kaum Isma'ili.
Dalam gabungannya dengan semangat keagamaan mereka, sistem filsafat itu menyediakan penyimpangan kandungan batin ajaran-ajaran agama yang antara lain, bagi mereka, memberi dukungan pada usaha pembuktian bahwa lembaga imamat (keimaman) adalah langsung dari Tuhan.
Baca juga: Ketika Imam Syafi'i Dituduh Syiah Rafidhah, Ini yang Sebenarnya
Menurut Cak Nur, pembuktian itu diperoleh antara lain karena doktrin, semua ajaran agama (Islam) selalu mengandung makna lahir dan makna batin. Tapi karena orang awam, seperti juga menjadi pandangan kaum filsuf, tak mampu menangkap makna batin yang sulit itu, malah berbahaya bagi mereka, maka makna batin itu ditujukan hanya pada orang-orang istimewa tertentu saja.
Makna dan kebenaran agama, khususnya kandungan al-Qur'an, yang tersembunyi dan dirahasiakan itu hanya diberikan Nabi kepada Ali, kemenakan, menantu dan sahabat yang menjadi kepercayaan beliau. Maka hanya mereka yang memiliki kemampuan spiritual yang tinggi sajalah yang mampu mengakui peranan khusus 'Ali, dan hanya mereka inilah yang dapat menangkap makna-makna batiniah agama.
Unsur Neo-Platonis Kaum Kebatinan ini kemudian muncul dalam karya kefilsafatan besar --yang ditulis sekelompok sarjana yang menamakan diri mereka Ikhwan al-Shafa' (Persaudaraan Suci)-- Risalat Ikhwan al-Shafa.
Selain unsur Neo-Platonis, kata Cak Nur, paham kebatinan ini juga menunjukkan tanda-tanda adanya pengarah Manicheanisme, yaitu suatu pecahan agama Majusi (Zoroastrianisme).