Puasa Ramadan Membentuk Diri yang Bertakwa dan Toleran
Rabu, 29 Maret 2023 - 21:37 WIB
loading...
A
A
A
Prof Andi berpesan tentang pentingnya menjaga kebersamaan sesama anak bangsa. Rasa kebersamaan dapat dibentuk dengan melibatkan seluruh pihak yang ada. Tidak hanya kalangan elitnya saja yang mendapatkan panggung, tapi masyarakat juga bisa menyalurkan pendapatnya dengan bebas dan bertanggung jawab.
"Dalam prinsip kebersamaan ada yang disebut dengan konsensus, atau musyawarah mufakat. Hal ini penting kita jadikan pegangan, bahwa kita dapat duduk bersama, ada hasil rapat yang kita sepakati, dan semua orang harus diberikan kesempatan untuk berpendapat. Jangan kemudian hanya tokohnya itu saja yang bicara tapi tidak mau mendengarkan pandangan anggota masyarakatnya," katanya.
Prof Andi kemudian mencontohkan Rasulullah SAW selalu mendengarkan masukan dari para sahabat. Walaupun Nabi memiliki kedudukan tertinggi di Kota Madinah, tapi ia tetap memberikan ruang bicara bagi rakyatnya yang ingin menyampaikan gagasannya.
"Rasulullah ketika dulu mau perang seringkali minta pandangan sahabatnya, seperti Salman Al-Farisi, Umar bin Khattab, Abu Bakar, Usman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, dan yang lainnya. Padahal Rasulullah sendiri sudah dituntun oleh wahyu Ilahi, tapi masih mau mendengarkan pandangan para sahabatnya," tuturnya.
"Pernah suatu ketika salah satu sahabat bertanya, "Apakah ini wahyu Rasulullah?" Kalau Rasulullah bilang bukan wahyu, maka sahabat itu akan memberikan pandangannya. Seperti itulah Rasulullah sudah mengajarkan kita tentang musyawarah, dan itu juga termasuk dalam nilai-nilai Pancasila," kata Prof Andi.
"Dalam prinsip kebersamaan ada yang disebut dengan konsensus, atau musyawarah mufakat. Hal ini penting kita jadikan pegangan, bahwa kita dapat duduk bersama, ada hasil rapat yang kita sepakati, dan semua orang harus diberikan kesempatan untuk berpendapat. Jangan kemudian hanya tokohnya itu saja yang bicara tapi tidak mau mendengarkan pandangan anggota masyarakatnya," katanya.
Prof Andi kemudian mencontohkan Rasulullah SAW selalu mendengarkan masukan dari para sahabat. Walaupun Nabi memiliki kedudukan tertinggi di Kota Madinah, tapi ia tetap memberikan ruang bicara bagi rakyatnya yang ingin menyampaikan gagasannya.
"Rasulullah ketika dulu mau perang seringkali minta pandangan sahabatnya, seperti Salman Al-Farisi, Umar bin Khattab, Abu Bakar, Usman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, dan yang lainnya. Padahal Rasulullah sendiri sudah dituntun oleh wahyu Ilahi, tapi masih mau mendengarkan pandangan para sahabatnya," tuturnya.
"Pernah suatu ketika salah satu sahabat bertanya, "Apakah ini wahyu Rasulullah?" Kalau Rasulullah bilang bukan wahyu, maka sahabat itu akan memberikan pandangannya. Seperti itulah Rasulullah sudah mengajarkan kita tentang musyawarah, dan itu juga termasuk dalam nilai-nilai Pancasila," kata Prof Andi.
(abd)
Lihat Juga :