Puasa Ramadan Membentuk Diri yang Bertakwa dan Toleran
Rabu, 29 Maret 2023 - 21:37 WIB
loading...
Guru Besar di Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi UIN Jakarta, Prof Andi M Faisal Bakti. FOTO/IST
A
A
A
JAKARTA - Puasa Ramadan dalam perspektif Islam sering dikaitkan dengan momentum pembelajaran untuk mengendalikan nasfu manusia. Karena itu, puasa Ramadan diharapkan dapat membentuk pribadi menjadi lebih baik lagi.
Hal ini disampaikan Guru Besar di Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi Universitas Islam Negeri (UIN) Jakarta, Prof Andi M Faisal Bakti. Menurutnya, ketika seseorang bisa mengendalikan diri dari hal-hal yang sebenarnya halal di luar bulan puasa, maka ia bisa mengendalikan nafsu dari hal yang diharamkan agama.
"Makna puasa dari bahasa Arab ada dua kata, ada asshiyam, ada asshoum. Maksudnya adalah menahan diri sifatnya fisik, seperti makan, minum, hubungan suami-istri, apalagi yang tidak suami-istri, itu pasti dilarang. Menahan diri ini juga ada yang sifatnya non-fisik, seperti mengontrol nafsu makan dan nafsu untuk marah," kata Prof Andi, Rabu (29/3/2023).
Prof Andi menjelaskan, nafsu bisa berupa ketertarikan terhadap hal-hal yang sifatnya abstrak. Nafsu perlu dikendalikan agar tidak terjebak pada perbuatan buruk seperti mencela atau mengungkit kesalahan orang lain. Menurutnya, ibadah puasa merupakan kunci dalam membangun manusia yang kokoh kepribadiannya, sehingga ia bisa sabar dan memaafkan orang lain. Hal ini sesuai dengan firman Allah dalam Al-Qur'an bahwa umat diperintahkan berpuasa itu agar menjadi orang yang bertakwa.
Peraih gelar doktoral dari McGill University of Canada ini juga berpesan tentang pentingnya menjaga toleransi di bulan Ramadan. Toleransi bisa terbentuk ketika seseorang bisa mengedepankan prasangka baik terhadap orang lain. Membangun toleransi perlu dilakukan baik dari yang berpuasa kepada yang tidak, maupun sebaliknya.
"Kita harus membangun toleransi pada saudara kita yang berpuasa. Jadi jangan kita tunjukkan di depan dia ketika kita makan. Sebaliknya, orang yang berpuasa juga harus mengetahui bahwa ada orang yang tidak puasa dan perlu difasilitasi, misalnya seorang musafir atau orang yang sedang sakit. Di kota-kota besar seharusnya ada rumah makan yang tetap buka, sehingga bisa melayani orang-orang yang tidak berpuasa, selama tidak dilakukan di tempat terbuka," ujar Prof Andi.
Baca juga: Memaknai Keberkahan Ramadan (3): Momentum Melakukan Reorientasi Hidup
Ia mengaitkan sifat toleran dengan kemampuan menerima perbedaan pandangan. Dalam hidup bermasyarakat, pasti akan sering menemukan sudut pandang yang berbeda dengan apa yang telah masing-masing yakini. Di sinilah pentingnya bisa menempatkan diri sebagai mitra yang setara dan bukan merasa benar sendiri.
"Kita dengarkan dulu pandangan orang lain, sepanjang pandangan itu mempunyai data, argumentasi, atau logika. Kemudian kita juga kemukakan pandangan kita sendiri. Kuncinya adalah ta'arafu, saling recognize, saling mengenal," katanya.
Hal ini disampaikan Guru Besar di Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi Universitas Islam Negeri (UIN) Jakarta, Prof Andi M Faisal Bakti. Menurutnya, ketika seseorang bisa mengendalikan diri dari hal-hal yang sebenarnya halal di luar bulan puasa, maka ia bisa mengendalikan nafsu dari hal yang diharamkan agama.
"Makna puasa dari bahasa Arab ada dua kata, ada asshiyam, ada asshoum. Maksudnya adalah menahan diri sifatnya fisik, seperti makan, minum, hubungan suami-istri, apalagi yang tidak suami-istri, itu pasti dilarang. Menahan diri ini juga ada yang sifatnya non-fisik, seperti mengontrol nafsu makan dan nafsu untuk marah," kata Prof Andi, Rabu (29/3/2023).
Prof Andi menjelaskan, nafsu bisa berupa ketertarikan terhadap hal-hal yang sifatnya abstrak. Nafsu perlu dikendalikan agar tidak terjebak pada perbuatan buruk seperti mencela atau mengungkit kesalahan orang lain. Menurutnya, ibadah puasa merupakan kunci dalam membangun manusia yang kokoh kepribadiannya, sehingga ia bisa sabar dan memaafkan orang lain. Hal ini sesuai dengan firman Allah dalam Al-Qur'an bahwa umat diperintahkan berpuasa itu agar menjadi orang yang bertakwa.
Peraih gelar doktoral dari McGill University of Canada ini juga berpesan tentang pentingnya menjaga toleransi di bulan Ramadan. Toleransi bisa terbentuk ketika seseorang bisa mengedepankan prasangka baik terhadap orang lain. Membangun toleransi perlu dilakukan baik dari yang berpuasa kepada yang tidak, maupun sebaliknya.
"Kita harus membangun toleransi pada saudara kita yang berpuasa. Jadi jangan kita tunjukkan di depan dia ketika kita makan. Sebaliknya, orang yang berpuasa juga harus mengetahui bahwa ada orang yang tidak puasa dan perlu difasilitasi, misalnya seorang musafir atau orang yang sedang sakit. Di kota-kota besar seharusnya ada rumah makan yang tetap buka, sehingga bisa melayani orang-orang yang tidak berpuasa, selama tidak dilakukan di tempat terbuka," ujar Prof Andi.
Baca juga: Memaknai Keberkahan Ramadan (3): Momentum Melakukan Reorientasi Hidup
Ia mengaitkan sifat toleran dengan kemampuan menerima perbedaan pandangan. Dalam hidup bermasyarakat, pasti akan sering menemukan sudut pandang yang berbeda dengan apa yang telah masing-masing yakini. Di sinilah pentingnya bisa menempatkan diri sebagai mitra yang setara dan bukan merasa benar sendiri.
"Kita dengarkan dulu pandangan orang lain, sepanjang pandangan itu mempunyai data, argumentasi, atau logika. Kemudian kita juga kemukakan pandangan kita sendiri. Kuncinya adalah ta'arafu, saling recognize, saling mengenal," katanya.
Lihat Juga :