Memaknai Keberkahan Ramadan (5): Ampunan Allah yang Tiada Batas
Jum'at, 31 Maret 2023 - 01:05 WIB
loading...
A
A
A
Singkat cerita, sang Ibu sakit keras dan masuk rumah sakit. Berhari-hari Imam Ayub menunggui ibunya di rumah sakit. Hingga di waktu-waktu menjelang sakratul maut, Imam Ayub memeluk ibunya, menangis dan menyampaikan hal ini: "Ibuku, saya cinta Ibu. Saya tidak bisa membayar jasamu kepadaku. Hanya satu hadiah yang ingin saya berikan kepadamu, Ibuku."
Sambil memeluk Ibunya, Imam Ayub dengan suara pelan membisikkan: "Asy-hadu anlaa ilaaha illallah wa asy-hadu anna Muhammadan Rasulullah."
Dan di detik-detik terakhir hidupnya itu sang Ibu menerima Kalimah Tauhid. Menerima kunci surga itu. Alhamdulillah.
Satu kisah lagi. Yang ini juga Ibu seorang Mualaf yang sekarang jadi Da'i. Beliau adalah Syeikh Muhammad Yasin, seorang da'i yang sangat gigih di kota New York. Seorang warga Warga kulit putih, pernah mengenyam pendidikan Islam di Madinah.
Sejak kembali dari Madinah satu hal yang ingin beliau lakukan. Yaitu ingin merawat dan membahagiakan Ibunya yang telah tua. Dan untuk itu beliau menikah karena ingin fokus merawat Ibunya yang sakit-sakitan. Ibunya tidak pernah mau menerima Islam. Bahkan terbuka mengatakan agama ini bukan untuknya. Tapi Syeikh Yasin tidak pernah mendesak. Hanya menunjukkan bakti dan cinta kepada Ibunya.
Hingga pada suatu Ibunya sakit keras dan krusial. Di momen-momen itulah Syeikh Yasin mendekat ke telinga Ibunya dan mengajaknya menerima: "Laa ilaaha illallah - Muhammad Rasulullah." Dan beliau menerimanya hanya sesaat sebelum menghembuskan nafas terakhirnya.
Kedua, cerita benaran (real story) dari New York di atas menyampaikan pesan bahwa seorang manusia itu selalu ada harapan. Karena memang kasih sayang Allah itu lebih luas dari segala dosa dan kesalahan manusia.
Semangat ini jugalah yang kita harus bangun di bulan Ramadan ini. Karena Sungguh di bulan ini secara khusus Allah bukakan pintu-pintu magfiraNya seluas-luasnya. Semoga Allah mengampuni dosa-dosa kita semua. Aamin!
(Bersambung)!
Baca Juga: Memaknai Keberkahan Ramadan (4): Bulan Menempa Karakter dan Akhlak Mulia
Sambil memeluk Ibunya, Imam Ayub dengan suara pelan membisikkan: "Asy-hadu anlaa ilaaha illallah wa asy-hadu anna Muhammadan Rasulullah."
Dan di detik-detik terakhir hidupnya itu sang Ibu menerima Kalimah Tauhid. Menerima kunci surga itu. Alhamdulillah.
Satu kisah lagi. Yang ini juga Ibu seorang Mualaf yang sekarang jadi Da'i. Beliau adalah Syeikh Muhammad Yasin, seorang da'i yang sangat gigih di kota New York. Seorang warga Warga kulit putih, pernah mengenyam pendidikan Islam di Madinah.
Sejak kembali dari Madinah satu hal yang ingin beliau lakukan. Yaitu ingin merawat dan membahagiakan Ibunya yang telah tua. Dan untuk itu beliau menikah karena ingin fokus merawat Ibunya yang sakit-sakitan. Ibunya tidak pernah mau menerima Islam. Bahkan terbuka mengatakan agama ini bukan untuknya. Tapi Syeikh Yasin tidak pernah mendesak. Hanya menunjukkan bakti dan cinta kepada Ibunya.
Hingga pada suatu Ibunya sakit keras dan krusial. Di momen-momen itulah Syeikh Yasin mendekat ke telinga Ibunya dan mengajaknya menerima: "Laa ilaaha illallah - Muhammad Rasulullah." Dan beliau menerimanya hanya sesaat sebelum menghembuskan nafas terakhirnya.
Kedua, cerita benaran (real story) dari New York di atas menyampaikan pesan bahwa seorang manusia itu selalu ada harapan. Karena memang kasih sayang Allah itu lebih luas dari segala dosa dan kesalahan manusia.
Semangat ini jugalah yang kita harus bangun di bulan Ramadan ini. Karena Sungguh di bulan ini secara khusus Allah bukakan pintu-pintu magfiraNya seluas-luasnya. Semoga Allah mengampuni dosa-dosa kita semua. Aamin!
(Bersambung)!
Baca Juga: Memaknai Keberkahan Ramadan (4): Bulan Menempa Karakter dan Akhlak Mulia
(rhs)
Lihat Juga :