Apakah Lebaran Ikut Pemerintah atau Muhammadiyah?
Senin, 17 April 2023 - 19:17 WIB
loading...
A
A
A
Baca juga: Hisab Ramadhan, Syawal, dan Zulhijah 1441 H Menurut Muhammadiyah
Kempat, rukyat diartikan sebagai rukyat bil ‘ilmi. Menurut Arwin, betapapun kata derivasi “ra’a” dalam literatur hadis Nabi SAW terkait rukyat bermakna melihat dengan mata, pengertian “ru’yah” itu sendiri secara bahasa dapat pula bermakna melihat secara ilmiah (ilmu). Rukyat bil ‘ilmi sejatinya sinonim dengan hisab.
Kelima, sifat ummy (buta huruf dan angka) sudah hilang. Menurut Arwin, saat ini rukyat bukan kriteria mutlak untuk memastikan masuknya sebuah awal bulan. Zaman Nabi SAW menggunakan rukyat karena masyarakatnya masih belum mampu membaca dan menghitung. ‘Illat ini telah hilang, sehingga rukyat tidak lagi relevan untuk digunakan sebagai metode penentuan awal bulan.
Keenam, Rukyat adalah sarana, bukan tujuan ataupun cara mutlak dalam penentuan awal bulan. Rukyat bukan merupakan bagian dari ibadah puasa, ia hanya bagian dari cara teknis untuk menentukan masuknya awal bulan. Sehingga mengganti rukyat dengan hisab, tidak menghilangkan esensi dari ibadah puasa.
Ketujuh, hisab bersifat qath’i/yaqin, sedangkan rukyat bersifat zhanni.
Kedelapan, analogikan penentuan awal bulan dengan penentuan waktu salat. Jika waktu salat menggunakan hisab, mengapa tidak untuk menentukan awal bulan. “Tidak ada asalan bagi kita untuk tidak menerima hisab dalam penentuan awal-awal bulan hijriah, di antaranya Ramadan, Syawal, dan Zulhijah,” ujar Arwin.
Baca juga: Kapan Lebaran? Ini Dalil Mengapa NU Selalu Ikuti Keputusan Pemerintah
Hasil Hisab 1 Syawal 1444 H
Oman Fathurohman yang menyampaikan makalah berjudul “Hasil hisab 1 Syawal dan 1 Zulhijah 1444 H” menjelaskan cara dan hasil perhitungan awal Syawal dan Zulhijah tahun ini. Tinggi hilal pada awal Syawal di Yogyakarta adalah +01° 47’ 58’’ (sudah wujud). Ketinggian hilal lebih rendah untuk daerah sebelah Timur Yogyakarta, seperti Makassar dan Papua.
Sedangkan daerah di sebelah Barat, antara lain Jakarta, Aceh, dan Arab Saudi ketinggian hilal lebih tinggi. “Karena semakin ke Barat, maka tinggi hilal semakin Tinggi,” pungkas Oman.
Kempat, rukyat diartikan sebagai rukyat bil ‘ilmi. Menurut Arwin, betapapun kata derivasi “ra’a” dalam literatur hadis Nabi SAW terkait rukyat bermakna melihat dengan mata, pengertian “ru’yah” itu sendiri secara bahasa dapat pula bermakna melihat secara ilmiah (ilmu). Rukyat bil ‘ilmi sejatinya sinonim dengan hisab.
Kelima, sifat ummy (buta huruf dan angka) sudah hilang. Menurut Arwin, saat ini rukyat bukan kriteria mutlak untuk memastikan masuknya sebuah awal bulan. Zaman Nabi SAW menggunakan rukyat karena masyarakatnya masih belum mampu membaca dan menghitung. ‘Illat ini telah hilang, sehingga rukyat tidak lagi relevan untuk digunakan sebagai metode penentuan awal bulan.
Keenam, Rukyat adalah sarana, bukan tujuan ataupun cara mutlak dalam penentuan awal bulan. Rukyat bukan merupakan bagian dari ibadah puasa, ia hanya bagian dari cara teknis untuk menentukan masuknya awal bulan. Sehingga mengganti rukyat dengan hisab, tidak menghilangkan esensi dari ibadah puasa.
Ketujuh, hisab bersifat qath’i/yaqin, sedangkan rukyat bersifat zhanni.
Kedelapan, analogikan penentuan awal bulan dengan penentuan waktu salat. Jika waktu salat menggunakan hisab, mengapa tidak untuk menentukan awal bulan. “Tidak ada asalan bagi kita untuk tidak menerima hisab dalam penentuan awal-awal bulan hijriah, di antaranya Ramadan, Syawal, dan Zulhijah,” ujar Arwin.
Baca juga: Kapan Lebaran? Ini Dalil Mengapa NU Selalu Ikuti Keputusan Pemerintah
Hasil Hisab 1 Syawal 1444 H
Oman Fathurohman yang menyampaikan makalah berjudul “Hasil hisab 1 Syawal dan 1 Zulhijah 1444 H” menjelaskan cara dan hasil perhitungan awal Syawal dan Zulhijah tahun ini. Tinggi hilal pada awal Syawal di Yogyakarta adalah +01° 47’ 58’’ (sudah wujud). Ketinggian hilal lebih rendah untuk daerah sebelah Timur Yogyakarta, seperti Makassar dan Papua.
Sedangkan daerah di sebelah Barat, antara lain Jakarta, Aceh, dan Arab Saudi ketinggian hilal lebih tinggi. “Karena semakin ke Barat, maka tinggi hilal semakin Tinggi,” pungkas Oman.
(mhy)
Lihat Juga :