Memahami Makna Manusia Pengemban Tugas Kekhalifahan

Kamis, 20 April 2023 - 04:00 WIB
loading...
Memahami Makna Manusia...
Syaikh Muhammad Imarah. Foto/Ilustrasi: Ist
A A A
Pemikir Islam kontemporer asal Mesir, Muhammad Imarah (1931-2020) mengatakansikap Islam tentang hubungan antara manusia, kekayaan, dan harta, serta hak-haknya untuk mendapatkan nikmat dan kekayaan yang diciptakan oleh Allah SWT, yang disebarkan dalam alam ini, merupakan sikap Islam yang dibangun di atas filsafat kekhalifahan dan istikhlaf.

Muhammad Imarah dalam buku yang diterjemahkan Abdul Hayyie al Kattani berjudul "Islam dan Keamanan Sosial" (Gema Insani Press, 1999) menjelaskankata "istikhlaf" --dalam bahasa Arab-- adalah bentuk mashdar. Maknanya adalah: menjadikan khalifah (pengganti), yang menggantikan dan menjalankan peran yang diamanatkan dalam kerangka istikhlaf itu.

Ia menjelaskan ketika Allah SWT hendak menciptakan Adam as , Allah memberitahukan kepada malaikat-malaikat-Nya bahwa Dia akan menjadikannya sebagai khalifah Allah di muka bumi. Yang bertugas untuk mengemban amanat ilmu, berusaha, menanggung beban dan responsibilitas, serta membangun bumi itu. Allah SWT berfirman kepada para malaikat, seperti tertulis dalam Al Quran:

"Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: "Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi". Mereka berkata: "Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?" Tuhan berfirman: "Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui." [ QS Al Baqarah : 30].

Baca juga: Perang Sesama Umat Islam di Era Khalifah, Begini Penjelasan Muhammad Imarah

Pemberian amanat kekhalifahan ini, yang dikehendaki oleh Allah SWT, kepada manusia di muka bumi, adalah ungkapan yang paling tepat dan paling cocok untuk menjelaskan tentang kedudukan manusia dalam wujud ini, tentang risalah manusia dalam kehidupan dunia ini, dan tentang tugas Tuhan yang diemban manusia dalam perjalanannya di muka bumi ini.

Seseorang yang memberikan suatu tugas perwakilan kepada orang lain untuk menjalankan sesuatu hal, tentulah ia perlu memberikan batasan tentang tugasnya itu, batasan wewenang yang ia emban, dan prinsip-prinsip utama yang harus diperhatikan sebagai batasan kebebasannya dalam menjalankan tugas itu.

Tugas kekhalifahan atau perwakilan yang diemban itu hanya bersifat perantara, tidak mencapai tingkat sang pemberi wewenang. Juga tidak sampai merendah hingga pada tingkatan seseorang yang tidak mempunyai kewenangan sama sekali dalam tugasnya itu.

Menurutnya, dengan pengertian kekhalifahan seperti inilah Islam melihat kedudukan manusia dalam wujud ini. Yaitu sebagai makhluk yang mengemban tugas kekhalifahan, yang mendapatkan wewenang untuk membangun bumi ini, dan yang mempunyai kehendak bebas untuk mengambil tindakan dalam batasan kewenangannya itu.

Karena dengan sifat kebebasan yang beraturan itulah manusia dapat mengemban tugas membangun dunia ini. Namun demikian, kehendak bebas dan inisiatifnya itu harus tunduk dengan aturan-aturan dan batasan-batasan kewenangan tugas kekhalifahan atau syari'ah Ilahiah itu. Yang menjadi rambu-rambu, aturan, batasan dan skup operasional tugas perwakilan dan amanah kekhalifahan itu.

Baca juga: 5 Wasiat Nabi Adam kepada Putranya Nabi Syith

Filsafat Materialis

Muhammad Imarah menjelaskan makna istikhlaf dan kedudukan khalifah (manusia) ini yang menjadi ciri filsafat pandangan Islam terhadap kedudukan manusia di alam semesta ini (yaitu sebagai pengemban tugas kekhalifahan dari Sang Pencipta semesta alam) adalah makna yang tidak dapat dicapai oleh filsafat-filsafat materialis dan peradaban-peradaban yang dibangun di atasnya.

Mengapa? Karena mereka menuhankan manusia, dan menjadikan para pahlawan mereka sebagai tuhan-tuhan. Atau mereka memanusiakan Tuhan, dan berpendapat bahwa Tuhan telah merasuk dan telah berfusi dalam diri manusia.

Orang-orang Yunani (dalam peradaban Yunani kuno) menjadikan pahlawan-pahlawan mereka, yang manusia itu, sebagai tuhan-tuhan. Ini adalah suatu tindakan menuhankan manusia.

Selanjutnya, kata Muhammad Imarah, saat orang-orang Romawi memeluk Kristen, mereka memasukkan pemahaman paganis ini ke dalam ajaran Kristen, sebagai ganti pentauhidan terhadap Sang Khaliq dan penyucian-Nya dari segala keserupaan terhadap alam.

Mereka menuhankan Isa bin Maryam as dengan alasan bahwa Lahut telah merasuk dalam Nasut (Tuhan telah berfusi dengan makhluk)! Dua sikap tadi (yaitu menuhankan manusia, atau memanusiakan Tuhan) amat berbeda jauh dengan filsafat kekhalifahan. Sehingga mereka menjadikan manusia sebagai pemilik mutlak semesta ini, bukan sebagai pengemban amanah kekhalifahan Tuhan di muka bumi ini.

Baca juga: Rasulullah Saksikan Protes Nabi Musa kepada Nabi Adam

Kesalahan dan penyelewengan terhadap filsafat kekhalifahan dan istikhlaf inilah yang menjadikan manusia peradaban materialis, baik pada era Yunani-Paganis, atau pada era Barat-Sekuler, mengumbar kebebasan kemanusiaan mereka dengan sebebas-bebasnya. Tanpa ada ikatan, batasan, atau ruang lingkup yang diberikan oleh hukum dari langit.

Jika filsafat kekhalifahan dan istikhlaf itu lenyap, lenyap pulalah ikatan, batasan, prinsip, serta sifat transaksasi dan pendelegasian kekhalifahan itu. Inilah yang menjadikan kebebasan manusia, dengan pengertian Barat, dan selanjutnya sistem demokrasi (dalam filsafat Barat) tidak patuh, dalam masalah-masalah keduniaan, dengan batasan-batasan halal dan haram yang diberikan oleh agama, untuk membatasi kebebasan manusia dan mengatur urusan-urusan duniawi mereka.

Sebaliknya, menurut Muhammad Imarah, dengan penyelewangan pandangan materialis ini (dalam melihat kedudukan manusia dalam wujud) adalah filsafat-filsafat agama bumi. Seperti Nirvana, dan sebagian aliran tasawuf-falsafi-bathini.

Filsafat-filsafat ini membawa ajaran yang menafikkan kebebasan dan kemampuan apapun dari manusia. Sehingga ia melihatnya sebagai suatu makhluk yang "hina dan fana", yang kebebasannya, kesuciannya dan peningkatan derajatnya hanya dapat dicapai dengan "peleburan diri", dan memfanakan jiwa dalam Yang Mutlak, atau dalam Dzat "Allah"!

Baca juga: Bahaya Filsafat Terhadap Aqidah

Sikap ekstrim dalam membelenggu dan menilai rendah manusia ini, serta penafikan kebebasannya, adalah juga suatu penyelewangan dari pandangan moderasi Islam. Yang melihat manusia sebagai khalifah Allah di muka bumi, yang Allah berikan wewenang kekhalifahan kepadanya untuk membangun bumi ini. Allah berikan kepadanya dasar-dasar kebebasan, kemampuan dan kreativitas, yang tidak mengeluarkannya dari lingkup tugas kekhalifahan dan duta Tuhan.

Manusia bukan tuan atau pemilik atas alam ini, juga bukan sesuatu makhluk hina yang fana dalam dzat lainnya. Namun ia adalah makhluk yang berada di tengah antara dua posisi itu --materialisme dan bathini-- ia bertugas mengemban amanah kekhalifahan dari Tuhan semesta alam ini, yang menjadikannya sebagai penguasa dalam dunia ini, namun bukan penguasa dan pemilik dunia ini!

Allah SWT menundukkan kekuatan-kekuatan alam dan kekayaan-kekayaan bumi, dengan segala kandungannya. Manusia baginya --dalam ungkapan Imam Syaikh Muhammad Abduh (1265-1323 H/ 1849-1905 M) adalah: "Hamba bagi Allah SWT semata, dan penguasa bagi segala sesuatu selain Allah SWT". Inilah pemahaman tentang istikhlaf, kekhilafahan dan kedudukan manusia dalam wujud ini.
(mhy)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Artikel Terkait
Momen Vicky Shu Belajar...
Momen Vicky Shu Belajar Al-Fatihah Bahasa Isyarat Bersama Disabilitas Tunarungu
Berapa Lama Seluruh...
Berapa Lama Seluruh Ayat Al Quran Diturunkan? Ini Fakta di Balik 22 Tahun Perjalanannya!
Dukung Pemenuhan Kebutuhan...
Dukung Pemenuhan Kebutuhan Al-Qur'an, Sinar Mas Wakafkan 2.000 Mushaf kepada ICMI
Segera Hadir untuk Umat...
Segera Hadir untuk Umat Muslim, Al-Qur’an Terjemah Bahasa Betawi
Penjelasan Mulianya...
Penjelasan Mulianya Kedudukan Perempuan dalam Al-Qur'an
Wamenag Jelaskan Inovasi...
Wamenag Jelaskan Inovasi Mushaf Al-Qur’an Isyarat kepada Menteri Besar Kelantan
Rekomendasi
Cacing Api Serbu Pesisir...
Cacing Api Serbu Pesisir Teluk Texas, Warga AS Diminta Hindari Pantai
Lebih Dulu Zigot atau...
Lebih Dulu Zigot atau Embrio? Perspektif Al-Quran dan Sains Modern
Warga Dilarang Mati...
Warga Dilarang Mati di Kota Ini, Berikut Alasan Ilmiahnya
Artikel Terkini
Komisi VIII DPR Beri...
Komisi VIII DPR Beri Sinyal Ongkos Haji 2027 Naik
Tata Cara Menguburkan...
Tata Cara Menguburkan Jenazah Sesuai Syariat Islam, Lengkap dari Awal hingga Akhir
Salat Jenazah, Pahala...
Salat Jenazah, Pahala dan Keutamaan 2 Qirath Beserta Bacaan Niat Lengkap
6 Adab Syariyah Mengurus...
6 Adab Syar'iyah Mengurus Orang yang Baru Meninggal Dunia
Mengawetkan Jenazah...
Mengawetkan Jenazah dalam Islam, Bolehkah Dilakukan? Ini Penjelasan Ulama
Hukum Menunda Penguburan...
Hukum Menunda Penguburan Jenazah dalam Islam, Kapan Diperbolehkan?
Infografis
Ilmuwan Temukan Planet...
Ilmuwan Temukan Planet yang Berpotensi Bisa Dihuni Manusia
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved