Hijrah, Anugerah yang Tidak Semua Orang Bisa Mendapatkannya
Jum'at, 28 April 2023 - 15:59 WIB
loading...
Hidayah hijrah merupakan anugerah terindah dari Allah Subhanahu wa taala, bahkan banyak kenikmatan yang akan dirasakan. Foto ilustrasi/ist
A
A
A
Hidayah hijrah merupakan anugerah terindah dari Allah Subhanahu wa ta'ala. Ada banyak kenikmatan yang akan dirasakan, terutama nikmat melaksanakan ibadah dan menaati semua perintah sang Khalik. Dalam sebuah hadis qudsi Allah Ta’ala berfirman :
“Wahai sekalian hamba-Ku, kalian semua berada dalam kesesatan kecuali yang Kuberi petunjuk, maka mintalah petunjuk kepada-Ku, niscaya akan Kuberi petunjuk.” (HR. Muslim)
Hadis tersebut memberikan beberapa pelajaran, antara lain:
1. Bila seorang bertanya tentang anugerah Allah yang terindah, maka hidayah -lah jawabannya.
Bisa salat tepat waktu karena hidayah dari Allah. Bisa puasa karena hidayah dari Allah. Muslimah bisa menuntut ilmu karena hidayah dari Allah, dan seterusnya. Bahkan, kita bisa hidup bersama Allah karena hidayah-Nya. Merasakan manisnya iman dan indahnya Islam juga karena hidayah-Nya.
2. Allah Ta’ala memerintahkan kita, untuk meminta petunjuk-Nya, karena hanya Allah saja yang bisa membuka hati kita, menjadikan hati tunduk dan ridho terhadap kebenaran.
3. Hidayah adalah anugerah Allah yang teragung dan terindah.
Bila kita diperintahkan untuk mensyukuri nikmat-nikmat Allah, maka nikmat hidayah adalah yang paling harus kita syukuri. Syukur dengan ucapan, perbuatan dan pengakuan bahwa nikmat itu datang dari Allah.
4. Imam Asy-Syuyuthi rahimahullah menjelaskan dalam tafsirnya, mengenai sebab turunnya ayat di bawah ini. Beliau menukil riwayat dari Ibnu Abbas Radhiyallahu’anhu, Ibnu Abbas berkata,” Umayah bin Kholaf, Abu Jahl serta beberapa orang Quraisy pergi menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu mereka berkata, "Wahai Muhammad kemari sembahlah Tuhan kami, niscaya kami akan masuk ke agamamu bersamamu.”
Berat terasa oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk berpisah dengan kaumnya, beliau amat menginginkan keislaman mereka. (Di saat beliau berada dalam dilema) Allah menurunkan ayat,
“Sesungguhnya mereka hampir memalingkan kamu dari apa yang telah Kami wahyukan kepadamu, agar kamu membuat yang lain secara bohong terhadap Kami. Dan kalau sudah begitu tentulah mereka mengambil kamu jadi sahabat yang setia. Kalau Kami tidak memperkuat (hati)mu, (di atas hidayah), niscaya kamu hampir-hampir condong sedikit kepada mereka.” (QS. Al-Isra’: 73-74).
Asy-Suyuti melanjutkan, ” Saya berpendapat bahwa riwayat ini adalah riwayat paling shahih yang menceritakan tentang sebab turunnya ayat diatas. Sanadnya jayyid dan ada syahidnya (ada sanad lain yang menguatkan sanad ini).” (Kitab Lubab At-Taquul fi Asbaabi An-Nuzul).
5.Allah Ta’ala mengingatkan Rasul-Nya bahwa hidayah serta taufik yang menjadikan hati Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tetap teguh di atas kebenaran adalah dari Allah Ta’ala.
“Wahai sekalian hamba-Ku, kalian semua berada dalam kesesatan kecuali yang Kuberi petunjuk, maka mintalah petunjuk kepada-Ku, niscaya akan Kuberi petunjuk.” (HR. Muslim)
Hadis tersebut memberikan beberapa pelajaran, antara lain:
1. Bila seorang bertanya tentang anugerah Allah yang terindah, maka hidayah -lah jawabannya.
Bisa salat tepat waktu karena hidayah dari Allah. Bisa puasa karena hidayah dari Allah. Muslimah bisa menuntut ilmu karena hidayah dari Allah, dan seterusnya. Bahkan, kita bisa hidup bersama Allah karena hidayah-Nya. Merasakan manisnya iman dan indahnya Islam juga karena hidayah-Nya.
2. Allah Ta’ala memerintahkan kita, untuk meminta petunjuk-Nya, karena hanya Allah saja yang bisa membuka hati kita, menjadikan hati tunduk dan ridho terhadap kebenaran.
3. Hidayah adalah anugerah Allah yang teragung dan terindah.
Bila kita diperintahkan untuk mensyukuri nikmat-nikmat Allah, maka nikmat hidayah adalah yang paling harus kita syukuri. Syukur dengan ucapan, perbuatan dan pengakuan bahwa nikmat itu datang dari Allah.
4. Imam Asy-Syuyuthi rahimahullah menjelaskan dalam tafsirnya, mengenai sebab turunnya ayat di bawah ini. Beliau menukil riwayat dari Ibnu Abbas Radhiyallahu’anhu, Ibnu Abbas berkata,” Umayah bin Kholaf, Abu Jahl serta beberapa orang Quraisy pergi menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu mereka berkata, "Wahai Muhammad kemari sembahlah Tuhan kami, niscaya kami akan masuk ke agamamu bersamamu.”
Berat terasa oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk berpisah dengan kaumnya, beliau amat menginginkan keislaman mereka. (Di saat beliau berada dalam dilema) Allah menurunkan ayat,
“Sesungguhnya mereka hampir memalingkan kamu dari apa yang telah Kami wahyukan kepadamu, agar kamu membuat yang lain secara bohong terhadap Kami. Dan kalau sudah begitu tentulah mereka mengambil kamu jadi sahabat yang setia. Kalau Kami tidak memperkuat (hati)mu, (di atas hidayah), niscaya kamu hampir-hampir condong sedikit kepada mereka.” (QS. Al-Isra’: 73-74).
Asy-Suyuti melanjutkan, ” Saya berpendapat bahwa riwayat ini adalah riwayat paling shahih yang menceritakan tentang sebab turunnya ayat diatas. Sanadnya jayyid dan ada syahidnya (ada sanad lain yang menguatkan sanad ini).” (Kitab Lubab At-Taquul fi Asbaabi An-Nuzul).
5.Allah Ta’ala mengingatkan Rasul-Nya bahwa hidayah serta taufik yang menjadikan hati Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tetap teguh di atas kebenaran adalah dari Allah Ta’ala.
Lihat Juga :