Aktivitas Pesantren Siswa Al Ma'soem, Terapkan Reward and Punishment
Rabu, 29 April 2020 - 08:49 WIB
loading...
A
A
A
Menurut Asep, santri di asrama tidak dibiarkan begitu saja. Setiap kelas atau asrama akan dibimbing oleh seorang wali santri. Satu wali santri pegang sampai 40 anak. Wali santri ini juga yang memantau perkembangan anak.
Yang menarik, pesantren ini menerapkan sistem reward dan punishment secara ketat. Santri yang melanggar aturan, berkata jorok, merokok, dan lainnya, akan mendapat penilaian berupa poin.
"Nanti ada rekap bulanan untuk poin ini. Nanti dilaporkan ke orang tua. Ada aplikasi namanya PSAN. orang tua bisa pantau anaknya dari situ. Termasuk memantau prestasinya apa aja, sakit pun bisa tahu lewat aplikasi," kata dia.
Menurut dia, bila poinnya sampai 250, nanti santri itu akan dikembalikan kepada orang tuanya. Hal itu sesuai kesepakatan awal adanya reward dan punishment. Dan itu sudah disepakati semua orang tua yang menitipkan anaknya di PSAM.
Sementara untuk reward, PSAM juga menjalankan secara konsisten bagi santri berprestasi. Di mana untuk santri yang mampu menghafal Alquran, akan diberi beasiswa. Yaitu bagi yang hafal 1 juz, akan mendapat beasiswa berupa pengurangan 20% biaya tahunan pesantren. Bila hafal 2 juz, akan dikurangi 30%, dan seterusnya. "Jadi kalau hafal 9 juz, bisa bebas biaya tahunan untuk pesantren," kata dia.
Tegasnya penerapan reward dan punishment ini membuat SDM lulusan Yayasan Al Ma’soem Bandung diakui banyak pihak. Sekolah dan pasantren ini mencatat beberapa penghargaan dan prestasi di tingkat nasional atau regional.
Pada bidang olahraga, tim sepak bola dan futsal sekolah Al Ma’soem beberapa kali menjuarai kompetisi di Singapura, Malaysia, Thailand, dan lainnya. Sementara tim robotik telah mengikuti kompetisi hingga Eropa. "Tahun kemarin, lulusan SMA kami, 53% diterima di PTN favorit," katanya.
Menurut Asep, PSAM hadir menjawab keinginan para orang tua yang menginginkan anaknya memilik kemampuan akademik bagus, tetapi juga punya akhlak bagus. Misalnya santri yang selalu salat tepat waktu, bisa baca Alquran, atau tahfiz.
"Moto kami adalah cager, bager, pinter. Cager adalah sehat jasmaninya, bager adalah anak berakhlakul karimah, dan pinter artinya memiliki kemampuan intelektual bagus," jelas Asep.
Kebanyakan orang tua santri, kata dia, menginginkan agar anak mereka tidak terkontaminasi oleh pergaulan bebas lingkungan sekitar. Mereka sangat konsen terhadap masa depan anak-anaknya. Terkadang di sekitar rumah ada sekolah bagus, tapi kadang tidak bagus untuk perilaku anaknya.
Yang menarik, pesantren ini menerapkan sistem reward dan punishment secara ketat. Santri yang melanggar aturan, berkata jorok, merokok, dan lainnya, akan mendapat penilaian berupa poin.
"Nanti ada rekap bulanan untuk poin ini. Nanti dilaporkan ke orang tua. Ada aplikasi namanya PSAN. orang tua bisa pantau anaknya dari situ. Termasuk memantau prestasinya apa aja, sakit pun bisa tahu lewat aplikasi," kata dia.
Menurut dia, bila poinnya sampai 250, nanti santri itu akan dikembalikan kepada orang tuanya. Hal itu sesuai kesepakatan awal adanya reward dan punishment. Dan itu sudah disepakati semua orang tua yang menitipkan anaknya di PSAM.
Sementara untuk reward, PSAM juga menjalankan secara konsisten bagi santri berprestasi. Di mana untuk santri yang mampu menghafal Alquran, akan diberi beasiswa. Yaitu bagi yang hafal 1 juz, akan mendapat beasiswa berupa pengurangan 20% biaya tahunan pesantren. Bila hafal 2 juz, akan dikurangi 30%, dan seterusnya. "Jadi kalau hafal 9 juz, bisa bebas biaya tahunan untuk pesantren," kata dia.
Tegasnya penerapan reward dan punishment ini membuat SDM lulusan Yayasan Al Ma’soem Bandung diakui banyak pihak. Sekolah dan pasantren ini mencatat beberapa penghargaan dan prestasi di tingkat nasional atau regional.
Pada bidang olahraga, tim sepak bola dan futsal sekolah Al Ma’soem beberapa kali menjuarai kompetisi di Singapura, Malaysia, Thailand, dan lainnya. Sementara tim robotik telah mengikuti kompetisi hingga Eropa. "Tahun kemarin, lulusan SMA kami, 53% diterima di PTN favorit," katanya.
Menurut Asep, PSAM hadir menjawab keinginan para orang tua yang menginginkan anaknya memilik kemampuan akademik bagus, tetapi juga punya akhlak bagus. Misalnya santri yang selalu salat tepat waktu, bisa baca Alquran, atau tahfiz.
"Moto kami adalah cager, bager, pinter. Cager adalah sehat jasmaninya, bager adalah anak berakhlakul karimah, dan pinter artinya memiliki kemampuan intelektual bagus," jelas Asep.
Kebanyakan orang tua santri, kata dia, menginginkan agar anak mereka tidak terkontaminasi oleh pergaulan bebas lingkungan sekitar. Mereka sangat konsen terhadap masa depan anak-anaknya. Terkadang di sekitar rumah ada sekolah bagus, tapi kadang tidak bagus untuk perilaku anaknya.
Lihat Juga :