Hikmah Ibadah Haji : Kedudukan Manusia Sama di Hadapan Allah Ta'ala
Rabu, 24 Mei 2023 - 09:36 WIB
loading...
A
A
A
Ketika seseorang yang pergi haji melepaskan seluruh pakaian-pakaiannya dan digantikan dengan kain ihram yang putih mengingatkan akan pertemuan dengan Allah ketika ia dibungkus dengan kain kafannya lalu ia dikuburkan. Dia tidak berbekal kecuali amalan dia dan kain kafan yang menempel pada tubuhnya.
Di saat kaum muslimin berkumpul di Mina di Arafah, tidak lagi ada di bedakan kedudukan ataupun hasta, tidak dibedakan apakah dia kaya raya, apakah dia seorang pejabat atau pemimpin? Semua sama di hadapan Allah karena memang tidak ada yang kebal hukum di hadapan Allah Rabbul ‘Izzati wal Jalalah.Semuanya sama!
Kewajiban seorang hamba untuk melaksanakan perintah-perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala. Itulah Islam!
Kemudian mereka bertalbiyah yang merupakan kalimat yang agung. Mereka berucapan:
“Labbaik Allahumma labbaik. Labbaik laa syarika laka labbaik. Innal hamda wan ni’mata laka wal mulk laa syarika lak(Ya Allah, aku menyahut panggilanmu Ya Allah. Sesungguhnya segala puji, nikmat dan kerajaan bagiMu. Tidak ada sekutu bagi Engkau ya Allah)”
Sebuah kalimat yang agung, yang menunjukkan pengesaan dan bahwasannya tidak ada sekutu bagi Allah yang berhak disembah selain Allah Subhanahu wa Ta’ala. Lalu pengakuan bahwasanya kenikmatan semua milik Allah.
Karunia semua milik Allah. Itulah hakikat sebagai seorang hamba. Dia mengakui bahwa semua yang ia miliki bahkan tubuhnya, semua hartanya, anaknya, istrinya, semuanya milik Allah, karunia dari Allah. Dia mengakui semua itu milik Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Baca juga: Sudah Mabrurkah Haji Anda? Melihat Kembali Jejak Kita di Muzdalifah Sampai saat Melempar Jumrah
Wallahu'alam
Di saat kaum muslimin berkumpul di Mina di Arafah, tidak lagi ada di bedakan kedudukan ataupun hasta, tidak dibedakan apakah dia kaya raya, apakah dia seorang pejabat atau pemimpin? Semua sama di hadapan Allah karena memang tidak ada yang kebal hukum di hadapan Allah Rabbul ‘Izzati wal Jalalah.Semuanya sama!
Kewajiban seorang hamba untuk melaksanakan perintah-perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala. Itulah Islam!
Kemudian mereka bertalbiyah yang merupakan kalimat yang agung. Mereka berucapan:
لَبَّيْكَ اللَّهُمَّ لَبَّيْكَ لَبَّيْكَ لاَ شَرِيكَ لَكَ لَبَّيْكَ إِنَّ الْحَمْدَ وَالنِّعْمَةَ لَكَ وَالْمُلْكَ لاَ شَرِيكَ لَكَ
“Labbaik Allahumma labbaik. Labbaik laa syarika laka labbaik. Innal hamda wan ni’mata laka wal mulk laa syarika lak(Ya Allah, aku menyahut panggilanmu Ya Allah. Sesungguhnya segala puji, nikmat dan kerajaan bagiMu. Tidak ada sekutu bagi Engkau ya Allah)”
Sebuah kalimat yang agung, yang menunjukkan pengesaan dan bahwasannya tidak ada sekutu bagi Allah yang berhak disembah selain Allah Subhanahu wa Ta’ala. Lalu pengakuan bahwasanya kenikmatan semua milik Allah.
Karunia semua milik Allah. Itulah hakikat sebagai seorang hamba. Dia mengakui bahwa semua yang ia miliki bahkan tubuhnya, semua hartanya, anaknya, istrinya, semuanya milik Allah, karunia dari Allah. Dia mengakui semua itu milik Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Baca juga: Sudah Mabrurkah Haji Anda? Melihat Kembali Jejak Kita di Muzdalifah Sampai saat Melempar Jumrah
Wallahu'alam
(wid)
Lihat Juga :