Pesan Berharga dari Ibadah Wukuf di Padang Arafah
Selasa, 27 Juni 2023 - 22:28 WIB
loading...
A
A
A
Pada hari Arafah itu, saat mata hari mulai terbenam, semua jama'ah mulai bersiap-siap meninggalkan tempat wukuf itu. Mereka pada berangkat ke Muzdalifah untuk Mabith di tempat itu hingga tengah malam. Selepas itu, dan biasanya, di Muzdalifah semua jemaah haji mencari kerikil atau jumrah sebanyak yang diperlukan, untuk dilempar di Mina.
Jumlah kerikil yang akan dibawa juga sama, urut-urutan melemparkannya juga sama. Semuanya serba sama, di antara jama'ah haji tidak berdebat mencari mana yang paling benar. Pelajaran kebersamaan juga masih tampak ketika sampai di Makkah untuk thawwaf ifadhah dan Sa'i maupun Tahallul.
Selesai dari Mina, para jemaah haji datang ke Masjid al-Haram untuk melakukan rangkain haji sebagaimana disebutkan itu, ialah thawwaf, Sya'i, dan Tahallul. Memang karena keterbatasan tempat, rangkaian haji tersebut tidak mungkin dilakukan secara bersamaan. Ada saja, jemaah haji menunggu hingga tempatnya tidak terlalu sesak, asalkan waktunya masih tersedia atau belum terlambat.
Sebab, Thawwaf ifadah, sya'i, dan tahallul tidak boleh ditinggalkan dan atau juga dilaksanakan di luar waktu haji.
Belajar dari rangkaian ibadah itu, maka sebenarnya, orang yang berhaji sedang diberi pelajaran penting dalam bermasyarakat ialah tentang persatuan umat Islam. Persatuan itu tidak mengenal asal negara, bangsa, suku, etnis, golongan, organisasi, atau bahkan mazhab.
Pengikut mazhab yang berbeda-beda pada saat menjalankan ibadah haji, mereka melakukan kegiatan ritual yang sama, simbol-simbol atau lambang yang sama, dan bahkan doa-doa yang dibaca pun juga sama. Umat Islam benar-benar menjadi bersatu dan bersama-sama dalam menjalankan rukun Islam yang ke lima itu.
Maka umpama saja, pelajaran dari pelaksanaan haji itu ditangkap sepenuhnya, maka tidak ada alasan umat Islam bercerai-berai hanya karena alasan berbeda bangsa, suku, golongan, ataupun juga madzhab yang diikuti. Tatkala sedang dalam ibadah haji mereka bisa bersatu dan bersama-sama, maka setelah pulang ke negerinya masing-masing pelajaran itu seharusnya masih diingat dan dilaksanakan.
Sebaliknya, pelajaran itu bukan hanya berlaku di dalam kelas, ialah ketika di waktu haji. Setelah keluar dari ruang kelas, mereka berbeda dan menganggap pandangannya yang paling benar dan apalagi yang lain dianggapnya sebagai saingan atau musuh. Tentu tidak begitu, semoga ibadah haji benar-benar berhasil menyatukan umat Islam dan mabrur semuanya.
Sehingga dapat disimpulkan, bahwa Padang Arafah merupakan awal munculnya ummat manusia di muka bumi ini sekaligus sebagai awal persatuan umat manusia seluruh dunia.
Baca Juga: Keagungan Kakbah dan Doa untuk Perdamaian Dunia
Jumlah kerikil yang akan dibawa juga sama, urut-urutan melemparkannya juga sama. Semuanya serba sama, di antara jama'ah haji tidak berdebat mencari mana yang paling benar. Pelajaran kebersamaan juga masih tampak ketika sampai di Makkah untuk thawwaf ifadhah dan Sa'i maupun Tahallul.
Selesai dari Mina, para jemaah haji datang ke Masjid al-Haram untuk melakukan rangkain haji sebagaimana disebutkan itu, ialah thawwaf, Sya'i, dan Tahallul. Memang karena keterbatasan tempat, rangkaian haji tersebut tidak mungkin dilakukan secara bersamaan. Ada saja, jemaah haji menunggu hingga tempatnya tidak terlalu sesak, asalkan waktunya masih tersedia atau belum terlambat.
Sebab, Thawwaf ifadah, sya'i, dan tahallul tidak boleh ditinggalkan dan atau juga dilaksanakan di luar waktu haji.
Belajar dari rangkaian ibadah itu, maka sebenarnya, orang yang berhaji sedang diberi pelajaran penting dalam bermasyarakat ialah tentang persatuan umat Islam. Persatuan itu tidak mengenal asal negara, bangsa, suku, etnis, golongan, organisasi, atau bahkan mazhab.
Pengikut mazhab yang berbeda-beda pada saat menjalankan ibadah haji, mereka melakukan kegiatan ritual yang sama, simbol-simbol atau lambang yang sama, dan bahkan doa-doa yang dibaca pun juga sama. Umat Islam benar-benar menjadi bersatu dan bersama-sama dalam menjalankan rukun Islam yang ke lima itu.
Maka umpama saja, pelajaran dari pelaksanaan haji itu ditangkap sepenuhnya, maka tidak ada alasan umat Islam bercerai-berai hanya karena alasan berbeda bangsa, suku, golongan, ataupun juga madzhab yang diikuti. Tatkala sedang dalam ibadah haji mereka bisa bersatu dan bersama-sama, maka setelah pulang ke negerinya masing-masing pelajaran itu seharusnya masih diingat dan dilaksanakan.
Sebaliknya, pelajaran itu bukan hanya berlaku di dalam kelas, ialah ketika di waktu haji. Setelah keluar dari ruang kelas, mereka berbeda dan menganggap pandangannya yang paling benar dan apalagi yang lain dianggapnya sebagai saingan atau musuh. Tentu tidak begitu, semoga ibadah haji benar-benar berhasil menyatukan umat Islam dan mabrur semuanya.
Sehingga dapat disimpulkan, bahwa Padang Arafah merupakan awal munculnya ummat manusia di muka bumi ini sekaligus sebagai awal persatuan umat manusia seluruh dunia.
Baca Juga: Keagungan Kakbah dan Doa untuk Perdamaian Dunia
(rhs)
Lihat Juga :