Meneladani Ibrahim (7): Representasi Kepemimpinan Global yang Berakhlak Mulia
Jum'at, 30 Juni 2023 - 15:41 WIB
loading...
A
A
A
Kedua, bangsa ini secara khusus sebagai bangsa berpenduduk Muslim terbesar dunia, harus bangkit untuk mengemban kepemimpinan global itu. Dunia global adalah dunia yang berkarakter kecepatan, kompetisi, dan ketergantungan (interconnectedness).
Umat dituntut untuk memilki kecepatan dalam menangkap semua peluang yang ada. Umat juga dituntut untuk memiliki kemampuan daya saing (kompetisi) yang tinggi. Tapi tidak kalah pentingnya umat harus menyadari pentingnya membangun kerja sama dengan siapa saja demi membangun negeri dan dunia yang lebih baik.
Namun tidak kalah pentingnya sekali lagi, bangsa ini harus bangkit menjadi imaman linnaas. Sebagai putra bangsa yang telah lama di luar negeri saya sangat yakin jika Indonesia sebagai negara dengan penduduk Muslim terbesar dunia sangat kapabel untuk mengambil tanggung jawab imaamah atau kepemimpinan itu.
Maka masanya bangsa ini bangkit menampilkan Islam yang berkarakter maju dan menang. Islam yang saat ini sejatinya menjadi dambaan dunia. Islam yang ramah, Islam yang berkarakter tawassuth (moderat) wa tassamuh (toleran), tapi mu'tadil (berkeadilan dan menjunjung tinggi nilai-nilai keadilan).
Dengan semangat itulah umat Islam di bumi Nusantara ini bersama-sama dengan seluruh elemen bangsa, harus bangkit membangun negeri. Bahkan ikut turut dalam mewwujudkan dunia yang berkatakter Qur'ani: بلدة طيبة ورب غفور (baldatun thoyyibatun wa Rabbun ghafur)
اللهم اجعلنا من الذين يستمعون القول فيتبعون أحسنه. أقول قولي هذا واستغفر الله لي ولكم وًلساءر المسلمينوالمسلمات فاستغفروه انه هوالغفورًالرحبم
(Tamat)
Baca Juga: Meneladani Ibrahim (6): Sosok Pemimpin yang Bijak dan Demokratis
Umat dituntut untuk memilki kecepatan dalam menangkap semua peluang yang ada. Umat juga dituntut untuk memiliki kemampuan daya saing (kompetisi) yang tinggi. Tapi tidak kalah pentingnya umat harus menyadari pentingnya membangun kerja sama dengan siapa saja demi membangun negeri dan dunia yang lebih baik.
Namun tidak kalah pentingnya sekali lagi, bangsa ini harus bangkit menjadi imaman linnaas. Sebagai putra bangsa yang telah lama di luar negeri saya sangat yakin jika Indonesia sebagai negara dengan penduduk Muslim terbesar dunia sangat kapabel untuk mengambil tanggung jawab imaamah atau kepemimpinan itu.
Maka masanya bangsa ini bangkit menampilkan Islam yang berkarakter maju dan menang. Islam yang saat ini sejatinya menjadi dambaan dunia. Islam yang ramah, Islam yang berkarakter tawassuth (moderat) wa tassamuh (toleran), tapi mu'tadil (berkeadilan dan menjunjung tinggi nilai-nilai keadilan).
Dengan semangat itulah umat Islam di bumi Nusantara ini bersama-sama dengan seluruh elemen bangsa, harus bangkit membangun negeri. Bahkan ikut turut dalam mewwujudkan dunia yang berkatakter Qur'ani: بلدة طيبة ورب غفور (baldatun thoyyibatun wa Rabbun ghafur)
اللهم اجعلنا من الذين يستمعون القول فيتبعون أحسنه. أقول قولي هذا واستغفر الله لي ولكم وًلساءر المسلمينوالمسلمات فاستغفروه انه هوالغفورًالرحبم
(Tamat)
Baca Juga: Meneladani Ibrahim (6): Sosok Pemimpin yang Bijak dan Demokratis
(rhs)
Lihat Juga :