Bukan Sekadar Pergantian Tahun, Esensi Hijrah Adalah Perubahan
Kamis, 13 Juli 2023 - 17:01 WIB
loading...
A
A
A
Oleh karenanya ketika Umar Ibnu Khattab, sang Khalifah ketika itu, memutuskan momentum Hijrah sebagai awal kalender Islam, pastinya karena beliau ingin meyakinkan bahwa Hijrah merupakan identitas kebangkitan umat secara kolektif. Dengan Hijrah sesungguhnya bermulalah kebangkitan umat secara konektif.
Esensi Hijrah itu Perubahan
Pertanyaan yang kemudian timbul adalah kenapa Rasulullah SAW Hijrah? Apakah itu karena Mekkah memang sudah tidak lagi kondusif untuk melanjutkan kerja-kerja dakwahnya? Apakah Rasul harus pindah karena tantangan-tantangan yang dihadapinya?
Jawabannya pasti bukan. Rasul Allah semuanya tidak akan meninggalkan medan perjuangan karena tantangan. Justeru semakin berat tantangan yang dihadapi semakin pula terbangun semangat dan optimisme untuk menang. Perpindahan Rasulullah ke Madinah yang disebut Hijrah itu karena memang Allah telah merancang peristiwa ini untuk menjadi jalan kebangkitan umat secara komunal. Dari Madinah untuk dunia.
Namun ada satu poin penting yang perlu digaris bawahi dari peristiwa ini. Bahwa Hijrah bukan sekedar berpindah tempat tinggal. Tapi esensinya ada pada pergerakan (harokah) dan komitmen perubahan (tahhyiir). Dengan Kata lain Hijrah itu lebih dimaknai sebagai melakukan pergerakan (movement) untuk tujuan perubahan dalam hidup dan perjuangan.
Pergerakan dan perubahan menjadi mendasar bagi perjuangan dan Kemenangan. Sebagaimana digariskan oleh Allah SWT: "Sesungguhnya Allah tidak akan merubah nasib suatu kaum hingga mereka merubah diri mereka sendiri." Artinya perubahan itu menjadi kunci terjadinya perubahan (pertolongan menuju kepada kebaikan dan pertolongan) dari Allah SWT.
Tiga Perubahan Mendasar
Pada khutbah di Balikpapan ini saya menekankan tiga perubahan penting yang harus dilakukan oleh umat ini demi terwujudnya kebangkitan komunal dan kemenangan kolektif itu.
Pertama, pentingnya melakukan perubahan cara pandang keimanan dari iman yang pasif ke iman yang aktif. Keimana pasif yang kita maksud adalah keimanan yang terbatas pada rasa emosi (sentimen) semata. Ada emosi yang di dada. Ada pengakuan di akal. Tapi semua terbatas pada rasa dan pengakuan.
Keimanan seperti ini dikenal dalam hadits dengan tamanni (angan-angan) dan khayalan. Sabda Rasul: "Keimanan bukan dengan angan-angan dan khayalan. Tapi apa yang tertanam kuat dalam dada dan dibuktikan oleh amal (karya dan inovasi).
Mala perubahan iman pasif ke iman aktif adalah perubahan pemahaman dan karakter keimanan yang bertumpu pada emosi/sentimen menjadi keimanan yang menjadi kekuatan tekad dalam mewujudkan berbagai Karya dan inovasi kehidupan. Seperti yang digambarkan dalam Al-Qur'an dengan bagaikan pohon yang baik. Akarnya tertanam kokoh ke dalam tanah, dahannya tinggi ke atas langit dan memberikan buah-buahnya setiap saat dengan izin Tuhannya.
Kedua, pentingnya umat ini melakukan perubahan pada cara pandang (mindset) tentang kehidupan. Akal pemikiran yang paham tentang kehidupan dengan pemahaman yang tepat. Di antaranya memahami bahwa kehidupan ini adalah satu kesatuan yang tidak dapat dipilah-pilah ke berbagai ruang yang berbeda.
Esensi Hijrah itu Perubahan
Pertanyaan yang kemudian timbul adalah kenapa Rasulullah SAW Hijrah? Apakah itu karena Mekkah memang sudah tidak lagi kondusif untuk melanjutkan kerja-kerja dakwahnya? Apakah Rasul harus pindah karena tantangan-tantangan yang dihadapinya?
Jawabannya pasti bukan. Rasul Allah semuanya tidak akan meninggalkan medan perjuangan karena tantangan. Justeru semakin berat tantangan yang dihadapi semakin pula terbangun semangat dan optimisme untuk menang. Perpindahan Rasulullah ke Madinah yang disebut Hijrah itu karena memang Allah telah merancang peristiwa ini untuk menjadi jalan kebangkitan umat secara komunal. Dari Madinah untuk dunia.
Namun ada satu poin penting yang perlu digaris bawahi dari peristiwa ini. Bahwa Hijrah bukan sekedar berpindah tempat tinggal. Tapi esensinya ada pada pergerakan (harokah) dan komitmen perubahan (tahhyiir). Dengan Kata lain Hijrah itu lebih dimaknai sebagai melakukan pergerakan (movement) untuk tujuan perubahan dalam hidup dan perjuangan.
Pergerakan dan perubahan menjadi mendasar bagi perjuangan dan Kemenangan. Sebagaimana digariskan oleh Allah SWT: "Sesungguhnya Allah tidak akan merubah nasib suatu kaum hingga mereka merubah diri mereka sendiri." Artinya perubahan itu menjadi kunci terjadinya perubahan (pertolongan menuju kepada kebaikan dan pertolongan) dari Allah SWT.
Tiga Perubahan Mendasar
Pada khutbah di Balikpapan ini saya menekankan tiga perubahan penting yang harus dilakukan oleh umat ini demi terwujudnya kebangkitan komunal dan kemenangan kolektif itu.
Pertama, pentingnya melakukan perubahan cara pandang keimanan dari iman yang pasif ke iman yang aktif. Keimana pasif yang kita maksud adalah keimanan yang terbatas pada rasa emosi (sentimen) semata. Ada emosi yang di dada. Ada pengakuan di akal. Tapi semua terbatas pada rasa dan pengakuan.
Keimanan seperti ini dikenal dalam hadits dengan tamanni (angan-angan) dan khayalan. Sabda Rasul: "Keimanan bukan dengan angan-angan dan khayalan. Tapi apa yang tertanam kuat dalam dada dan dibuktikan oleh amal (karya dan inovasi).
Mala perubahan iman pasif ke iman aktif adalah perubahan pemahaman dan karakter keimanan yang bertumpu pada emosi/sentimen menjadi keimanan yang menjadi kekuatan tekad dalam mewujudkan berbagai Karya dan inovasi kehidupan. Seperti yang digambarkan dalam Al-Qur'an dengan bagaikan pohon yang baik. Akarnya tertanam kokoh ke dalam tanah, dahannya tinggi ke atas langit dan memberikan buah-buahnya setiap saat dengan izin Tuhannya.
Kedua, pentingnya umat ini melakukan perubahan pada cara pandang (mindset) tentang kehidupan. Akal pemikiran yang paham tentang kehidupan dengan pemahaman yang tepat. Di antaranya memahami bahwa kehidupan ini adalah satu kesatuan yang tidak dapat dipilah-pilah ke berbagai ruang yang berbeda.
Lihat Juga :