Kisah Pembenci Islam Jadi Mualaf, Joram van Klaveren: Orang Mengira Saya Gila
Jum'at, 14 Juli 2023 - 04:31 WIB
loading...
Joram van Klaveren. Foto/Ilustrasi: Ist
A
A
A
Joram van Klaveren adalah penulis buku anti-Islam yang kini menjadi mualaf . Sebelumnya dia sempat menjadi anggota parlemen Belanda . Kala itu, dia dikenal sebagai kritikus Islam yang penuh kebencian, tangan kanan politisi Islamofobia Geert Wilders.
Belakangan ia mendapat hidayah dan masuk Islam. Dia adalah pendiri Islam Experience Centre, museum Islam pertama di Belanda. "Orang-orang benar-benar terkejut. Mereka berkata, 'Saya tidak percaya. Sulit dipercaya apa yang terjadi.’ Dan beberapa orang mengira saya sakit dan beberapa orang benar-benar mengira saya gila,” katanya.
Lelaki kelahiran tahun 1979 di Amsterdam ini mengaku dari keluarga Calvinis yang taat dan telah tertarik pada sistem kepercayaan yang berbeda sejak masa mudanya.
“Sebagai anak muda, saya memiliki keraguan tentang teologi Kristen , misalnya tentang Trinitas, karena terkadang saya agak bingung. Jika Anda berdoa, apakah kita berdoa kepada Yesus Kristus? Apakah kita berdoa kepada Allah Bapa? Apakah kita berdoa kepada Roh Kudus? Saya tidak tahu sama sekali,” kata Klaveren sebagaimana dikutip Anadolu belum lama ini.
Baca juga: Kisah Joram van Klaveren, Penulis Buku Anti Islam yang Mendapat Hidayah hingga Jadi Mualaf
Pada saat dia mulai kuliah sambil mencari jawaban atas pertanyaannya tentang agama Kristen, Klaveren mengatakan saat itulah serangan teroris 11 September 2001 terjadi.
“Jadi itu membenarkan ide saya dan kemudian (2004) Theo Van Gogh, pembuat film terkenal di sini, dia dibunuh oleh seorang pria yang menyebut dirinya seorang jihadis. Jadi saya pikir, oke, semua orang ini gila, saya harus melakukan sesuatu dan itulah mengapa saya bergabung dengan Partai Kebebasan (Islamofobik Wilders).”
Dia memutuskan untuk menulis buku pada tahun 2014 untuk “memperingatkan orang” tentang Muslim.
“Jadi saya ingin menjelaskan kepada orang-orang yang memilih kami tetapi juga orang lain, mengapa kami sebagai Partai Kebebasan atau saya sebagai pribadi. Saya pikir Islam adalah bahaya terbesar di Belanda dan juga di Eropa dan sebenarnya di seluruh dunia.”
Tapi kemudian dia keluar dari partai. Klaveren mengaku itu karena pertengkaran tentang orang Maroko di Belanda. “Yah, saya lakukan, saya pikir semua yang saya bisa untuk melawan Islam. Tapi pada 2014 saya keluar dari partai karena ada argumen tentang orang Maroko.”
Belakangan ia mendapat hidayah dan masuk Islam. Dia adalah pendiri Islam Experience Centre, museum Islam pertama di Belanda. "Orang-orang benar-benar terkejut. Mereka berkata, 'Saya tidak percaya. Sulit dipercaya apa yang terjadi.’ Dan beberapa orang mengira saya sakit dan beberapa orang benar-benar mengira saya gila,” katanya.
Lelaki kelahiran tahun 1979 di Amsterdam ini mengaku dari keluarga Calvinis yang taat dan telah tertarik pada sistem kepercayaan yang berbeda sejak masa mudanya.
“Sebagai anak muda, saya memiliki keraguan tentang teologi Kristen , misalnya tentang Trinitas, karena terkadang saya agak bingung. Jika Anda berdoa, apakah kita berdoa kepada Yesus Kristus? Apakah kita berdoa kepada Allah Bapa? Apakah kita berdoa kepada Roh Kudus? Saya tidak tahu sama sekali,” kata Klaveren sebagaimana dikutip Anadolu belum lama ini.
Baca juga: Kisah Joram van Klaveren, Penulis Buku Anti Islam yang Mendapat Hidayah hingga Jadi Mualaf
Pada saat dia mulai kuliah sambil mencari jawaban atas pertanyaannya tentang agama Kristen, Klaveren mengatakan saat itulah serangan teroris 11 September 2001 terjadi.
“Jadi itu membenarkan ide saya dan kemudian (2004) Theo Van Gogh, pembuat film terkenal di sini, dia dibunuh oleh seorang pria yang menyebut dirinya seorang jihadis. Jadi saya pikir, oke, semua orang ini gila, saya harus melakukan sesuatu dan itulah mengapa saya bergabung dengan Partai Kebebasan (Islamofobik Wilders).”
Dia memutuskan untuk menulis buku pada tahun 2014 untuk “memperingatkan orang” tentang Muslim.
“Jadi saya ingin menjelaskan kepada orang-orang yang memilih kami tetapi juga orang lain, mengapa kami sebagai Partai Kebebasan atau saya sebagai pribadi. Saya pikir Islam adalah bahaya terbesar di Belanda dan juga di Eropa dan sebenarnya di seluruh dunia.”
Tapi kemudian dia keluar dari partai. Klaveren mengaku itu karena pertengkaran tentang orang Maroko di Belanda. “Yah, saya lakukan, saya pikir semua yang saya bisa untuk melawan Islam. Tapi pada 2014 saya keluar dari partai karena ada argumen tentang orang Maroko.”
Lihat Juga :