Khutbah Jumat: Kemuliaan Hari Asyura dan Peristiwa Wafatnya Sayyidina Husain
Jum'at, 21 Juli 2023 - 15:50 WIB
loading...
A
A
A
Apresiasi dan penghormatan yang begitu sangat tinggi kepada Nabi-nabi terdahulu membuat Islam menjunjung tinggi hubungan antara sesama pemeluk agama. Lihatlah bagaimana Rasulullah ﷺ membangun masyarakat Madinah dengan segala keragaman suku dan agama yang ada melalui perjanjian yang tertuang dalam Piagam Madinah.
Seluruh komponen masyarakat dipandang sebagai satu ummat yang saling melindungi satu dengan lainnya. Begitu juga dengan pemeluk Kristen di Najran. Hal sama dilakukan Umar bin Khattab dengan penduduk Elia (Yerusalem) berupa jaminan keselamatan atas jiwa, harta dan rumah ibadah mereka setelah wilayah itu dikuasainya pada Tahun 638 M (15 Hijriah).
Ma'asyiral Muslimin Hafizhakumullah!
Bila hubungan persaudaraan kemanusiaan dengan yang berbeda agama sangat ditekankan, apalagi dengan sesama Muslim. Meski berbeda dalam cara mengamalkan rincian ajaran agama, kesamaan keyakinan kepada Allah yang Maha Esa, Nabi mulia dan kitab sucinya, serta kiblat yang sama dalam sholat dan haji.
Itu semua cukup menjadi dasar untuk membangun persatuan atas dasar saudara seagama. Namun sayang, jauh panggang dari api. Sebagai contoh, kemulian dan kesucian hari Asyura tercoreng oleh peristiwa yang meninggalkan luka mendalam yang hingga saat ini memicu konflik berkepanjangan antara Muslim Sunni dan Syiah. Perselisihan semakin meruncing setiap kali hari Asyura datang.
Di saat mayoritas Muslim penganut Ahlussunnah wal Jama'ah memperingati hari Asyura sebagai hari kesyukuran atas kemenangan dengan mengabadikan ingatan sejarah kemenangan Nabi Musa atas kezaliman Fir'aun, kaum Syiah memperingatinya sebagai hari kesedihan. Bahkan, dalam ritualnya ada yang sampai melukai diri agar bisa merasakan apa yang dialami oleh Sayyidunal Husain, cucu Baginda Nabi Muhammad ﷺ.
Pada hari itu, tepatnya pada Tahun 61 Hijriah, Imam Husein radhiyallahu 'anhu beserta pengikutnya sebanyak 72 orang dibunuh di Karbala, Irak oleh Yazid bin Muawiyah, penguasa saat itu. Peristiwa itu pada mulanya bermotifkan politik, tetapi memberi pengaruh psikologis dan teologis yang sangat mendalam.
Sehingga sampai sekarang kebencian dan kecurigaan menyelimuti hubungan antara dua tradisi keislaman; Sunni dan Syiah. Bahkan dengan mudahnya antara satu dengan lainnya saling mangkafirkan. Isu inilah yang berperan memecah belah persatuan umat seperti yang terjadi di beberapa negara Islam.
Tidak sepatutnya umat Islam terus tersandera oleh beban sejarah kelam di masa lalu. Sampai kapan peritiwa itu akan terus menghalangi persatuan umat. Lalu, apa dosa generasi belakangan yang tidak terlibat dalam peristiwa itu, bahkan mengingkarinya, sehingga harus menanggung beban sejarah masa lalu?
Umat Islam, Sunni dan Syiah, bersepakat tentang kedudukan Ahlul Bait di hati kaum muslimin. Cinta kepada Nabi dan keluarganya adalah bagian yang tidak terpisahkan dari ajaran agama. Bahkan, Imam Syafi'i menyatakan wajib hukumnya membaca Shalawat (doa) untuk Ahlul bait dalam sholat. Dalam bait syair beliau berdendang:
يا آل بيت رسول الله حبكمو, فرض من الله فى القرآن أنزله
يكفيكم من عظيم الفخر أنكمو, من لم يصل عليكم فلا صلاة له
"Wahai Ahlu Bayt (keluarga) Rasulillah, Mencintaimu adalah kewajiban dari Allah dalam Al-Qur'an yang diturunkan-Nya. Cukuplah kebanggaan luar biasa bagimu, bahwa yang tidak membaca shalawat (doa) untukmu (dalam shalat) maka tidak sah shalatnya."
Ma'asyiral Muslimin Hafizhakumullah!
Hubungan antara para Sahabat dengan Ahlul Bait terjalin dengan baik penuh kecintaan dan kasih sayang. Imam Ali menikahkan putrinya Ummi Kultsum kepada Umar bin Khattab, dan menamakan anak-anaknya dengan nama Abu bakar, Umar dan Usman. Imam Musa al-Kazhim putra Imam Ja'far al-Shadiq menamakan salah seorang putranya dengan nama Abu Bakar dan putrinya bernama Aisyah.
Lalu, mengapa cacian dan laknat terhadap para sahabat yang sangat dihormati oleh Muslim Sunni masih terdengar hingga kini? Padahal, Allah telah menyatakan dalam kitab suci-Nya:
Seluruh komponen masyarakat dipandang sebagai satu ummat yang saling melindungi satu dengan lainnya. Begitu juga dengan pemeluk Kristen di Najran. Hal sama dilakukan Umar bin Khattab dengan penduduk Elia (Yerusalem) berupa jaminan keselamatan atas jiwa, harta dan rumah ibadah mereka setelah wilayah itu dikuasainya pada Tahun 638 M (15 Hijriah).
Ma'asyiral Muslimin Hafizhakumullah!
Bila hubungan persaudaraan kemanusiaan dengan yang berbeda agama sangat ditekankan, apalagi dengan sesama Muslim. Meski berbeda dalam cara mengamalkan rincian ajaran agama, kesamaan keyakinan kepada Allah yang Maha Esa, Nabi mulia dan kitab sucinya, serta kiblat yang sama dalam sholat dan haji.
Itu semua cukup menjadi dasar untuk membangun persatuan atas dasar saudara seagama. Namun sayang, jauh panggang dari api. Sebagai contoh, kemulian dan kesucian hari Asyura tercoreng oleh peristiwa yang meninggalkan luka mendalam yang hingga saat ini memicu konflik berkepanjangan antara Muslim Sunni dan Syiah. Perselisihan semakin meruncing setiap kali hari Asyura datang.
Di saat mayoritas Muslim penganut Ahlussunnah wal Jama'ah memperingati hari Asyura sebagai hari kesyukuran atas kemenangan dengan mengabadikan ingatan sejarah kemenangan Nabi Musa atas kezaliman Fir'aun, kaum Syiah memperingatinya sebagai hari kesedihan. Bahkan, dalam ritualnya ada yang sampai melukai diri agar bisa merasakan apa yang dialami oleh Sayyidunal Husain, cucu Baginda Nabi Muhammad ﷺ.
Pada hari itu, tepatnya pada Tahun 61 Hijriah, Imam Husein radhiyallahu 'anhu beserta pengikutnya sebanyak 72 orang dibunuh di Karbala, Irak oleh Yazid bin Muawiyah, penguasa saat itu. Peristiwa itu pada mulanya bermotifkan politik, tetapi memberi pengaruh psikologis dan teologis yang sangat mendalam.
Sehingga sampai sekarang kebencian dan kecurigaan menyelimuti hubungan antara dua tradisi keislaman; Sunni dan Syiah. Bahkan dengan mudahnya antara satu dengan lainnya saling mangkafirkan. Isu inilah yang berperan memecah belah persatuan umat seperti yang terjadi di beberapa negara Islam.
Tidak sepatutnya umat Islam terus tersandera oleh beban sejarah kelam di masa lalu. Sampai kapan peritiwa itu akan terus menghalangi persatuan umat. Lalu, apa dosa generasi belakangan yang tidak terlibat dalam peristiwa itu, bahkan mengingkarinya, sehingga harus menanggung beban sejarah masa lalu?
Umat Islam, Sunni dan Syiah, bersepakat tentang kedudukan Ahlul Bait di hati kaum muslimin. Cinta kepada Nabi dan keluarganya adalah bagian yang tidak terpisahkan dari ajaran agama. Bahkan, Imam Syafi'i menyatakan wajib hukumnya membaca Shalawat (doa) untuk Ahlul bait dalam sholat. Dalam bait syair beliau berdendang:
يا آل بيت رسول الله حبكمو, فرض من الله فى القرآن أنزله
يكفيكم من عظيم الفخر أنكمو, من لم يصل عليكم فلا صلاة له
"Wahai Ahlu Bayt (keluarga) Rasulillah, Mencintaimu adalah kewajiban dari Allah dalam Al-Qur'an yang diturunkan-Nya. Cukuplah kebanggaan luar biasa bagimu, bahwa yang tidak membaca shalawat (doa) untukmu (dalam shalat) maka tidak sah shalatnya."
Ma'asyiral Muslimin Hafizhakumullah!
Hubungan antara para Sahabat dengan Ahlul Bait terjalin dengan baik penuh kecintaan dan kasih sayang. Imam Ali menikahkan putrinya Ummi Kultsum kepada Umar bin Khattab, dan menamakan anak-anaknya dengan nama Abu bakar, Umar dan Usman. Imam Musa al-Kazhim putra Imam Ja'far al-Shadiq menamakan salah seorang putranya dengan nama Abu Bakar dan putrinya bernama Aisyah.
Lalu, mengapa cacian dan laknat terhadap para sahabat yang sangat dihormati oleh Muslim Sunni masih terdengar hingga kini? Padahal, Allah telah menyatakan dalam kitab suci-Nya:
Lihat Juga :