3 Pelajaran Pokok Riwayat Nabi Ibrahim Menurut Ja'far Subhani
Minggu, 13 Agustus 2023 - 16:32 WIB
loading...
Ada beberapa pokok yang mengandung pelajaran bagi manusia dari riwayat Nabi Ibrahim. Ilustrasi: Ist
A
A
A
Walaupun orang Yahudi mengaku sebagai pelopor kafilah penganut tauhid , riwayat tentang Nabi Ibrahim menghancurkan berhala lalu dihukum bakar tak masyhur di kalangan mereka. Bahkan riwayat ini tidak beroleh tempat dalam Taurat yang ada sekarang.
Dalam buku "Ar-Risalah, Sejarah Kehidupan Rasulullah SAW" karya Ja'far Subhani disebutkan beberapa pokok yang mengandung pelajaran bagi manusia dari riwayat Nabi Ibrahim tersebut.
1. Riwayat ini merupakan bukti yang jelas tentang keberanian dan keperkasaan yang luar biasa dari kekasih Allah (Ibrahim) ini. Tekadnya untuk menghancurkan manifestasi dan sarana kemusyrikan tak dapat disembunyikan dari rakyat Namrud.
Dengan celaan dan kecamannya, beliau telah menyatakan perlawanan dan
kebenciannya yang luar biasa terhadap penyembahan berhala secara sangat nyata. Beliau mengatakan secara terbuka dan jelas, "Apabila kamu tidak berhenti dari praktik yang memalukan itu, aku akan membuat keputusan tentang mereka."
Dan pada hari kepergian orang-orang ke hutan, beliau berkata secara terang-terangan, "Demi Tuhan, sesungguhnya aku akan melakukan tipu daya terhadap berhala-berhalamu sesudah kamu pergi meninggalkannya." (QS, al-Anbiya', 21:57)
Baca juga: Rasulullah SAW Mengakui Mirip Nabi Ibrahim
Ja'far Subhani mengutip dari Imam Ja'far ash-Shadiq mengatakan, "Gerakan dan perjuangan satu orang melawan ribuan orang musyrik merupakan bukti nyata akan keberanian dan kesabaran Ibrahim, yang tidak mengkhawatirkan jiwanya dalam mengangkat asma Allah dan memperkuat dasar penyembahan kepada Tuhan yang Esa."
2. Sepintas tampak seakan penghancuran berhala oleh Ibrahim merupakan pemberontakan bersenjata dan permusuhan, tetapi dari percakapannya dengan para hakim, terbukti bahwa gerakan ini sebenarnya mempunyai aspek dakwah.
Menurut Ja'far Subhani, hal ini karena beliau memandang bahwa sebagai sarana terakhir untuk membangunkan kebijaksanaan dan kesadaran hati nurani manusia, beliau harus menghancurkan berhala-berhala itu, kecuali berhala yang besar, dan meletakkan kapak di bahunya, supaya mereka dapat mengadakan penyelidikan lebih jauh tentang sebab-sebab insiden itu.
Pada akhirnya, mereka hanya akan menganggap pandangan itu sebagai ejekan, dan sama sekali tak akan percaya kalau penghancuran itu dilakukan oleh berhala besar itu.
Dalam buku "Ar-Risalah, Sejarah Kehidupan Rasulullah SAW" karya Ja'far Subhani disebutkan beberapa pokok yang mengandung pelajaran bagi manusia dari riwayat Nabi Ibrahim tersebut.
1. Riwayat ini merupakan bukti yang jelas tentang keberanian dan keperkasaan yang luar biasa dari kekasih Allah (Ibrahim) ini. Tekadnya untuk menghancurkan manifestasi dan sarana kemusyrikan tak dapat disembunyikan dari rakyat Namrud.
Dengan celaan dan kecamannya, beliau telah menyatakan perlawanan dan
kebenciannya yang luar biasa terhadap penyembahan berhala secara sangat nyata. Beliau mengatakan secara terbuka dan jelas, "Apabila kamu tidak berhenti dari praktik yang memalukan itu, aku akan membuat keputusan tentang mereka."
Dan pada hari kepergian orang-orang ke hutan, beliau berkata secara terang-terangan, "Demi Tuhan, sesungguhnya aku akan melakukan tipu daya terhadap berhala-berhalamu sesudah kamu pergi meninggalkannya." (QS, al-Anbiya', 21:57)
Baca juga: Rasulullah SAW Mengakui Mirip Nabi Ibrahim
Ja'far Subhani mengutip dari Imam Ja'far ash-Shadiq mengatakan, "Gerakan dan perjuangan satu orang melawan ribuan orang musyrik merupakan bukti nyata akan keberanian dan kesabaran Ibrahim, yang tidak mengkhawatirkan jiwanya dalam mengangkat asma Allah dan memperkuat dasar penyembahan kepada Tuhan yang Esa."
2. Sepintas tampak seakan penghancuran berhala oleh Ibrahim merupakan pemberontakan bersenjata dan permusuhan, tetapi dari percakapannya dengan para hakim, terbukti bahwa gerakan ini sebenarnya mempunyai aspek dakwah.
Menurut Ja'far Subhani, hal ini karena beliau memandang bahwa sebagai sarana terakhir untuk membangunkan kebijaksanaan dan kesadaran hati nurani manusia, beliau harus menghancurkan berhala-berhala itu, kecuali berhala yang besar, dan meletakkan kapak di bahunya, supaya mereka dapat mengadakan penyelidikan lebih jauh tentang sebab-sebab insiden itu.
Pada akhirnya, mereka hanya akan menganggap pandangan itu sebagai ejekan, dan sama sekali tak akan percaya kalau penghancuran itu dilakukan oleh berhala besar itu.
Lihat Juga :