4 Kriteria Seorang Muslim Berkualitas, Paling Utama Bersungguh-sungguh Menghasilkan Hal yang Bermanfaat
Kamis, 31 Agustus 2023 - 16:38 WIB
loading...
Para ulama menjelaskan, al-mukmin al-qawiy, orang beriman yang kuat dalam sabda ini bukan hanya sebatas fisik. Tetapi mencakup banyak hal: akidah, ibadah, akhlak, ekonomi, sosial, politik, dan sebagainya. Foto ilustrasi/ist
A
A
A
Ulama besar asal Mesir Syaikh Mutawalli asy-Sya’rawi sangat menyoroti kualitas keislaman kaum muslimin hari ini yang masih jauh di bawah standar. Beliau juga menekankan adanya perbedaan antara muslim dan mukmin. Sebab nash-nash syariat, baik dari al-Quran maupun as-Sunnah, memang membedakan antara keduanya.
Mengutip pernyataannya, dijelaskan bahwa meskipun istilah iman dan Islam bisa saling mewakili ketika disebutkan sendiri-sendiri, akan tetapi, ketika disebutkan secara bersamaan dalam satu konteks pembahasan, masing-masing mempunyai arti tersendiri. Inilah yang dimaksud dengan kaidah idzaa ijtama’ iftaraqa, wa idzaa iftaraqa ijtama’a.
Untuk lebih mudah memahami perbedaan antara mukmin dan muslim , cobalah simak dan renungi perkataan sederhana berikut ini, “Jika engkau ingin melihat mukmin, lihatlah ketika shalat Subuh. Jika ingin melihat muslim, lihatlah ketika salat Id.”
Simpelnya, dapat dijelaskan bahwa, mukmin identik dengan kualitas, sedangkan muslim identik dengan kuantitas. Bisa disimpulkan bahwa mukmin adalah next level dari muslim yang terus berbenah dan meningkatkan kualitas dirinya. Baik dari aspek ruhiyah, ilmiyah, maupun jasadiyahnya.
Pertanyaannya kemudian, “Seperti apa sifat-sifat muslim yang berkualitas mukmin?”
Baginda Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menjelaskan sifat-sifat tersebut dalam sebuah hadits yang cukup panjang,
“Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada mukmin yang lemah; dan pada keduanya ada kebaikan. Bersungguh-sungguhlah untuk mendapatkan apa yang bermanfaat bagimu dan mintalah pertolongan kepada Allah (dalam segala urusanmu), serta janganlah sekali-kali engkau merasa lemah.
Apabila engkau tertimpa musibah, janganlah engkau berkata,‘Seandainya aku berbuat demikian, tentu tidak akan terjadi begini dan begitu.’ Tetapi, katakanlah,‘Qaddarallahu wa maa sya’a fa’ala (Ini telah ditakdirkan Allah, dan Allah berbuat apa saja yang Dia kehendaki). Karena ucapan ‘seandainya’ akan membuka pintu setan.”(HR. Muslim no. 2664).
Para ulama menjelaskan, al-mukmin al-qawiy, orang beriman yang kuat dalam sabda ini bukan hanya sebatas fisik. Tetapi mencakup banyak hal: akidah, ibadah, akhlak, ekonomi, sosial, politik, dan sebagainya.
Mengutip pernyataannya, dijelaskan bahwa meskipun istilah iman dan Islam bisa saling mewakili ketika disebutkan sendiri-sendiri, akan tetapi, ketika disebutkan secara bersamaan dalam satu konteks pembahasan, masing-masing mempunyai arti tersendiri. Inilah yang dimaksud dengan kaidah idzaa ijtama’ iftaraqa, wa idzaa iftaraqa ijtama’a.
Untuk lebih mudah memahami perbedaan antara mukmin dan muslim , cobalah simak dan renungi perkataan sederhana berikut ini, “Jika engkau ingin melihat mukmin, lihatlah ketika shalat Subuh. Jika ingin melihat muslim, lihatlah ketika salat Id.”
Simpelnya, dapat dijelaskan bahwa, mukmin identik dengan kualitas, sedangkan muslim identik dengan kuantitas. Bisa disimpulkan bahwa mukmin adalah next level dari muslim yang terus berbenah dan meningkatkan kualitas dirinya. Baik dari aspek ruhiyah, ilmiyah, maupun jasadiyahnya.
Pertanyaannya kemudian, “Seperti apa sifat-sifat muslim yang berkualitas mukmin?”
Baginda Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menjelaskan sifat-sifat tersebut dalam sebuah hadits yang cukup panjang,
الْمُؤْمِنُ الْقَوِيُّ خَيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنْ الْمُؤْمِنِ الضَّعِيفِ وَفِي كُلٍّ خَيْرٌ. احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ وَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ وَلَا تَعْجَزْ. وَإِنْ أَصَابَكَ شَيْءٌ فَلَا تَقُلْ لَوْ أَنِّي فَعَلْتُ كَانَ كَذَا وَكَذَا، وَلَكِنْ قُلْ قَدَرُ اللَّهِ وَمَا شَاءَ فَعَلَ، فَإِنَّ لَوْ تَفْتَحُ عَمَلَ الشَّيْطَانِ
“Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada mukmin yang lemah; dan pada keduanya ada kebaikan. Bersungguh-sungguhlah untuk mendapatkan apa yang bermanfaat bagimu dan mintalah pertolongan kepada Allah (dalam segala urusanmu), serta janganlah sekali-kali engkau merasa lemah.
Apabila engkau tertimpa musibah, janganlah engkau berkata,‘Seandainya aku berbuat demikian, tentu tidak akan terjadi begini dan begitu.’ Tetapi, katakanlah,‘Qaddarallahu wa maa sya’a fa’ala (Ini telah ditakdirkan Allah, dan Allah berbuat apa saja yang Dia kehendaki). Karena ucapan ‘seandainya’ akan membuka pintu setan.”(HR. Muslim no. 2664).
Para ulama menjelaskan, al-mukmin al-qawiy, orang beriman yang kuat dalam sabda ini bukan hanya sebatas fisik. Tetapi mencakup banyak hal: akidah, ibadah, akhlak, ekonomi, sosial, politik, dan sebagainya.
Lihat Juga :