Khotbah Jumat: Beratnya Amanah, Gunung Pun Enggan untuk Memikulnya
Jum'at, 08 September 2023 - 05:10 WIB
loading...
A
A
A
سُمِّيَ التَكْلِيفُ أَمَانَةً لِأَنَّ مَنْ قَصَّرَ فِيهِ فَعَلَيْهِ الْغَرَامَةُ، وَمَنْ أَدَّاهُ فَلَهُ الْكَرَامَةُ (نضرة النعيم في مكارم أخلاق الرسول الكريم، ج: ٣، ص: ٥١٠)
"Semua beban hukum atau taklif dinamakan amanat, karena siapapun yang mengabaikannya maka hukuman baginya, dan siapapun yang menunaikannya maka kemuliaan untuknya."
Lihatlah, Nabi termulia yaitu Nabi Muhammad ﷺ bergelar Al-Amiin, Malaikat termulia yaitu Malaikat Jibril 'alaihissalam juga bergelar (Ar-Ruuh) Al-Amiin. Keduanya mendapat gelar kemuliaan Al-Amin dari Allah SWT karena keduanya adalah profil hamba paripurna yang dapat dipercaya dan mampu mengemban amanat Allah SWT secara tuntas dan sempurna.
Ma'asyiral Muslimin rahimakumullah!
Adalah wajib hukumnya untuk menjaga dan menunaikan semua jenis amanah. Tentu teramat berat memikul sekian banyak amanat tersebut. Saking beratnya, bahkan langit, bumi dan gunung-gunung yang sedemikian besar itu pun enggan untuk memikulnya, sebagaimana firman Allah SWT:
Artinya: "Sesungguhnya Kami telah menawarkan amanat kepada langit, bumi, dan gunung-gunung; tetapi semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir tidak akan melaksanakannya (berat), lalu dipikullah amanat itu oleh manusia. Sungguh, manusia itu sangat zalim dan sangat bodoh." (QS Al-Ahzab Ayat 72)
Saat kita yang diminta untuk mengemban suatu amanat, apapun jenisnya, maka pastikanlah bahwa kita memang memiliki kapasitas dan komitmen moral untuk menunaikannya. Di sisi lain, saat amanat dari kita dibutuhkan oleh orang lain, maka pastikanlah bahwa kita memberikan amanat tersebut kepada orang yang tepat, yang memiliki kapasitas dan komitmen moral untuk dapat menunaikan amanat kita tersebut.
Jangan sampai barometer yang kita gunakan baik untuk memberi atau menerima amanat hanyalah standar-standar duniawi semata, seperti media untuk menaikkan popularitas dan gengsi sosial, atau karena membawa cuan demi keuntungan pribadi. Karena, amanah bukanlah hanya urusan duniawi yang fana dan sementara.
Amanah adalah urusan ukhrawi yang abadi dan berefek selamanya. Rasulullah ﷺ menegaskan hal itu dalam wejangannya:
عَنْ َأَبِي ذَرّ، قَالَ: قُلْتُ: يَا رَسُولَ الله، أَلَا تَسْتَعْمِلُنِي؟ قَالَ: فَضَرَبَ بِيَدِهِ عَلَى مَنْكِبِي، ثُمَّ قَالَ: يَا أَبَا ذَرّ، إِنَكَ ضَعِيفٌ، وَإِنَّهَا أَمَانَةٌ، وَإِنَّهَا يَوْمَ الْقِيَامَةِ خِزْيٌ وَنَدَامَةٌ، إِلَّا مَنْ أَخَذَهَا بِحَقِّهَا، وَأَدَّى الَّذِي عَلَيْهِ فِيْهَا (رواه مسلم)
Dari Abi Dzar, dia berkata, "Aku berkata, "Wahai Rasulullah, tidakkah engkau akan menggunakanku (dalam suatu jabatan)? Abu Dzar (kembali) berkata: Beliau (Rasulullah) kemudian menepuk bahuku dengan tangannya, lalu ia bersabda: "Wahai Aba Dzar, engkau adalah sosok yang lemah, adapun ia (jabatan itu) adalah sebuah amanah. Ia hanya akan menjadi kenistaan dan penyesalan di hari Kiamat kelak, kecuali bagi yang menerimanya dengan haknya dan ia tunaikan kewajiban amanat yang ada padanya itu." (HR Muslim)
"Semua beban hukum atau taklif dinamakan amanat, karena siapapun yang mengabaikannya maka hukuman baginya, dan siapapun yang menunaikannya maka kemuliaan untuknya."
Lihatlah, Nabi termulia yaitu Nabi Muhammad ﷺ bergelar Al-Amiin, Malaikat termulia yaitu Malaikat Jibril 'alaihissalam juga bergelar (Ar-Ruuh) Al-Amiin. Keduanya mendapat gelar kemuliaan Al-Amin dari Allah SWT karena keduanya adalah profil hamba paripurna yang dapat dipercaya dan mampu mengemban amanat Allah SWT secara tuntas dan sempurna.
Ma'asyiral Muslimin rahimakumullah!
Adalah wajib hukumnya untuk menjaga dan menunaikan semua jenis amanah. Tentu teramat berat memikul sekian banyak amanat tersebut. Saking beratnya, bahkan langit, bumi dan gunung-gunung yang sedemikian besar itu pun enggan untuk memikulnya, sebagaimana firman Allah SWT:
اِنَّا عَرَضْنَا الْاَمَانَةَ عَلَى السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِ وَالْجِبَالِ فَاَبَيْنَ اَنْ يَّحْمِلْنَهَا وَاَشْفَقْنَ مِنْهَا وَحَمَلَهَا الْاِنْسَانُ ۗ اِنَّهٗ كَانَ ظَلُوْمًا جَهُوْلًا
Artinya: "Sesungguhnya Kami telah menawarkan amanat kepada langit, bumi, dan gunung-gunung; tetapi semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir tidak akan melaksanakannya (berat), lalu dipikullah amanat itu oleh manusia. Sungguh, manusia itu sangat zalim dan sangat bodoh." (QS Al-Ahzab Ayat 72)
Saat kita yang diminta untuk mengemban suatu amanat, apapun jenisnya, maka pastikanlah bahwa kita memang memiliki kapasitas dan komitmen moral untuk menunaikannya. Di sisi lain, saat amanat dari kita dibutuhkan oleh orang lain, maka pastikanlah bahwa kita memberikan amanat tersebut kepada orang yang tepat, yang memiliki kapasitas dan komitmen moral untuk dapat menunaikan amanat kita tersebut.
Jangan sampai barometer yang kita gunakan baik untuk memberi atau menerima amanat hanyalah standar-standar duniawi semata, seperti media untuk menaikkan popularitas dan gengsi sosial, atau karena membawa cuan demi keuntungan pribadi. Karena, amanah bukanlah hanya urusan duniawi yang fana dan sementara.
Amanah adalah urusan ukhrawi yang abadi dan berefek selamanya. Rasulullah ﷺ menegaskan hal itu dalam wejangannya:
عَنْ َأَبِي ذَرّ، قَالَ: قُلْتُ: يَا رَسُولَ الله، أَلَا تَسْتَعْمِلُنِي؟ قَالَ: فَضَرَبَ بِيَدِهِ عَلَى مَنْكِبِي، ثُمَّ قَالَ: يَا أَبَا ذَرّ، إِنَكَ ضَعِيفٌ، وَإِنَّهَا أَمَانَةٌ، وَإِنَّهَا يَوْمَ الْقِيَامَةِ خِزْيٌ وَنَدَامَةٌ، إِلَّا مَنْ أَخَذَهَا بِحَقِّهَا، وَأَدَّى الَّذِي عَلَيْهِ فِيْهَا (رواه مسلم)
Dari Abi Dzar, dia berkata, "Aku berkata, "Wahai Rasulullah, tidakkah engkau akan menggunakanku (dalam suatu jabatan)? Abu Dzar (kembali) berkata: Beliau (Rasulullah) kemudian menepuk bahuku dengan tangannya, lalu ia bersabda: "Wahai Aba Dzar, engkau adalah sosok yang lemah, adapun ia (jabatan itu) adalah sebuah amanah. Ia hanya akan menjadi kenistaan dan penyesalan di hari Kiamat kelak, kecuali bagi yang menerimanya dengan haknya dan ia tunaikan kewajiban amanat yang ada padanya itu." (HR Muslim)
Lihat Juga :