Kisah Sana, Perempuan yang Dianggap Menjadi Ancaman Serius bagi Prancis
Jum'at, 15 September 2023 - 15:52 WIB
loading...
A
A
A
Baca juga: Inilah Perbedaan ISIS dan Boko Haram
Kasus Deportasi
Para pejabat anti-terorisme di Perancis mengetahui kasus Sana dan usianya saat ia pindah ke Suriah dilaporkan menjadi faktor dalam keputusan mereka untuk tidak mengadilinya.
Remaja tersebut pada dasarnya berada di bawah kendali ibu dan pamannya, yang sepenuhnya berkomitmen pada ideologi ISIS.
Pada tahun 2014, ketika pasangan tersebut membawanya ke Suriah, dia tidak dapat memberikan persetujuan hukum atas keputusan tersebut.
Sana menikah dengan seorang anggota ISIS asal Belgia segera setelah dia tiba di Raqqa, yang dulunya merupakan ibu kota de facto kelompok tersebut, dan melahirkan anak pertamanya pada usia 16 tahun. Pada usia 19 tahun, ia memiliki putri keduanya.
“Perkawinan paksa pada usia 15 tahun adalah pemerkosaan,” kata pengacaranya.
Sana mengatakan kepada penyelidik Prancis bahwa dia telah mencoba melarikan diri dari kelompok tersebut tetapi dicegah oleh ibunya.
Pada bulan Maret 2019, dia ditangkap dan kemudian ditahan oleh pasukan SDF, sebuah milisi yang sebagian besar terdiri dari kelompok Kurdi dan beberapa faksi Arab, yang didukung oleh AS.
Baca juga: Pemimpin Baru ISIS Ternyata Saudara Baghdadi
Kasus Deportasi
Para pejabat anti-terorisme di Perancis mengetahui kasus Sana dan usianya saat ia pindah ke Suriah dilaporkan menjadi faktor dalam keputusan mereka untuk tidak mengadilinya.
Remaja tersebut pada dasarnya berada di bawah kendali ibu dan pamannya, yang sepenuhnya berkomitmen pada ideologi ISIS.
Pada tahun 2014, ketika pasangan tersebut membawanya ke Suriah, dia tidak dapat memberikan persetujuan hukum atas keputusan tersebut.
Sana menikah dengan seorang anggota ISIS asal Belgia segera setelah dia tiba di Raqqa, yang dulunya merupakan ibu kota de facto kelompok tersebut, dan melahirkan anak pertamanya pada usia 16 tahun. Pada usia 19 tahun, ia memiliki putri keduanya.
“Perkawinan paksa pada usia 15 tahun adalah pemerkosaan,” kata pengacaranya.
Sana mengatakan kepada penyelidik Prancis bahwa dia telah mencoba melarikan diri dari kelompok tersebut tetapi dicegah oleh ibunya.
Pada bulan Maret 2019, dia ditangkap dan kemudian ditahan oleh pasukan SDF, sebuah milisi yang sebagian besar terdiri dari kelompok Kurdi dan beberapa faksi Arab, yang didukung oleh AS.
Baca juga: Pemimpin Baru ISIS Ternyata Saudara Baghdadi
Lihat Juga :