Kisah Perempuan Iran Narges Mohammadi, Peraih Nobel yang Jalani Hidup di Penjara
Sabtu, 07 Oktober 2023 - 16:15 WIB
loading...
Narges Mohammadi. Foto: Aljazeera
A
A
A
Dia adalah Narges Mohammadi. Pembela hak-hak perempuan Iran yang kini mendekam di penjara ini memenangkan Hadiah Nobel Perdamaian 2023. Ia adalah pejuang yang berani melawan penindasan terhadap perempuan di Iran. Ia gigih berjuang tanpa henti untuk reformasi sosial.
Aljazeera melaporkan saat berada di balik jeruji besi, dia dianugerahi penghargaan bergengsi itu pada hari Jumat 6 Oktober 2023 atas upayanya mempromosikan hak asasi manusia dan kebebasan untuk semua.
“Perjuangannya yang berani menimbulkan kerugian pribadi yang sangat besar. Secara keseluruhan, rezim telah menangkapnya sebanyak 13 kali, menghukumnya sebanyak lima kali, dan menjatuhkan hukuman total 31 tahun penjara dan 154 kali cambukan,” ujar Berit Reiss-Andersen, Ketua Komite Nobel Norwegia, mengatakan di Oslo saat pengumuman tersebut.
Baca juga: Siapakah Narges Mohammadi, Pemenang Hadiah Nobel Perdamaian?
Narges Mohammadi, 51 tahun, adalah salah satu aktivis hak asasi manusia terkemuka di Iran yang berkampanye untuk hak-hak perempuan dan penghapusan hukuman mati.
Dia saat ini menjalani beberapa hukuman di penjara Evin yang terkenal kejam di Teheran. Menurut organisasi hak asasi Front Line Defenders ia akan menjalani sekitar 12 tahun penjara. Ini adalah salah satu dari sekian banyak masa penahanannya di balik jeruji besi. Ia antara lain dituduh menyebarkan propaganda melawan negara.
Narges Mohammadi adalah wakil kepala Pusat Pembela Hak Asasi Manusia, sebuah organisasi non-pemerintah yang dipimpin oleh Shirin Ebadi, penerima Hadiah Nobel Perdamaian tahun 2003.
Dia mengatakan kepada The New York Times setelah kemenangannya bahwa dia tidak akan pernah berhenti berjuang untuk demokrasi dan kesetaraan – bahkan jika itu berarti harus tetap berada di penjara.
“Saya akan terus berjuang melawan diskriminasi tanpa henti, tirani dan penindasan berbasis gender yang dilakukan oleh pemerintah agama yang menindas hingga pembebasan perempuan,” kata surat kabar tersebut mengutip ucapannya dalam sebuah pernyataan.
“Saya juga berharap pengakuan ini membuat protes masyarakat Iran untuk perubahan menjadi lebih kuat dan terorganisir. Kemenangan sudah dekat.”
![Kisah Perempuan Iran Narges Mohammadi, Peraih Nobel yang Jalani Hidup di Penjara]()
Baca juga: Perangi Penindasan Perempuan, Aktivis Iran Menangi Hadiah Nobel Perdamaian
Aljazeera melaporkan saat berada di balik jeruji besi, dia dianugerahi penghargaan bergengsi itu pada hari Jumat 6 Oktober 2023 atas upayanya mempromosikan hak asasi manusia dan kebebasan untuk semua.
“Perjuangannya yang berani menimbulkan kerugian pribadi yang sangat besar. Secara keseluruhan, rezim telah menangkapnya sebanyak 13 kali, menghukumnya sebanyak lima kali, dan menjatuhkan hukuman total 31 tahun penjara dan 154 kali cambukan,” ujar Berit Reiss-Andersen, Ketua Komite Nobel Norwegia, mengatakan di Oslo saat pengumuman tersebut.
Baca juga: Siapakah Narges Mohammadi, Pemenang Hadiah Nobel Perdamaian?
Narges Mohammadi, 51 tahun, adalah salah satu aktivis hak asasi manusia terkemuka di Iran yang berkampanye untuk hak-hak perempuan dan penghapusan hukuman mati.
Dia saat ini menjalani beberapa hukuman di penjara Evin yang terkenal kejam di Teheran. Menurut organisasi hak asasi Front Line Defenders ia akan menjalani sekitar 12 tahun penjara. Ini adalah salah satu dari sekian banyak masa penahanannya di balik jeruji besi. Ia antara lain dituduh menyebarkan propaganda melawan negara.
Narges Mohammadi adalah wakil kepala Pusat Pembela Hak Asasi Manusia, sebuah organisasi non-pemerintah yang dipimpin oleh Shirin Ebadi, penerima Hadiah Nobel Perdamaian tahun 2003.
Dia mengatakan kepada The New York Times setelah kemenangannya bahwa dia tidak akan pernah berhenti berjuang untuk demokrasi dan kesetaraan – bahkan jika itu berarti harus tetap berada di penjara.
“Saya akan terus berjuang melawan diskriminasi tanpa henti, tirani dan penindasan berbasis gender yang dilakukan oleh pemerintah agama yang menindas hingga pembebasan perempuan,” kata surat kabar tersebut mengutip ucapannya dalam sebuah pernyataan.
“Saya juga berharap pengakuan ini membuat protes masyarakat Iran untuk perubahan menjadi lebih kuat dan terorganisir. Kemenangan sudah dekat.”

Baca juga: Perangi Penindasan Perempuan, Aktivis Iran Menangi Hadiah Nobel Perdamaian
Lihat Juga :