Inilah Orang Pertama yang Menyandang Gelar Habib
Rabu, 11 Oktober 2023 - 07:35 WIB
loading...
Makam Habib Umar bin Abdurrahman Al-Attas (pengarang Ratib Al-Athos) di Kota Huraidhah, Hadhramaut Yaman. Beliau wafat Tahun 1652 M pada usia 80 tahun. Foto/ist
A
A
A
Istilah Habib (حبيب) dalam Bahasa Arab artinya adalah kekasih atau yang dikasihi dan dicintai. Terkadang orang Arab menulisnya dengan "Habeeb" yang berarti yang dihormati. Dalam bentuk jamak biasa disebut Habaib.
Lalu, siapakah orang pertama yang menyandang gelar Habib ? Untuk diketahui, istilah Habib bagi masyarakat Hadhramaut dan keturunan Hadhramaut Yaman yang tersebar di belahan dunia merupakan panggilan untuk para Sayid Ba 'Alawi (keturunan Nabi Muhammad ﷺ dari jalur Sayyid Alwi bin Ubaidillah).
Dalam Buku "Pemikiran dan Ajaran Para Sayid Ba 'Alawi dari Masa ke Masa", Husein Muhammad Alkaff menjelaskan bagaimana para keturunan Nabi Muhammad ﷺ dijuluki dengan Habib dan Sayyid.
Adapun orang yang pertama kali menyandang sebutan Habib adalah Habib Umar bin Abdurahman Alattas (992-1072 H atau1572-1652 M). Lahir di Desa Lisk, dekat Kota Inat, Hadhramaut, Yaman. Beliau adalah ulama pengarang Ratib Al-Athos (Sohibur راتب العطاس) yang masyhur di kalangan Dzurriyah Nabi. Beliau pulalah yang mula-mula mendapat gelar Al-Atthas, artinya orang yang bersin.
Sebelum beliau, keturunan Sayyid Alwi bin Ubaidillah tidak dipanggil Habib, tetapi dipanggil dengan Sayyid, Imam dan Syaikh. Misalnya Imam Sayyid Ahmad bin Isa al-Muhajir (273-345 H/873-956 M); Imam Sayyid Muhammad bin Ali al-Faqih al-Muqaddam (574-653 H/1178-1232 M); Syaikh Abdurahman Assegaf bin Muhammad Mawladawilah (739-819); dan lainnya yang hidup sebelum Habib Umar bin Abdurahman Alattas.
Menurut keterangan Habib Zain bin Smith, awalnya panggilan dan gelar Habib ini diberikan kepada para Sayyid Ba 'Alawi yang alim dan memiliki dedikasi sosial yang tinggi. Sementara mereka yang tidak demikian biasa dipanggil dengan Sayyid. Kalau di daerah sering dipanggil dengan Iyek, Ayip atau Wan.
Boleh jadi, panggilan ini untuk Habib Umar bin Abdurahman Alattas sebagai bentuk kecintaan dan penghormatan kepada beliau karena integritas beliau dalam keilmuan dan amalnya. Kemudian panggilan ini juga diberikan kepada para Sayid Ba 'Alawi yang mempunyai kapasitas yang sama dengan beliau oleh orang-orang di sekitarnya. Seperti Habib Abdullah bin Alwi Al-Haddad dan ulama besar keturunan Rasulullah lainnya.
Dapat disimpulkan bahwa tidak setiap Sayyid Ba 'Alawi dipanggil Habib. Belakangan khususnya di Jakarta dan sekitarnya, panggilan Habib diberikan kepada semua Sayyid Ba 'Alawi, bahkan kepada mereka yang bukan ulama. Kata Habib juga di sebagian keluarga Ba 'Alawi, digunakan untuk menyebut kakek, sedangkan untuk nenek disebut Hubaabah atau Hababah.
Sayyid Non Ba 'Alawi
Sebagaimana telah dijelaskan bahwa para Sayyid Ba 'Alawi adalah satu pecahan dari seluruh keturunan Nabi Muhammad ﷺ melalui Sayyid Alwi bin Ubaidillah bin Ahmad Al-Muhajir. Selain mereka, para Sayid tersebar di berbagai belahan dunia, misalnya Imam Ahmad al-Muhajir yang mempunyai 29 saudara dan mempunyai keturunan di Irak dan Iran.
Belum lagi keturunan dari ayah dan kakek-kakeknya seperti Imam Musa al-Kadzim yang mempunyai keturunan yang banyak dan dikenal dengan al-Musawi. Atau Imam Jafar as-Shadiq mempunyai keturunan selain dari Imam Musa al-Kadzim dan Sayid Ali al-'Uraidhi, dan seterusnya ke atas.
Lalu, siapakah orang pertama yang menyandang gelar Habib ? Untuk diketahui, istilah Habib bagi masyarakat Hadhramaut dan keturunan Hadhramaut Yaman yang tersebar di belahan dunia merupakan panggilan untuk para Sayid Ba 'Alawi (keturunan Nabi Muhammad ﷺ dari jalur Sayyid Alwi bin Ubaidillah).
Dalam Buku "Pemikiran dan Ajaran Para Sayid Ba 'Alawi dari Masa ke Masa", Husein Muhammad Alkaff menjelaskan bagaimana para keturunan Nabi Muhammad ﷺ dijuluki dengan Habib dan Sayyid.
Adapun orang yang pertama kali menyandang sebutan Habib adalah Habib Umar bin Abdurahman Alattas (992-1072 H atau1572-1652 M). Lahir di Desa Lisk, dekat Kota Inat, Hadhramaut, Yaman. Beliau adalah ulama pengarang Ratib Al-Athos (Sohibur راتب العطاس) yang masyhur di kalangan Dzurriyah Nabi. Beliau pulalah yang mula-mula mendapat gelar Al-Atthas, artinya orang yang bersin.
Sebelum beliau, keturunan Sayyid Alwi bin Ubaidillah tidak dipanggil Habib, tetapi dipanggil dengan Sayyid, Imam dan Syaikh. Misalnya Imam Sayyid Ahmad bin Isa al-Muhajir (273-345 H/873-956 M); Imam Sayyid Muhammad bin Ali al-Faqih al-Muqaddam (574-653 H/1178-1232 M); Syaikh Abdurahman Assegaf bin Muhammad Mawladawilah (739-819); dan lainnya yang hidup sebelum Habib Umar bin Abdurahman Alattas.
Menurut keterangan Habib Zain bin Smith, awalnya panggilan dan gelar Habib ini diberikan kepada para Sayyid Ba 'Alawi yang alim dan memiliki dedikasi sosial yang tinggi. Sementara mereka yang tidak demikian biasa dipanggil dengan Sayyid. Kalau di daerah sering dipanggil dengan Iyek, Ayip atau Wan.
Boleh jadi, panggilan ini untuk Habib Umar bin Abdurahman Alattas sebagai bentuk kecintaan dan penghormatan kepada beliau karena integritas beliau dalam keilmuan dan amalnya. Kemudian panggilan ini juga diberikan kepada para Sayid Ba 'Alawi yang mempunyai kapasitas yang sama dengan beliau oleh orang-orang di sekitarnya. Seperti Habib Abdullah bin Alwi Al-Haddad dan ulama besar keturunan Rasulullah lainnya.
Dapat disimpulkan bahwa tidak setiap Sayyid Ba 'Alawi dipanggil Habib. Belakangan khususnya di Jakarta dan sekitarnya, panggilan Habib diberikan kepada semua Sayyid Ba 'Alawi, bahkan kepada mereka yang bukan ulama. Kata Habib juga di sebagian keluarga Ba 'Alawi, digunakan untuk menyebut kakek, sedangkan untuk nenek disebut Hubaabah atau Hababah.
Sayyid Non Ba 'Alawi
Sebagaimana telah dijelaskan bahwa para Sayyid Ba 'Alawi adalah satu pecahan dari seluruh keturunan Nabi Muhammad ﷺ melalui Sayyid Alwi bin Ubaidillah bin Ahmad Al-Muhajir. Selain mereka, para Sayid tersebar di berbagai belahan dunia, misalnya Imam Ahmad al-Muhajir yang mempunyai 29 saudara dan mempunyai keturunan di Irak dan Iran.
Belum lagi keturunan dari ayah dan kakek-kakeknya seperti Imam Musa al-Kadzim yang mempunyai keturunan yang banyak dan dikenal dengan al-Musawi. Atau Imam Jafar as-Shadiq mempunyai keturunan selain dari Imam Musa al-Kadzim dan Sayid Ali al-'Uraidhi, dan seterusnya ke atas.
Lihat Juga :