Sejarah Keturunan Nabi Muhammad di Indonesia Dipanggil Habib

Kamis, 25 Agustus 2022 - 05:10 WIB
loading...
Sejarah Keturunan Nabi Muhammad di Indonesia Dipanggil Habib
Inilah beberapa keturunan Nabi Muhammad di Indonesia yang dipanggil dengan Habib. Dari 100 lebih marga keturunan Nabi Muhammad, di Indonesia terdapat 68 marga Habaib. Foto/Ist
A A A
Sejarah keturunan Nabi Muhammad di Indonesia dipanggil Habib menarik untuk diketahui. Siapa sebenarnya Habib dan bagaimana asal-usulnya di Indonesia? Simak ulasannya berikut.

Menurut Rabithah Alawiyah , lembaga pencatat nasab keturunan Nabi Muhammad SAW di Indonesia, ada sekitar 1,2 juta orang yang menyandang gelar Habib. Pada Tahun 2014, Rabithah Alawiyah mencatat jumlah Alawiyin, sebutan untuk keturunan Nabi Muhammad, se-Jabodetabek sebanyak 14.500 orang.

Di Indonesia, julukan Habib dinisbatkan sebagai keturunan Nabi Muhammad SAW dari jalur Sayyidina Husein bin Ali (cucu Rasulullah SAW). Habib sebenarnya hanya panggilan saja. Sebutan resminya adalah Sayyid, kalau perempuan disebut Sayyidah.

Istilah Habib (حبيب) dalam Bahasa Arab artinya adalah yang dicintai atau kekasih. Terkadang orang Arab menulisnya dengan "Habeeb" yang berarti yang tercinta atau yang dihormati. Dalam bentuk jamak biasa disebut Habaib.

Para Habaib ini umumnya memiliki penampilan yang khas. Selain berjenggot, mereka selalu mengenakan Imamah (sorban penutup kepala), jubah putih dan kain rida yang diletakkan di pundak. Terkadang mereka membawa tongkat dan di jari kelingking kanan mereka menempel cincin perak yang semuanya merupakan sunnah Nabi.

Menurut Dai lulusan Dual Arabiyyah Mesir, Ustaz DR Miftahur Rahman el-Banjari, istilah Habib terambil dari bahasa Arab yang berarti kekasih atau orang yang dikasihi. Habib merupakan gelar kehormatan bagi keturunan Nabi Muhammad SAW dari jalur Sayyidina Husein.

Di Indonesia, istilah Habib ini lebih populer ketimbang "Sayyid atau Syarif" meski keduanya sama-sama ditujukan untuk menyebut garis keturunan Rasulullah SAW (Ahlul Bait).

Di beberapa negara Timur Tengah seperti Arab Saudi, Mesir, Maroko, Yordania, Libia, Tunisia, anak keturunan Nabi Muhammad dari jalur Sayyidina Hasan, tidak dijuluki dengan Habib. Mereka lebih dikenal dengan julukan "Al-Hasani" untuk menegaskan bahwa mereka memiliki jalur nasab yang mulia. Kalau di Iran populer dengan sebutan Ahlu Bait.

Asal Mula Habib di Indonesia
Umumnya keturunan Nabi Muhammad SAW dari jalur Sayyidina Husein lebih senang menisbahkan keluarga mereka pada sebutan Alawiyyin atau Bani Alawiyyin. Keturunan Alawiyin inilah yang sering dipanggil dengan Habib.

Asal mula keturunan Nabi Muhammad SAW di Indonesia bermula dari kedatangan Bani Alawiyin dari Hadhramaut Yaman pada Abad ke-13. Menurut Musa Kazhim dalam "Sekapur Sirih Sejarah 'Alawiyin dan Perannya Dalam Dakwah Damai di Nusantara: Sebuah Kompilasi Bahan", para Habib Alawiyin keturunan Rasulullah SAW tersebut datang pada abad ke-14 M.

Pada periode tersebut, dakwah Islam berkembang sedemikian rupa sehingga tersebar di seluruh penjuru Nusantara, bahkan di Asia Tenggara. Perkembangan tersebut mencapai puncaknya pada abad ke-15 hingga abad ke-17 M.

Jika diulas ke belakang, kemunculan Bani Alawiyin ini bermula dari Hijrahnya Imam Ahmad bin Isa Al-Muhajir (generasi ke-8 keturunan Sayyidina Husein cucu Rasulullah SAW) dari Basrah Irak ke Hadhramaut. Ahmad bin Isa (wafat 345 H) dinamakan Al-Muhajir karena beliau meninggalkan Basrah pada masa pemerintahan Khalifah Abbassiyah di Baghdad Tahun 317 H (896 M).

Beliau Hijrah ke Hadhramaut untuk menghindari banyaknya fitnah di Irak pada masa itu. Ikut serta dalam perjalanannya adalah putranya bernama Ubaidillah (Abdullah). Ubaidillah memiliki tiga anak bernama Alwi, Jadid dan Ismail (Basri). Dari keturunan Alwi inilah lahir Bani Alawiyin yang kemudian dikenal dengan istilah Habib.

Menurut Musa Kazhim, berpuluh-puluh tahun setelah Imam Ahmad bin Isa wafat, para Sayyid keturunan beliau menyebarkan dakwah Islam dengan damai ke seluruh dunia. Kaum Alawiyin ini juga mendapat tempat di hati masyarakat Hadhramaut.

Para pencari ilmu datang dari berbagai penjuru dunia. Hingga akhirnya muncullah sosok Al-Faqih Muqaddam sebagai peletak dasar tasawuf kaum Alawiyin. Al-Faqih Muqaddam lahir pada Tahun 574 H (1176 M) di Tarim Hadhramaut dan wafat Tahun 653 H pada usia 79 tahun.

Beliau dikenal sebagai leluhur Alawiyyin di Asia Tenggara dan juga pendiri Tarekat Alawiyyin. Nasab Al-Faqih Muqaddam Muhammad bin Ali Ba'alawi ini bersambung ke Alwi bin Ubaidillah bin Imam Ahmad bin Isa Al-Muhajir hingga ke Nabi Muhammad SAW dari jalur Sayyidina Husein.

Seiring perjalanan waktu, anak keturunan mereka datang ke Indonesia pada Abad ke-13. Sekarang kita kenal bermarga Al-Attas, Al-Haddad, Assegaf, Al-Habsyi, Alaydrus, Al-Jufri, Syihab, Syahab dan masih banyak lainnya. Rata-rata para Habaib yang ada di Indonesia saat ini merupakan keturunan Nabi Muhammad ke-37 atau ke-38.

Informasi dari Rabithah Alawiyah, dari 100 lebih kabilah Alawiyin, kini hanya 68 marga keturunan Nabi yang tersisa. Mereka tersebar di berbagai daerah di Indonesia seperti Aceh, Jabodetabek, Surabaya, Palembang, Kalimantan dan daerah lainnya.

Panggilan Habib
Mantan Ketua Umum Rabithah Alawiyah Habib Zein bin Umar mengatakan, tidak semua Sayyid bisa dipanggil Habib. Sebaliknya, setiap Sayyid sudah pasti segaris keturunan Nabi.

Kalau di kalangan keturunan Sayyidina Hasan, dikenal dengan sebutan Syarif. Tetapi di kalangan keturunan Sayyidina Husein disebut Sayyid, kalau jamaah namanya Sa'adah. Seiring berkembangnya waktu, Para Sayyid ini dicintai oleh lingkungannya, dicintai oleh murid-muridnya, kemudian dipanggilah dengan sebutan Al-Habib atau Habib.

Habib itu artinya yang dicintai. Akhirnya gelar Sayyid-nya mulai hilang dan berganti dengan julukan Habib. Sementara di beberapa tempat, misal di Aceh masih dipanggil Said. Di Malaysia dipanggil Said.

Sebetulnya, Habib ini punya kedudukan istimewa. Artinya, dipanggil Habib itu orang yang benar dan dicintai. Kemudian, dia juga seorang ahli ilmu dan memiliki akhlak mulia.

Baca Juga: 5 Marga Keturunan Nabi Muhammad di Indonesia, Nomor 1 Paling Banyak
(rhs)
Komentar
Copyright © 2023 SINDOnews.com
read/ rendering in 0.2089 seconds (10.177#12.26)