Kisah Nabi Joshua Merebut Baitul Maqdis, Matahari Sempat Berhenti Beredar
Kamis, 12 Oktober 2023 - 15:47 WIB
loading...
A
A
A
Tokoh Sentral
Di sisi lain, Nabi Yusya' disebut sebagai tokoh sentral di Kitab Yosua, Alkitab Perjanjian Lama. Dalam keterangan lain, seperti yang tercantum di Kitab Keluaran (Exodus), Bilangan dan Kitab Yosua, ia disebut sebagai abdi dan murid dari Nabi Musa yang menjadi pemimpin Bani Israil menggantikan Nabi Musa.
Nabi Musa dianugerahi mukjizat besar ketika membawa kaumnya keluar dari negeri Firaun di Mesir dalam sebuah pelarian yang spektakuler. Kala itu, dibentangkanlah jalan kering yang membelah Laut Merah dengan izin-Nya.
Namun, selepas peristiwa itu, kaum Bani Israil ternyata masih terikat dengan hawa nafsu, keadaan yang nyaman dan kemewahan negeri Mesir yang dulu — sehingga mereka lalu menyembah patung sapi emas yang dibuat dari leburan barang-barang berharga yang sempat mereka bawa selama pelarian.
Lama waktu berselang, Bani Israil kembali menentang perintah nabinya sendiri untuk berperang dan memasuki Yerusalem, tanah yang dijanjikan kepada mereka. Mereka berdalih bahwa kota itu dikelilingi oleh benteng yang sangat tebal dan kokoh, serta dijaga oleh sosok bangsa berperawakan besar. Rasa takut, yang bersumber dari kecintaan akan dunia ini, membuat Bani Israil enggan untuk berjihad di Jalan Allah.
Baca juga: Shalahuddin Al Ayyubi Merebut Kota al-Quds dan Membebaskan Baitul Maqdis di Hari Jumat
Tertawan Kecintaan Hidup
Nabi Musa menyadari bahwa selama hati kaumnya masih tertawan pada kecintaan hidup di dunia, tidak akan mungkin bisa menduduki Yerusalem.
Hal serupa pernah disabdakan oleh Rasulullah SAW tatkala Beliau menerangkan mengapa Bani Israil tertunda memasuki Baitul Maqdis. Rasulullah bersabda, "Tidak akan ada seorang pun penyembah berhala yang bisa memasuki Baitul Maqdis (Yerusalem)."
Karena keengganan mereka untuk berjihad ini, Bani Israil terhukum dengan melewati hidup terkatung-katung di padang gurun selama 40 tahun lamanya. Rentang 40 tahun ini menjadi rentang masa yang cukup untuk melahirkan sebuah generasi baru Bani Israil.
Menjelang akhir hayatnya, Nabi Musa menyadari bahwa saat-saat yang ditunggu telah tiba bagi kaumnya untuk memasuki tanah yang dijanjikan, meskipun tanpa kehadiran dirinya. Melalui bimbingan Allah SWT, Nabi Musa pun mempersiapkan Yusya' bin Nun, sebagai pemimpin Bani Israil menggantikan dirinya.
Baca juga: Kisah Bani Israil Menuduh Nabi Musa Membunuh Nabi Harun
Ibnu Jarir mengutip Muhammad bin Ishaq, dalam Tarikhnya, menjelaskan kenabian itu diserahkan oleh Musa kepada Yusya’ pada akhir hayatnya. Kala itu, Musa menemui Yusya’ dan menanyakan kepadanya berbagai perintah dan larangan yang disampaikan Allah kepadanya (Musa).
Hingga akhirnya Yusya’ menjawab, ”Wahai Kalimullah (orang yang diajak berbicara langsung oleh Allah-ed), sesunguhnya aku tidak bertanya tentang apa yang diwahyukan Allah kepadamu sehingga engkau sendiri yang yang memberitahukannya kepadaku.”
Nabi Musa meninggal dunia sebelum berhasil membebaskan Baitul Maqdis. Oleh karena itu, beliau menunjuk Yusya’ bin Nun sebagai pemimpin Bani Israil untuk melanjutkan visinya menaklukkan Baitul Maqdis.
Kekuatan Gaib
Di sisi lain, Nabi Yusya' disebut sebagai tokoh sentral di Kitab Yosua, Alkitab Perjanjian Lama. Dalam keterangan lain, seperti yang tercantum di Kitab Keluaran (Exodus), Bilangan dan Kitab Yosua, ia disebut sebagai abdi dan murid dari Nabi Musa yang menjadi pemimpin Bani Israil menggantikan Nabi Musa.
Nabi Musa dianugerahi mukjizat besar ketika membawa kaumnya keluar dari negeri Firaun di Mesir dalam sebuah pelarian yang spektakuler. Kala itu, dibentangkanlah jalan kering yang membelah Laut Merah dengan izin-Nya.
Namun, selepas peristiwa itu, kaum Bani Israil ternyata masih terikat dengan hawa nafsu, keadaan yang nyaman dan kemewahan negeri Mesir yang dulu — sehingga mereka lalu menyembah patung sapi emas yang dibuat dari leburan barang-barang berharga yang sempat mereka bawa selama pelarian.
Lama waktu berselang, Bani Israil kembali menentang perintah nabinya sendiri untuk berperang dan memasuki Yerusalem, tanah yang dijanjikan kepada mereka. Mereka berdalih bahwa kota itu dikelilingi oleh benteng yang sangat tebal dan kokoh, serta dijaga oleh sosok bangsa berperawakan besar. Rasa takut, yang bersumber dari kecintaan akan dunia ini, membuat Bani Israil enggan untuk berjihad di Jalan Allah.
Baca juga: Shalahuddin Al Ayyubi Merebut Kota al-Quds dan Membebaskan Baitul Maqdis di Hari Jumat
Tertawan Kecintaan Hidup
Nabi Musa menyadari bahwa selama hati kaumnya masih tertawan pada kecintaan hidup di dunia, tidak akan mungkin bisa menduduki Yerusalem.
Hal serupa pernah disabdakan oleh Rasulullah SAW tatkala Beliau menerangkan mengapa Bani Israil tertunda memasuki Baitul Maqdis. Rasulullah bersabda, "Tidak akan ada seorang pun penyembah berhala yang bisa memasuki Baitul Maqdis (Yerusalem)."
Karena keengganan mereka untuk berjihad ini, Bani Israil terhukum dengan melewati hidup terkatung-katung di padang gurun selama 40 tahun lamanya. Rentang 40 tahun ini menjadi rentang masa yang cukup untuk melahirkan sebuah generasi baru Bani Israil.
Menjelang akhir hayatnya, Nabi Musa menyadari bahwa saat-saat yang ditunggu telah tiba bagi kaumnya untuk memasuki tanah yang dijanjikan, meskipun tanpa kehadiran dirinya. Melalui bimbingan Allah SWT, Nabi Musa pun mempersiapkan Yusya' bin Nun, sebagai pemimpin Bani Israil menggantikan dirinya.
Baca juga: Kisah Bani Israil Menuduh Nabi Musa Membunuh Nabi Harun
Ibnu Jarir mengutip Muhammad bin Ishaq, dalam Tarikhnya, menjelaskan kenabian itu diserahkan oleh Musa kepada Yusya’ pada akhir hayatnya. Kala itu, Musa menemui Yusya’ dan menanyakan kepadanya berbagai perintah dan larangan yang disampaikan Allah kepadanya (Musa).
Hingga akhirnya Yusya’ menjawab, ”Wahai Kalimullah (orang yang diajak berbicara langsung oleh Allah-ed), sesunguhnya aku tidak bertanya tentang apa yang diwahyukan Allah kepadamu sehingga engkau sendiri yang yang memberitahukannya kepadaku.”
Nabi Musa meninggal dunia sebelum berhasil membebaskan Baitul Maqdis. Oleh karena itu, beliau menunjuk Yusya’ bin Nun sebagai pemimpin Bani Israil untuk melanjutkan visinya menaklukkan Baitul Maqdis.
Kekuatan Gaib
Lihat Juga :