Catatan Sejarah: Omong Kosong Perdana Menteri Israel Levi Eshkol saat Perang Atrisi
Minggu, 15 Oktober 2023 - 06:51 WIB
loading...
A
A
A
Israel mengatakan bahwa Mesir telah memulai insiden itu dengan menembaki pasukannya yang ditempatkan di Terusan Suez dan bahwa pasukan Israel telah menembaki Terusan Suez untuk membungkam senjata-senjata Mesir.
Sebelumnya kota itu dihuni 260.000 orang, namun setelah terjadinya bombardemen besar-besaran oleh Israel pada bulan Oktober, sekitar 200.000 orang pergi. Sejak itu sekitar 40.000 orang telah kembali, membuat penduduk kota tinggal sekitar 100.000 orang. Banyak di antaranya yang pergi setelah penembakan Israel pada pertengahan 1968.
Langkah besar lain untuk memulai perang adalah keputusan Israel dalam bulan September 1968 untuk membangun Bar-Lev Line sepanjang terusan. Ini merupakan sebuah sistem posisi militer yang dibentengi dengan sangat kuat sepanjang 101 mil yang dimaksudkan untuk menahan serangan artileri Mesir melintasi terusan.
Akan tetapi di mata Mesir itu merupakan ketetapan hati Israel untuk mempertahankan Sinai dengan menempatkan pasukan Israel di Terusan Suez secara permanen.
Presiden Mesir Gamal Abdel Nasser berulang kali memperingatkan secara terbuka bahwa jika Israel meneruskan pendudukannya atas tanah Mesir dia akan menggunakan kekerasan untuk merebutnya kembali: "Prioritas pertama, prioritas mutlak dalam pertempuran ini adalah garis depan militer, sebab kita harus menyadari bahwa musuh tidak akan menarik diri kecuali jika kita memaksanya untuk mundur melalui pertempuran."
Nasser menerapkan kata-katanya dalam tindakan pada awal 1969 dengan melepaskan serangan-serangan artileri dan komando melawan kekuatan Israel di Sinai.
Baca juga: Paul Findley Sebut Daftar Omong Kosong Israel Dirikan Negara Yahudi di Bumi Palestina
Sebelum pertempuran berakhir, Israel menggunakan pesawat-pesawat perang F-4 buatan AS yang baru untuk melancarkan serangan-serangan hebat di dalam wilayah Mesir, yang menimbulkan kerusakan parah di kalangan penduduk sipil dan menyerang daerah-daerah dekat Kairo.
Uni Soviet menanggapi dengan mengirim pilot-pilot dan pesawat-pesawat Soviet untuk melindungi langit Mesir.
Sekali lagi, Timur Tengah mengancam akan melibatkan kedua adikuasa itu dalam suatu konfrontasi langsung. Masuknya Soviet mendorong Amerika Serikat untuk mengusahakan gencatan senjata, yang berhasil dicapai pada Agustus 1970.
Sebelumnya kota itu dihuni 260.000 orang, namun setelah terjadinya bombardemen besar-besaran oleh Israel pada bulan Oktober, sekitar 200.000 orang pergi. Sejak itu sekitar 40.000 orang telah kembali, membuat penduduk kota tinggal sekitar 100.000 orang. Banyak di antaranya yang pergi setelah penembakan Israel pada pertengahan 1968.
Langkah besar lain untuk memulai perang adalah keputusan Israel dalam bulan September 1968 untuk membangun Bar-Lev Line sepanjang terusan. Ini merupakan sebuah sistem posisi militer yang dibentengi dengan sangat kuat sepanjang 101 mil yang dimaksudkan untuk menahan serangan artileri Mesir melintasi terusan.
Akan tetapi di mata Mesir itu merupakan ketetapan hati Israel untuk mempertahankan Sinai dengan menempatkan pasukan Israel di Terusan Suez secara permanen.
Presiden Mesir Gamal Abdel Nasser berulang kali memperingatkan secara terbuka bahwa jika Israel meneruskan pendudukannya atas tanah Mesir dia akan menggunakan kekerasan untuk merebutnya kembali: "Prioritas pertama, prioritas mutlak dalam pertempuran ini adalah garis depan militer, sebab kita harus menyadari bahwa musuh tidak akan menarik diri kecuali jika kita memaksanya untuk mundur melalui pertempuran."
Nasser menerapkan kata-katanya dalam tindakan pada awal 1969 dengan melepaskan serangan-serangan artileri dan komando melawan kekuatan Israel di Sinai.
Baca juga: Paul Findley Sebut Daftar Omong Kosong Israel Dirikan Negara Yahudi di Bumi Palestina
Sebelum pertempuran berakhir, Israel menggunakan pesawat-pesawat perang F-4 buatan AS yang baru untuk melancarkan serangan-serangan hebat di dalam wilayah Mesir, yang menimbulkan kerusakan parah di kalangan penduduk sipil dan menyerang daerah-daerah dekat Kairo.
Uni Soviet menanggapi dengan mengirim pilot-pilot dan pesawat-pesawat Soviet untuk melindungi langit Mesir.
Sekali lagi, Timur Tengah mengancam akan melibatkan kedua adikuasa itu dalam suatu konfrontasi langsung. Masuknya Soviet mendorong Amerika Serikat untuk mengusahakan gencatan senjata, yang berhasil dicapai pada Agustus 1970.
(mhy)
Lihat Juga :