Kisah Sufi: Sifat Murid Bernama Ibrahim Khawwas
Senin, 28 Oktober 2024 - 14:56 WIB
loading...
Biarkan apa yang dilakukan bagimu. Kerjakan sendiri apa yang harus kau kerjakan bagi dirimu. Ilustrasi: Ist
A
A
A
Kisah sufi berikut dinukil dari "Tales of The Dervishes" karya Idries Shah yang telah diterjemahkan Ahmad Bahar menjadi "Harta Karun dari Timur Tengah - Kisah Bijak Para Sufi".
Dikisahkan bahwa Ibrahim Khawwas, ketika masih muda, ingin menimba ilmu dari seorang guru. Ia pun mencari seorang bijaksana, dan mohon agar bisa menjadi muridnya.
Sang Guru berkata, "Kau belum siap." Karena pemuda itu tetap bersikeras, guru itu berkata, "Baiklah, kau akan kuajari sesuatu. Aku akan pergi berziarah ke Makkah . Ikutlah bersamaku."
Murid itu sangat girang. "Karena kita menempuh perjalanan berdua," kata Sang Guru, "salah seorang harus memimpin, dan yang satunya mengikuti. Pilih peranmu."
"Saya ikut saja, Tuan memimpin," kata murid itu.
"Aku akan memimpin, asal kau tahu bagaimana menjadi pengikut," kata Sang Guru.
Baca juga: Kisah Sufi Amir Sulan: Putra Raja Bernama Dhat
Perjalanan pun dimulai. Ketika mereka beristirahat pada suatu malam di padang pasir Hejaz, hujan turun. Sang Guru bangun dan memegang kain penutup, melindung muridnya agar tidak basah.
"Tetapi seharusnya sayalah yang melakukannya bagi Tuan," kata pemuda itu.
"Kuperintahkan agar kau memperbolehkanku melindungimu," sahut Sang Guru.
Ketika hari sudah siang, pemuda itu berkata, "Nah, ini hari baru. Perkenankan saya menjadi pemimpin, dan tuan mengikuti." Guru itu setuju.
"Saya akan memerintahkan Tuan agar duduk saja di sini sementara saya kumpulkan belukar!"balas pemuda itu.
"Kau tak boleh melakukan itu," timpal gurunya lagi, "sebab hal itu tidak sesuai dengan syarat menjadi seorang murid, dengan contoh nyata."
Dikisahkan bahwa Ibrahim Khawwas, ketika masih muda, ingin menimba ilmu dari seorang guru. Ia pun mencari seorang bijaksana, dan mohon agar bisa menjadi muridnya.
Sang Guru berkata, "Kau belum siap." Karena pemuda itu tetap bersikeras, guru itu berkata, "Baiklah, kau akan kuajari sesuatu. Aku akan pergi berziarah ke Makkah . Ikutlah bersamaku."
Murid itu sangat girang. "Karena kita menempuh perjalanan berdua," kata Sang Guru, "salah seorang harus memimpin, dan yang satunya mengikuti. Pilih peranmu."
"Saya ikut saja, Tuan memimpin," kata murid itu.
"Aku akan memimpin, asal kau tahu bagaimana menjadi pengikut," kata Sang Guru.
Baca juga: Kisah Sufi Amir Sulan: Putra Raja Bernama Dhat
Perjalanan pun dimulai. Ketika mereka beristirahat pada suatu malam di padang pasir Hejaz, hujan turun. Sang Guru bangun dan memegang kain penutup, melindung muridnya agar tidak basah.
"Tetapi seharusnya sayalah yang melakukannya bagi Tuan," kata pemuda itu.
"Kuperintahkan agar kau memperbolehkanku melindungimu," sahut Sang Guru.
Ketika hari sudah siang, pemuda itu berkata, "Nah, ini hari baru. Perkenankan saya menjadi pemimpin, dan tuan mengikuti." Guru itu setuju.
"Saya akan memerintahkan Tuan agar duduk saja di sini sementara saya kumpulkan belukar!"balas pemuda itu.
"Kau tak boleh melakukan itu," timpal gurunya lagi, "sebab hal itu tidak sesuai dengan syarat menjadi seorang murid, dengan contoh nyata."
Lihat Juga :