Catatan Perang Arab-Israel 1973, Anwar Sadat: Saya Menginginkan Perdamaian
Senin, 16 Oktober 2023 - 14:40 WIB
loading...
A
A
A
Pada 1972 Sadat mengambil langkah dramatis dengan mengusir para penasihat Soviet dari Mesir. Meskipun Uni Soviet adalah pendukung utama Mesir, Sadat berharap dapat memperoleh bantuan Washington untuk mencapai perdamaian dengan Israel. Namun Kissinger tidak dapat memahami keseriusan Sadat dan menganggap isyaratnya sebagai tanda ketidaksabaran.
Pada awal 1973, Sadat memprakarsai pembicaraan rahasia antara Kissinger dengan seorang pejabat tinggi Mesir untuk mendapatkan solusi damai. Namun Kissinger masih meragukan kemampuan-kemampuan Sadat dan tidak melakukan gerakan apa pun hingga berlangsungnya pemilihan di Israel, yang dijadwalkan berlangsung pada 30 Oktober.
Akibat adanya jalan buntu yang panjang ini maka dikenal periode tidak-perang/tidak-damai, seperti yang diinginkan Israel. Sebagaimana dikemukakan Kissinger, salah satu tujuan utama Perdana Menteri Golda Meir adalah "mengulur waktu, sebab semakin lama tidak terjadi perubahan dalam status quo, semakin mantap pemilikan Israel atas wilayah-wilayah pendudukan."
Kissinger cukup senang mendukung Israel untuk mencapai tujuannya ini sebab dia percaya bahwa suatu jalan buntu akan menimbulkan tekanan pada negara-negara Arab agar membuat kelonggaran-kelonggaran.
Analis William Quandt, yang bekerja sebagai ahli Timur Tengah dalam pemerintahan Carter di Dewan Keamanan Nasional, menyimpulkan: "Sepanjang tahun 1972, kebijaksanaan Timur Tengah Amerika Serikat memberikan lebih sedikit dari sekadar dukungan terbuka untuk Israel... Diperlukan sebuah Perang Oktober [1973] untuk mengubah kebijaksanaan Amerika Serikat."
Baca juga: Catatan Sejarah: Omong Kosong Perdana Menteri Israel Levi Eshkol saat Perang Atrisi
Pada awal 1973, Sadat memprakarsai pembicaraan rahasia antara Kissinger dengan seorang pejabat tinggi Mesir untuk mendapatkan solusi damai. Namun Kissinger masih meragukan kemampuan-kemampuan Sadat dan tidak melakukan gerakan apa pun hingga berlangsungnya pemilihan di Israel, yang dijadwalkan berlangsung pada 30 Oktober.
Akibat adanya jalan buntu yang panjang ini maka dikenal periode tidak-perang/tidak-damai, seperti yang diinginkan Israel. Sebagaimana dikemukakan Kissinger, salah satu tujuan utama Perdana Menteri Golda Meir adalah "mengulur waktu, sebab semakin lama tidak terjadi perubahan dalam status quo, semakin mantap pemilikan Israel atas wilayah-wilayah pendudukan."
Kissinger cukup senang mendukung Israel untuk mencapai tujuannya ini sebab dia percaya bahwa suatu jalan buntu akan menimbulkan tekanan pada negara-negara Arab agar membuat kelonggaran-kelonggaran.
Analis William Quandt, yang bekerja sebagai ahli Timur Tengah dalam pemerintahan Carter di Dewan Keamanan Nasional, menyimpulkan: "Sepanjang tahun 1972, kebijaksanaan Timur Tengah Amerika Serikat memberikan lebih sedikit dari sekadar dukungan terbuka untuk Israel... Diperlukan sebuah Perang Oktober [1973] untuk mengubah kebijaksanaan Amerika Serikat."
Baca juga: Catatan Sejarah: Omong Kosong Perdana Menteri Israel Levi Eshkol saat Perang Atrisi
(mhy)
Lihat Juga :