Gerakan Anti-Yahudi di Seluruh Dunia Ikut Dorong Terbentuknya Negara Israel
Selasa, 17 Oktober 2023 - 11:16 WIB
loading...
Bapak pendiri Zionisme modern, Theodore Hertzl. Foto/Ilusrasi: Ist
A
A
A
Salah satu pendorong berdirinya negara Israel sebagai negara Yahudi adalah gerakan anti-semit (anti Yahudi) di seluruh dunia. Gerakan ini melahirkan reaksi balik berupa gerakan Zionisme sedunia . Menurut bapak pendiri Zionisme modern, Theodore Hertzl , satu-satunya obat mujarab untuk menanggulangi anti-semitisme adalah dengan menciptakan suatu tanah air bagi bangsa Yahudi.
Antisemitisme adalah kecurigaan, kebencian terhadap, atau diskriminasi terhadap orang Yahudi karena alasan kewarisan Yahudi mereka. Antisemitisme paling kondang adalah pogrom atau penghancuran yang mendahului Perang Salib Pertama di tahun 1096, dengan pengusiran Inggris pada tahun 1290, dengan pembantaian terhadap orang Yahudi Spanyol di 1391, penganiayaan inkuisisi Spanyol, pengusiran dari Spanyol pada 1492, pengusiran dari Portugal pada tahun 1497, berbagai pogrom Rusia, sampai akhirnya oleh Hitler di Jerman dan kebijakan resmi anti-Yahudi Soviet.
Azyumardi Azra dalam bukunya berjudul "Konflik Baru Antar Peradaban, Globalisasi, Radikalisme, dan Pluralitas" (PT RajaGrafindi Persada, 2002) menyebut kekuatan luar biasa yang menjadi pendorong kemunculan negara Israel di kawasan Palestina adalah ideologi zionisme.
Baca juga: Pewaris Pendiri Zionis: Israel dan Perusahaan Zionis Dilahirkan dalam Dosa
Ideologi zionisme secara singkat dapat didefenisikan sebagai kepercayaan tentang kembalinya orang-orang dan bangsa Yahudi dari diaspora mereka selama berabad-abad, sehingga dapat menyelamatkan mereka dari kekuasaan orang-orang non-Yahudi (gentiles), bahaya asimilasi dengan orang-orang gentiles, ancaman anti Semitisme (anti Yahudi) dari masyarakat lain.
"Oleh karena itu, Zionisme bertujuan untuk mewujudkan sebuah negara – bangsa yang sepenuhnya Yahudi dalam etos dan karakter setelah berada di diaspora selama lebih dari 2000 tahun, dan dengan demikian, mereka mampu survive di muka bumi," tulis Azyumardi Azra.
Pencarian sebuah wilayah negara-bangsa Yahudi, yang biasa mereka sebut sebagai “promised land” atau tanah air yang dijanjikan merupakan program pokok Zionisme sejak ideologi ini pertama kali dirumuskan bapak pendiri Zionisme modern, Theodore Hertzl, pada 1897.
Menurut Azyumardi Azra, pencarian dan penetapan “tanah air yang dijanjikan” itu pun melalui proses yang rumit; mulai dari kawasan tertentu di Amerika Selatan, Afrika, sampai akhirnya kemudian bangsa Yahudi dan gerakan Zionisme internasional menetapkan Palestina sebagai “promised land”.
Berbarengan dengan bangkitnya ideologi Zionisme, kebijakan-kebijakan Tsar Rusia yang anti-Yahudi mengakibatkan terjadinya gelombang migrasi (pogrom) orang-orang Yahudi sepanjang 1882-1918 ke Palestina, Eropa Timur dan Amerika Serikat.
Baca juga: Pengertian Kata Zionis, Tak Sekadar Bukit yang Suci Yerusalem
Antisemitisme adalah kecurigaan, kebencian terhadap, atau diskriminasi terhadap orang Yahudi karena alasan kewarisan Yahudi mereka. Antisemitisme paling kondang adalah pogrom atau penghancuran yang mendahului Perang Salib Pertama di tahun 1096, dengan pengusiran Inggris pada tahun 1290, dengan pembantaian terhadap orang Yahudi Spanyol di 1391, penganiayaan inkuisisi Spanyol, pengusiran dari Spanyol pada 1492, pengusiran dari Portugal pada tahun 1497, berbagai pogrom Rusia, sampai akhirnya oleh Hitler di Jerman dan kebijakan resmi anti-Yahudi Soviet.
Azyumardi Azra dalam bukunya berjudul "Konflik Baru Antar Peradaban, Globalisasi, Radikalisme, dan Pluralitas" (PT RajaGrafindi Persada, 2002) menyebut kekuatan luar biasa yang menjadi pendorong kemunculan negara Israel di kawasan Palestina adalah ideologi zionisme.
Baca juga: Pewaris Pendiri Zionis: Israel dan Perusahaan Zionis Dilahirkan dalam Dosa
Ideologi zionisme secara singkat dapat didefenisikan sebagai kepercayaan tentang kembalinya orang-orang dan bangsa Yahudi dari diaspora mereka selama berabad-abad, sehingga dapat menyelamatkan mereka dari kekuasaan orang-orang non-Yahudi (gentiles), bahaya asimilasi dengan orang-orang gentiles, ancaman anti Semitisme (anti Yahudi) dari masyarakat lain.
"Oleh karena itu, Zionisme bertujuan untuk mewujudkan sebuah negara – bangsa yang sepenuhnya Yahudi dalam etos dan karakter setelah berada di diaspora selama lebih dari 2000 tahun, dan dengan demikian, mereka mampu survive di muka bumi," tulis Azyumardi Azra.
Pencarian sebuah wilayah negara-bangsa Yahudi, yang biasa mereka sebut sebagai “promised land” atau tanah air yang dijanjikan merupakan program pokok Zionisme sejak ideologi ini pertama kali dirumuskan bapak pendiri Zionisme modern, Theodore Hertzl, pada 1897.
Menurut Azyumardi Azra, pencarian dan penetapan “tanah air yang dijanjikan” itu pun melalui proses yang rumit; mulai dari kawasan tertentu di Amerika Selatan, Afrika, sampai akhirnya kemudian bangsa Yahudi dan gerakan Zionisme internasional menetapkan Palestina sebagai “promised land”.
Berbarengan dengan bangkitnya ideologi Zionisme, kebijakan-kebijakan Tsar Rusia yang anti-Yahudi mengakibatkan terjadinya gelombang migrasi (pogrom) orang-orang Yahudi sepanjang 1882-1918 ke Palestina, Eropa Timur dan Amerika Serikat.
Baca juga: Pengertian Kata Zionis, Tak Sekadar Bukit yang Suci Yerusalem
Lihat Juga :