Sejarah Zionis Lahir dari Modernitas yang Berakar pada Nafsu Syahwat
Rabu, 25 Oktober 2023 - 20:10 WIB
loading...
A
A
A
Pertanda kuatnya pengaruh Islam –yang bukan mu'tazilah apalagi salafisme, melainkan dengan tassawuf— atas kehidupan dunia. Pancaran dengan tajjaliyyat membahana. Ma'rifatullah menjadi bahasan hingga pelosok Eropa. Hingga John Wolfgang Goethe, pujangga Jerman, pun terkesima. Dan dia menghembuskan nafas akhir di dunia sebagai muslim.
Masa Goethe itu pula Islam menjadi mercusuar dunia. Sultan Sulaiman al Qanuni, begitu menjadi idola. Sekaligus dibenci kaum Eropa. Karena kedigdayaan Islam, dengan pengajaran tassawuf yang menembus batas-batas alam. Itulah buah pancaran bersifat Laduni. Bukan pancaran produksi akal manusia.
Tapi rennaisance memiliki banyak pengikut. Filsafat makin dikagumi. Soal kekuasaan pun diteorikan ulang. Karena filsafat –inilah rennsaince—meletakkan "qudrah dan iradah" berada pada manusia. Bukan pada Tuhan. Karena akal, dianggap sebagai jalan mengungkap Kebenaran. Maka, siapa yang berkuasa, juga harus dikonsepsi dan diteori-kan. Lahirlah filosof penteori seperti Jean Bodin, John Locke, Hobbes hingga Rosseau. Mereka menteorikan, bahwa kekuasaan bukanlah kehendak Tuhan. Melainkan kehendak manusia.
Ini dimulai dari teori cogito ergo sum-nya Descartes. Yang memulai era modernitas. Cartesius resmi mengeliminasi Kebenaran ala Wahyu. Filsafatnya berbeda dengan Aquinas, yang masih mengakui tweez warden theorie (kebenaran dua belah pedang). Aquinas mengutip Al-Farabi, tentang teori emanasi, kebenaran ganda. Kebenaran ala Wahyu dan Kebenaran ala akal. Descartes mengeliminasinya. Kebenaran, katanya, hanya bisa sahih jika merujuk pada rasionalitas semata. Tak lagi merujuk kitab suci.
Muncul lagi teori baru dari Immanuel Kant, Ration scripta tentang empirisme. Kebenaran, katanya, hanya sahih jika telah diuji dalam sebuah hasil pengalaman. Itulah yang melahirkan penelitian, yang kini menjadi pakem kaum rasionalitas dalam menentukan kebenaran.
Cartesius dan Kantian ini begitu mempengaruhi Eropa. Hingga Hobbes pun menteorikan tentang kekuasaan. Siapa yang berhak menjadi raja, adalah berdasarkan kehendak manusia. Karena Tuhan didudukkan sebagai pembuat jam. Kala jam selesai dibuat, maka jam berjalan dengan sendirinya. Dari Hobbes, muncul juga Jean Bodin, yang menteorikan ulang tentang republik, yang berbeda dengan apa yang diutarakan Cicero dan Plato.
Puncaknya berada pada Jean Jacques Rosseau. Dia berteori, kekuasaan itu murni kehendak rakyat. Karena manusia yang menentukan, siapa yang layak menjadi penguasa. Dari "le contract sociale", lahirlah konstitusi. Hukum ala manusia. Inilah eliminasi atas kitab suci.
Modernitas Melahirkan Dinamika Panjang di Eropa
Gejolak modernitas, melahirkan dinamika panjang di Eropa. Yahudi mulai melirik. Karena di tengah gempuran pertarungan antara dogma dan filsafat, kaum Yahudi ternyata setia sebagai pebisnis. Mereka menguasai lini penggandaan uang. Dari sudut pelabuhan Venezia, Italia, mereka memulai dengan bisnis Banco, cikal bakal bank. Banco inilah pebisnis penitipan uang Dinarius (emas) dan Dracham (perak). Lalu memberikan pinjaman.
Mereka tak sibuk berfilsafat atau mematuhi dogma. Karena cita-cita tentang "tanah yang dijanjikan" tadi. Banco pun menggeliat. Dari nasabah hanya orang per orang, kemudian mereka memiliki nasabah seorang Raja.
Dan itu dimulai kala Revolusi Inggris meledak, 1668. Kerajaan Inggris berhasil lepas dari kekuasaan imperium Gereja Roma. Karena buah perang aqidah antara pengikut Gereja Roma, yang disebut Katolik, melawan pengikut Marthin Luthern dan John Calvin, yang sempat divonis sebagai bid'ah. Karena kedua tokoh Nasrani itu memulai tentang pembaharuan dalam tubuh Nasrani. Dan "pembaharuan" itu bergandengan dengan pencerahan ala rennaisance.
Maka mereka pun bertemu. Revolusi Inggris berhasil menyingkirkan pengikut Gereja Roma. Maka Inggris pun dikuasai kaum Protestan. Puncaknya, Raja William of Orange, Raja Inggris, didapuk menjadi Raja. Tapi kemudian diberi pinjaman modal oleh kaum bankir, para penguasa Yahudi yang bersatu dalam banco tadi. Mereka memberikan pinjaman pada sang Raja sebesar 25 juta Poundsterling, kala itu masih dalam emas. Tapi dengan utang berbunga. Itulah "utang nasional" pertama di dunia. Itulah catatan pertama, kaum Yahudi berhasil mengkooptasi sebuah kerajaan.
Karena utang itu melahirkan kesepakatan, "Kalian boleh jadi raja, tapi kami yang mengatur keuangannya," kata sang banco. Inggris pun beralih kendali. Dulu di bawah kekuasaan Gereja Roma. Tapi pasca Revolusi, beralih di bawah kekuasaan Banco.
Kekuasaan Yahudi Makin Menguat
Satu abad kemudian, kekuasaan Yahudi makin menguat. Selepas mengendalikan Inggris dan Belanda, mereka mulai merebut kerajaan terkuat di Eropa: Perancis. Maka meluncurlah Revolusi Perancis. Polanya serupa. Kaum modernitas –buah dari rennaisance—menyatu dengan ordo banco. Inilah ordo Bankir, yang dikomandani kaum Yahudi tadi. Atas nama pembaharuan, mereka melancarkan revolusi di Paris. Robbispierre, memimpin revolusi menggunakan teori Rosseau.
Bahwa kekuasaan haruslah ditangan manusia, bukan Tuhan. Maka liberte, fraternite, egalite pun menjadi semboyan. Liberte (merdeka) dari apa? Dari kekuasaan Tuhan. Fraternite (persaudaraan) ialah sesama kaum modernitas. Musuhnya adalah pengikut Gereja Roma. Egalite (keadilan), tentang kesetaraan antar sesama manusia, tak ada lagi diskriminasi antara agamawan dan bangsawan yang kebal hukum. Ini menjadi bahasan utama.
Paris pun menggelora. Kaum agamawan dan bangsawan di kudeta. Disitulah menggema modern state kali pertama. Setelah dikudeta, maka lahirkan constutitio sebagai buah dari manusia yang berhak membuat hukum. Hukum rasio. Hukum ala manusia. Kitab suci di eliminasi.
Masa Goethe itu pula Islam menjadi mercusuar dunia. Sultan Sulaiman al Qanuni, begitu menjadi idola. Sekaligus dibenci kaum Eropa. Karena kedigdayaan Islam, dengan pengajaran tassawuf yang menembus batas-batas alam. Itulah buah pancaran bersifat Laduni. Bukan pancaran produksi akal manusia.
Tapi rennaisance memiliki banyak pengikut. Filsafat makin dikagumi. Soal kekuasaan pun diteorikan ulang. Karena filsafat –inilah rennsaince—meletakkan "qudrah dan iradah" berada pada manusia. Bukan pada Tuhan. Karena akal, dianggap sebagai jalan mengungkap Kebenaran. Maka, siapa yang berkuasa, juga harus dikonsepsi dan diteori-kan. Lahirlah filosof penteori seperti Jean Bodin, John Locke, Hobbes hingga Rosseau. Mereka menteorikan, bahwa kekuasaan bukanlah kehendak Tuhan. Melainkan kehendak manusia.
Ini dimulai dari teori cogito ergo sum-nya Descartes. Yang memulai era modernitas. Cartesius resmi mengeliminasi Kebenaran ala Wahyu. Filsafatnya berbeda dengan Aquinas, yang masih mengakui tweez warden theorie (kebenaran dua belah pedang). Aquinas mengutip Al-Farabi, tentang teori emanasi, kebenaran ganda. Kebenaran ala Wahyu dan Kebenaran ala akal. Descartes mengeliminasinya. Kebenaran, katanya, hanya bisa sahih jika merujuk pada rasionalitas semata. Tak lagi merujuk kitab suci.
Muncul lagi teori baru dari Immanuel Kant, Ration scripta tentang empirisme. Kebenaran, katanya, hanya sahih jika telah diuji dalam sebuah hasil pengalaman. Itulah yang melahirkan penelitian, yang kini menjadi pakem kaum rasionalitas dalam menentukan kebenaran.
Cartesius dan Kantian ini begitu mempengaruhi Eropa. Hingga Hobbes pun menteorikan tentang kekuasaan. Siapa yang berhak menjadi raja, adalah berdasarkan kehendak manusia. Karena Tuhan didudukkan sebagai pembuat jam. Kala jam selesai dibuat, maka jam berjalan dengan sendirinya. Dari Hobbes, muncul juga Jean Bodin, yang menteorikan ulang tentang republik, yang berbeda dengan apa yang diutarakan Cicero dan Plato.
Puncaknya berada pada Jean Jacques Rosseau. Dia berteori, kekuasaan itu murni kehendak rakyat. Karena manusia yang menentukan, siapa yang layak menjadi penguasa. Dari "le contract sociale", lahirlah konstitusi. Hukum ala manusia. Inilah eliminasi atas kitab suci.
Modernitas Melahirkan Dinamika Panjang di Eropa
Gejolak modernitas, melahirkan dinamika panjang di Eropa. Yahudi mulai melirik. Karena di tengah gempuran pertarungan antara dogma dan filsafat, kaum Yahudi ternyata setia sebagai pebisnis. Mereka menguasai lini penggandaan uang. Dari sudut pelabuhan Venezia, Italia, mereka memulai dengan bisnis Banco, cikal bakal bank. Banco inilah pebisnis penitipan uang Dinarius (emas) dan Dracham (perak). Lalu memberikan pinjaman.
Mereka tak sibuk berfilsafat atau mematuhi dogma. Karena cita-cita tentang "tanah yang dijanjikan" tadi. Banco pun menggeliat. Dari nasabah hanya orang per orang, kemudian mereka memiliki nasabah seorang Raja.
Dan itu dimulai kala Revolusi Inggris meledak, 1668. Kerajaan Inggris berhasil lepas dari kekuasaan imperium Gereja Roma. Karena buah perang aqidah antara pengikut Gereja Roma, yang disebut Katolik, melawan pengikut Marthin Luthern dan John Calvin, yang sempat divonis sebagai bid'ah. Karena kedua tokoh Nasrani itu memulai tentang pembaharuan dalam tubuh Nasrani. Dan "pembaharuan" itu bergandengan dengan pencerahan ala rennaisance.
Maka mereka pun bertemu. Revolusi Inggris berhasil menyingkirkan pengikut Gereja Roma. Maka Inggris pun dikuasai kaum Protestan. Puncaknya, Raja William of Orange, Raja Inggris, didapuk menjadi Raja. Tapi kemudian diberi pinjaman modal oleh kaum bankir, para penguasa Yahudi yang bersatu dalam banco tadi. Mereka memberikan pinjaman pada sang Raja sebesar 25 juta Poundsterling, kala itu masih dalam emas. Tapi dengan utang berbunga. Itulah "utang nasional" pertama di dunia. Itulah catatan pertama, kaum Yahudi berhasil mengkooptasi sebuah kerajaan.
Karena utang itu melahirkan kesepakatan, "Kalian boleh jadi raja, tapi kami yang mengatur keuangannya," kata sang banco. Inggris pun beralih kendali. Dulu di bawah kekuasaan Gereja Roma. Tapi pasca Revolusi, beralih di bawah kekuasaan Banco.
Kekuasaan Yahudi Makin Menguat
Satu abad kemudian, kekuasaan Yahudi makin menguat. Selepas mengendalikan Inggris dan Belanda, mereka mulai merebut kerajaan terkuat di Eropa: Perancis. Maka meluncurlah Revolusi Perancis. Polanya serupa. Kaum modernitas –buah dari rennaisance—menyatu dengan ordo banco. Inilah ordo Bankir, yang dikomandani kaum Yahudi tadi. Atas nama pembaharuan, mereka melancarkan revolusi di Paris. Robbispierre, memimpin revolusi menggunakan teori Rosseau.
Bahwa kekuasaan haruslah ditangan manusia, bukan Tuhan. Maka liberte, fraternite, egalite pun menjadi semboyan. Liberte (merdeka) dari apa? Dari kekuasaan Tuhan. Fraternite (persaudaraan) ialah sesama kaum modernitas. Musuhnya adalah pengikut Gereja Roma. Egalite (keadilan), tentang kesetaraan antar sesama manusia, tak ada lagi diskriminasi antara agamawan dan bangsawan yang kebal hukum. Ini menjadi bahasan utama.
Paris pun menggelora. Kaum agamawan dan bangsawan di kudeta. Disitulah menggema modern state kali pertama. Setelah dikudeta, maka lahirkan constutitio sebagai buah dari manusia yang berhak membuat hukum. Hukum rasio. Hukum ala manusia. Kitab suci di eliminasi.
Lihat Juga :