Kisah Israel Melawan PBB dan Menang terkait Status Yerusalem
Senin, 30 Oktober 2023 - 05:15 WIB
loading...
A
A
A
Ikrar ini ditegaskan kembali ketika Israel akhirnya diterima PBB pada 11 Mei 1949, setelah tiga kali mengajukan permintaan untuk menjadi anggota. Permintaan-permintaan sebelumnya tidak dikabulkan sebagian karena adanya kecurigaan internasional mengenai maksud-maksud Israel atas Yerusalem.
Baca juga: Dewan HAM PBB Dukung Embargo Senjata Israel
Menurut Paul Findley, gerak cepat Israel untuk mengklaim Yerusalem sebagai miliknya bertentangan dengan pendapat masyarakat dunia. Pada 5 Desember 1949, pemimpin Israel David Ben-Gurion menyatakan: "Jerusalem adalah jantung dari jantungnya Israel... Kita tidak membayangkan Perserikatan Bangsa-Bangsa akan berusaha memisahkan Yerusalem dari Israel, atau mencurigai kedaulatan Israel atas ibukota abadinya itu."
Sebagai reaksi, Majelis Umum PBB empat hari kemudian menegaskan kembali penetapan rencana pembagian yang menetapkan seluruh kota Yerusalem sebagai corpus separatum, dengan menolak klaim Israel. Namun Israel menanggapi dengan berani. Ia mengabaikan badan dunia itu dan pada 11 Desember secara resmi menyatakan bahwa Yerusalem telah menjadi ibukota Israel sejak hari pertama Israel berdiri.
Baca juga: PBB Minta Opini Mahkamah Internasional Terkait Pendudukan Israel
Pada 16 Desember, Ben-Gurion menantang masyarakat dunia dengan memindahkan kantor perdana menteri ke Yerusalem. Dia menyatakan awal tahun baru 1950 sebagai hari perpindahan semua kantor pemerintah ke Yerusalem kecuali kementerian luar negeri dan kementerian pertahanan serta markas besar polisi nasional.
Pemindahan kantor-kantor pemerintah Israel ke Yerusalem tetap tak terbendung oleh tuntutan Dewan Perwalian PBB pada 20 Desember agar Israel memindahkan kantor-kantor itu dari Yerusalem karena tidak sesuai dengan janji-janjinya pada PBB. Pada 31 Desember, Israel secara resmi memberitahu dewan itu bahwa ia tidak akan memindahkan pemerintahan dari Yerusalem.
Tentangan Israel terhadap PBB terbukti berhasil. Sejak Desember 1949 dan seterusnya, Israel telah bertindak seakan-akan ibukotanya yang sah dan diakui adalah Yerusalem.
Baca juga: Jejak Israel: Selalu Melecehkan Resolusi PBB 242
Baca juga: Dewan HAM PBB Dukung Embargo Senjata Israel
Menurut Paul Findley, gerak cepat Israel untuk mengklaim Yerusalem sebagai miliknya bertentangan dengan pendapat masyarakat dunia. Pada 5 Desember 1949, pemimpin Israel David Ben-Gurion menyatakan: "Jerusalem adalah jantung dari jantungnya Israel... Kita tidak membayangkan Perserikatan Bangsa-Bangsa akan berusaha memisahkan Yerusalem dari Israel, atau mencurigai kedaulatan Israel atas ibukota abadinya itu."
Sebagai reaksi, Majelis Umum PBB empat hari kemudian menegaskan kembali penetapan rencana pembagian yang menetapkan seluruh kota Yerusalem sebagai corpus separatum, dengan menolak klaim Israel. Namun Israel menanggapi dengan berani. Ia mengabaikan badan dunia itu dan pada 11 Desember secara resmi menyatakan bahwa Yerusalem telah menjadi ibukota Israel sejak hari pertama Israel berdiri.
Baca juga: PBB Minta Opini Mahkamah Internasional Terkait Pendudukan Israel
Pada 16 Desember, Ben-Gurion menantang masyarakat dunia dengan memindahkan kantor perdana menteri ke Yerusalem. Dia menyatakan awal tahun baru 1950 sebagai hari perpindahan semua kantor pemerintah ke Yerusalem kecuali kementerian luar negeri dan kementerian pertahanan serta markas besar polisi nasional.
Pemindahan kantor-kantor pemerintah Israel ke Yerusalem tetap tak terbendung oleh tuntutan Dewan Perwalian PBB pada 20 Desember agar Israel memindahkan kantor-kantor itu dari Yerusalem karena tidak sesuai dengan janji-janjinya pada PBB. Pada 31 Desember, Israel secara resmi memberitahu dewan itu bahwa ia tidak akan memindahkan pemerintahan dari Yerusalem.
Tentangan Israel terhadap PBB terbukti berhasil. Sejak Desember 1949 dan seterusnya, Israel telah bertindak seakan-akan ibukotanya yang sah dan diakui adalah Yerusalem.
Baca juga: Jejak Israel: Selalu Melecehkan Resolusi PBB 242
(mhy)
Lihat Juga :