Kisah OKI Gagal Cegah Israel Menjadikan Al Aqsa Milik Yahudi
Rabu, 01 November 2023 - 09:35 WIB
loading...
A
A
A
Pada 17 Oktober tahun 1989 kelompok Yahudi Umana’ Haikal (penjaga haikal) meletakkan batu fondasi bagi pembangunan haikal ketiga dengan gerbang masjid al Aqsha.
"Meski kaum muslimin dan Palestina mengalami penderitaan akibat penjajahan dan kekerasan paksa namun mereka terus terjaga melindungi masjid al Aqsha," ujar Muhsin Muhammad Shaleh.
"Mereka selalu bangun dan bergerak membela kehormatan masjid al Aqsha dengan tubuh dan batu-batu intifadhah, setelah mereka kehilangan pertolongan Arab dan dunia Islam," lanjutnya.
Segala serangan permusuhan Zionis Yahudi, kata Muhsin Muhammad Shaleh, tidak pernah luput dari aksi perlawanan kaum muslimin meski hal itu berakibat pada pembantaian atas diri mereka sendiri.
Seperti yang terjadi pada 8 Oktober tahun 1990 yang mengakibatkan 34 orang gugur syahid dan 115 lainnya luka-luka, ketika kelompok Yahudi melakukan peletakan batu fondasi haikal di dalam masjid al Aqsha.
Hal yang sama terjadi juga pada 25 – 27 September 1996, saat kaum muslimin bangkit melakukan intifadah akibat pembukaan penggalian oleh Yahudi di bawah tembok barat masjid al Aqsha.
Aksi ini mengakibatkan 62 orang gugur syahid dan 1600 lainnya luka-luka. Aksi ini kemudian memicu campur tangan polisi Palestina di pihak orang-orang Palestina hingga mengakibatkan 14 serdadu Israel tewas dan 50 lainnya terluka.
Baca juga: Kisah Kesatria Eropa Membela Al-Aqsha di Masa Shalahuddin Al-Ayyubi
Resolusi PBB
Muhsin Muhammad Shaleh mengatakan puluhan resolusi internasional telah dikeluarkan dari PBB dan Dewan Keamanan PBB sendiri yang menolak penggabungan al Quds Timur ke dalam wilayah Israel, juga menolak terhadap langkah-langkah apapun baik materiil, administratif, ataupun undang-undang yang merubah realita al Quds, bila hal itu dilakukan maka dianggap tidak sah.
"Meski kaum muslimin dan Palestina mengalami penderitaan akibat penjajahan dan kekerasan paksa namun mereka terus terjaga melindungi masjid al Aqsha," ujar Muhsin Muhammad Shaleh.
"Mereka selalu bangun dan bergerak membela kehormatan masjid al Aqsha dengan tubuh dan batu-batu intifadhah, setelah mereka kehilangan pertolongan Arab dan dunia Islam," lanjutnya.
Segala serangan permusuhan Zionis Yahudi, kata Muhsin Muhammad Shaleh, tidak pernah luput dari aksi perlawanan kaum muslimin meski hal itu berakibat pada pembantaian atas diri mereka sendiri.
Seperti yang terjadi pada 8 Oktober tahun 1990 yang mengakibatkan 34 orang gugur syahid dan 115 lainnya luka-luka, ketika kelompok Yahudi melakukan peletakan batu fondasi haikal di dalam masjid al Aqsha.
Hal yang sama terjadi juga pada 25 – 27 September 1996, saat kaum muslimin bangkit melakukan intifadah akibat pembukaan penggalian oleh Yahudi di bawah tembok barat masjid al Aqsha.
Aksi ini mengakibatkan 62 orang gugur syahid dan 1600 lainnya luka-luka. Aksi ini kemudian memicu campur tangan polisi Palestina di pihak orang-orang Palestina hingga mengakibatkan 14 serdadu Israel tewas dan 50 lainnya terluka.
Baca juga: Kisah Kesatria Eropa Membela Al-Aqsha di Masa Shalahuddin Al-Ayyubi
Resolusi PBB
Muhsin Muhammad Shaleh mengatakan puluhan resolusi internasional telah dikeluarkan dari PBB dan Dewan Keamanan PBB sendiri yang menolak penggabungan al Quds Timur ke dalam wilayah Israel, juga menolak terhadap langkah-langkah apapun baik materiil, administratif, ataupun undang-undang yang merubah realita al Quds, bila hal itu dilakukan maka dianggap tidak sah.
Lihat Juga :