Kisah Hasan al-Banna: Tokoh Ikhwanul Muslimin Pembela Palestina
Minggu, 12 November 2023 - 10:25 WIB
loading...
A
A
A
Jama’ah Suluk Akhlaqi telah mempengaruhi kepribadian Hasan al-Banna, menjadikannya konsisten dalam menjalankan perintah Allah dan menjauhi laranganNya, yang ia terapkan dalam sikap dan perilakunya.
Pada umur 13 tahun dia menjadi sekretaris salah satu organisasi yang diketuai oleh Ahmad Syukri (dia kelak yang mendukung berdirinya Ikhwan Al-Muslimin).
Ketika meletus Revolusi 1919, dia mengikuti demonstrari barisan pelajar di dalam maupun di luar sekolah. Gerakan nasional tersebut telah memberikan kenangan dan pengalaman yang cukup berharga dan mengesankan. Sehingga sampai ia musuk di sebuah sekolah Mu’allimin, sekolah guru di Damanhur yang berjarak 13 mil dari barat daya Desa Mahmudiyah kenangan tersebut terus menggelora di dalam jiwanya dan tidak bisa dilupakan begitu saja.
Di tengah kesibukannya sebagai da’i al-Banna mampu menyelesaikan jenjang pendidikannya dengan mulus.
Baca juga: Netanyahu: Pemerintah Israel Dikendalikan Dewan Syura Ikhwanul Muslimin
Pada tahun 1927 ia lulus dari Fakultas Darul Islam, pada usia 21 tahun. Untuk membantu mekanisme perjuangan Ikhwan Al-Muslimin Hasan al-Banna menerbitkan sebuah mingguan, al-Muslimin, dan majalah al-Nazir, selain melalui ceramah dan pertemuan-pertemuan, melalui media tersebutlah ia menyuarakan semangat dan orientasi perjuangannya.
Setelah tersebar ke seluruh wilayah Mesir, Hasan al-Banna menghendaki Ikhwan al-Muslimin menjadi gerakan internasional. Karena itu, sejak 1940-an, gerakan Ikhwan al-Muslimin meluaskan wilayahnya ke seluruh dunia Arab. Bahkan ia mengirimkan pengutusannya ke berbagai negara Islam. Juga, tahun-tahun itu, khususnya 1948, Ikhwan al-Muslimin mulai terlibat persoalan politik Palestina.
Karena ketidaksetujuan pihak Barat atas keterlibatannya, melalui pemerintah Mesir, Ikhwan al-Muslimin diperintahkan untuk dibubarkan. Akhirnya, Hasan al-Banna terbunuh pada 12 Februari 1949 (14 Rabiustsani 1368 H) di Kairo.
Baca juga: Arab Saudi Luncurkan Kampanye Baru Melawan Ikhwanul Muslimin
Pada umur 13 tahun dia menjadi sekretaris salah satu organisasi yang diketuai oleh Ahmad Syukri (dia kelak yang mendukung berdirinya Ikhwan Al-Muslimin).
Ketika meletus Revolusi 1919, dia mengikuti demonstrari barisan pelajar di dalam maupun di luar sekolah. Gerakan nasional tersebut telah memberikan kenangan dan pengalaman yang cukup berharga dan mengesankan. Sehingga sampai ia musuk di sebuah sekolah Mu’allimin, sekolah guru di Damanhur yang berjarak 13 mil dari barat daya Desa Mahmudiyah kenangan tersebut terus menggelora di dalam jiwanya dan tidak bisa dilupakan begitu saja.
Di tengah kesibukannya sebagai da’i al-Banna mampu menyelesaikan jenjang pendidikannya dengan mulus.
Baca juga: Netanyahu: Pemerintah Israel Dikendalikan Dewan Syura Ikhwanul Muslimin
Pada tahun 1927 ia lulus dari Fakultas Darul Islam, pada usia 21 tahun. Untuk membantu mekanisme perjuangan Ikhwan Al-Muslimin Hasan al-Banna menerbitkan sebuah mingguan, al-Muslimin, dan majalah al-Nazir, selain melalui ceramah dan pertemuan-pertemuan, melalui media tersebutlah ia menyuarakan semangat dan orientasi perjuangannya.
Setelah tersebar ke seluruh wilayah Mesir, Hasan al-Banna menghendaki Ikhwan al-Muslimin menjadi gerakan internasional. Karena itu, sejak 1940-an, gerakan Ikhwan al-Muslimin meluaskan wilayahnya ke seluruh dunia Arab. Bahkan ia mengirimkan pengutusannya ke berbagai negara Islam. Juga, tahun-tahun itu, khususnya 1948, Ikhwan al-Muslimin mulai terlibat persoalan politik Palestina.
Karena ketidaksetujuan pihak Barat atas keterlibatannya, melalui pemerintah Mesir, Ikhwan al-Muslimin diperintahkan untuk dibubarkan. Akhirnya, Hasan al-Banna terbunuh pada 12 Februari 1949 (14 Rabiustsani 1368 H) di Kairo.
Baca juga: Arab Saudi Luncurkan Kampanye Baru Melawan Ikhwanul Muslimin
(mhy)
Lihat Juga :