Abu Ubaidah, Komandan Perang yang Menaklukkan Yerusalem di Era Khalifah Umar bin Khattab
Rabu, 15 November 2023 - 05:15 WIB
loading...
A
A
A
Kota Baitul Maqdis pun diserahkan dengan syarat yang menerima Khalifah Umar bin Khatab sendiri.
Pada tahun 637 setelah pengepungan selama 4 bulan terhadap Yerusalem, pasukan Islam akhirnya berhasil mengambil Alih kota tersebut.
Ketika itu, Umar memberikan kunci untuk memasuki kota oleh pendeta Sophronius dan diundang untuk salat di dalam gereja (Chruch of the Holy Sepulchre). Akan tetapi, Umar memilih untuk salat di tempat lain agar tidak membahayakan gereja.
Sekitar 55 tahun kemudian, Masjid Umar didirikan di tempat ia salat. Setelah jatuhnya kota Baitul Maqdis, berarti seluruh daerah Syria jatuh ke tangan Islam. Pertempuran mengalahkan Syria itu memakan waktu kurang lebih 6 tahun.
Ikrar Khalifah
Pada saat mengambil alih Yerusalem, Khalifah Umar bin Khatab mengeluarkan ikrarnya yang masyhur. Kepada warga ia tetapkan:
''Demi Allah!, jaminan keamanan bagi diri mereka, kekayaan, gereja, dan salib mereka, bagi yang sakit, bagi yang sehat, dan seluruh masyarakat beragama di Kota Suci itu; bahwa gereja-gereja mereka tidak akan diduduki atau dihancurkan, takkan ada satu barang pun diambil dari mereka atau kediaman mereka, atau dari salib-salib maupun milik penghuni kota, bahwa para warga tidak akan dipaksa meninggalkan agama mereka, bahwa tak seorang pun akan dicederai. Dan bahwa, tak seorang Yahudi pun akan menghuni Aelia.''
Baca juga: Nasehat Abu Ubaidah bin Jarrah tentang Barometer Kemuliaan Seorang
Menurut ''Al-Quds Document'' yang diterbitkan Organisasi Konperensi Islam (OKI), janji Umar bahwa ''tak seorang Yahudi pun menjadi penghuni Aelia, Jerusalem'' diberikan atas permintaan Saphronius sendiri.
Ini mengingat pengkhianatan orang Yahudi, membantu penguasa Persia yang membawa lari Salib (tetapi berhasil direbut kembali oleh Heraclius) di awal abad ke-7 Masehi. Namun Umar menolak permintaan uskup tersebut. Ia tetap memperbolehkan, orang-orang Yahudi tetap diberi hak memasuki dan tinggal di Jerusalem.
Pada tahun 637 setelah pengepungan selama 4 bulan terhadap Yerusalem, pasukan Islam akhirnya berhasil mengambil Alih kota tersebut.
Ketika itu, Umar memberikan kunci untuk memasuki kota oleh pendeta Sophronius dan diundang untuk salat di dalam gereja (Chruch of the Holy Sepulchre). Akan tetapi, Umar memilih untuk salat di tempat lain agar tidak membahayakan gereja.
Sekitar 55 tahun kemudian, Masjid Umar didirikan di tempat ia salat. Setelah jatuhnya kota Baitul Maqdis, berarti seluruh daerah Syria jatuh ke tangan Islam. Pertempuran mengalahkan Syria itu memakan waktu kurang lebih 6 tahun.
Ikrar Khalifah
Pada saat mengambil alih Yerusalem, Khalifah Umar bin Khatab mengeluarkan ikrarnya yang masyhur. Kepada warga ia tetapkan:
''Demi Allah!, jaminan keamanan bagi diri mereka, kekayaan, gereja, dan salib mereka, bagi yang sakit, bagi yang sehat, dan seluruh masyarakat beragama di Kota Suci itu; bahwa gereja-gereja mereka tidak akan diduduki atau dihancurkan, takkan ada satu barang pun diambil dari mereka atau kediaman mereka, atau dari salib-salib maupun milik penghuni kota, bahwa para warga tidak akan dipaksa meninggalkan agama mereka, bahwa tak seorang pun akan dicederai. Dan bahwa, tak seorang Yahudi pun akan menghuni Aelia.''
Baca juga: Nasehat Abu Ubaidah bin Jarrah tentang Barometer Kemuliaan Seorang
Menurut ''Al-Quds Document'' yang diterbitkan Organisasi Konperensi Islam (OKI), janji Umar bahwa ''tak seorang Yahudi pun menjadi penghuni Aelia, Jerusalem'' diberikan atas permintaan Saphronius sendiri.
Ini mengingat pengkhianatan orang Yahudi, membantu penguasa Persia yang membawa lari Salib (tetapi berhasil direbut kembali oleh Heraclius) di awal abad ke-7 Masehi. Namun Umar menolak permintaan uskup tersebut. Ia tetap memperbolehkan, orang-orang Yahudi tetap diberi hak memasuki dan tinggal di Jerusalem.
Lihat Juga :